
"Carikan aku yang masih muda!" jawab Saoda.
"Ya, baiklah."
Tuo menyentuh kembali kepala istrinya, tapi Saoda malah menghalau tangannya.
"Jangan sentuh aku!" pintahnya.
Ia masih membelakangi suaminya yang kini hanya mampu terdiam.
Ada apa yang terjadi pada istrinya itu. Tak biasanya ia bersikap seperti ini.
Tuo bangkit dari tempat tidur dan berdiri. Ia menatap sejenak istrinya yang masih membelakanginya.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga diri kau di rumah. Aku akan berusaha untuk mencari mangga muda untuk kau."
Setelah mengatakan hal tersebut Tuo kini diam diam menanti jawaban dar istrinya namun, tak ada jawaban yang ia dapatkan dari istrinya itu.
"Aku pergi dulu," ujarnya menutup kata lalu melangkah pergi meninggalkan rumagan kamar meninggalkan Saoda yang masih diam di atas tempat tidur.
...****************...
"Bapak!!!" teriak Tuo yang berada di atas bukit meneriaki puang Dodi yang tengah mengipas tubuhnya dengan topi yang ia gunakan untuk melindungi kepalanya dari sengat matahari.
Puang Dodi menoleh.
"Ada apa?!!"
"Dimana ada pohon mangga yang berbuah?!!"
"Apa?!!"
"Kemari lah!!!"
Puang Dodi mengusap kepala induk kerbau lalu segera melangkah menghampiri Tuo yang terlihat menopang pinggang dengan wajah yang terlihat memerah dan berkeringat. Sepertinya dia baru saja telah berlari untuk bisa sampai di sini.
Puang Dodi duduk di bawah pohon besar dimana di bawah pohon itu ia selalu duduk untuk beristirahat.
"Ada apa?"
"Pak, dimana ada pohon mangga yang berbuah?"
"Pohon mangga yang berbuah? Apa kau sehat? Mana ada pohon mangga yang berbuah di musim seperti ini. Lagi pula musim mangga masih lama."
"Bukan aku yang ingin, tapi Saoda."
Puang Dodi yang tengah asik mengipas tubuhnya itu langsung menghentikan gerakan kipasnya dan menoleh menatap Tuo.
"Siapa yang ingin makan mangga?"
"Saoda."
"Saoda?"
Tuo mengangguk lalu ikut duduk di samping Puang Dodi yang masih diam.
__ADS_1
"Hari ini Saoda agak sedikit aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Iya aneh. Tadi aku melihat Saoda terlihat pucat. Dia nyaris pingsan karena pusing dan dia juga mual."
"Dia kadang marah dan tiba-tiba saja menangis. Hal ini yang membuat aku heran. Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Saoda. Tak biasanya Saoda seperti itu."
"Apa Indo aku setelah menikah memang mengalami perubahan perilaku seperti itu kerena tak seperti biasanya Saoda seperti itu."
Puang Dodi menghela nafas. Ia tersenyum dan menatap ke arah Tuo.
"Aku tahu apa yang membuat Saoda jadi seperti itu."
"Apa?"
Puang Dodi menyentuh pundak Tuo sambil tersenyum membuat Tuo keherangan.
"Selamat, Nak. Sepertinya Saoda hamil."
"Hamil?"
"Iya karena Indo kau dulu juga seperti itu. Saat mengandung kau dulu, Indo kau sangat sensitif pada sesuatu hal sehingga membuatnya marah."
"Saoda juga tadi bilang kalau dia tidak suka dengan bau air sumur."
"Yah, Nak. Terkadang hal itu dipengaruhi oleh janin yang dikandungnya, tapi untuk lebih memastikannya mungkin kau perlu bertanya kapan dia mengalami menstruasi."
"Jika waktu menstruasinya lewat mungkin dia benar-benar sedang mengandung."
"Baiklah, aku akan menanyakan hal ini kepada Saoda."
"Iya lakukanlah, tapi kau jangan terlalu berharap lebih dulu karena terlalu berharap dan ujung-ujungnya tidak mendapatkan hasil yang sesuai harapan maka itu yang dapat menyebabkan seseorang bisa jadi kecewa."
"Aku telah siap menerima apa pun hasilnya nanti. Kalau begitu dimana aku bisa menemukan buah mangga untuk Saoda?"
Puang Dodi menghela nafas panjang. Ia berpikir sejenak.
"Kalau kau mencari pohon mangga yang berbuah mungkin kau tidak akan menemukannya.
"Lalu aku harus mencari dimana untuk mendapatkannya?"
"Kalau kau mencari di pasar mungkin kau akan dapat tapi pasar sudah tutup di jam seperti ini. Mungkin kau bisa pergi ke rumah puang si penjual buah-buahan itu mungkin dia punya beberapa buah mangga yang ia jual," sarannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi mencari buah mengga untuk Saoda karena Saoda tidak ingin melihat aku jika aku tidak membawakan buah mangga untuknya."
"Yah, pergi lah, Nak. Hati-hati di jalan!"
Tuo mengangguk lalu segera melangkah pergi meninggalkan Puang Dodi yang terlihat diam menatap kepergian Tuo sambil tersenyum. Tal lama lagi satu anggota baru akan datang di hidup dan keluarganya.
Tak lama lagi rumah yang dulu penuh kesunyian itu akan dihiasi oleh tangisan dan tawa anak kecil.
...****************...
Tuo melangkah dengan senyuman yang cukup lebar dan sorot mata bahagia sambil menjinjing sekantong buah mangga muda yang telah ia beli pada salah satu pedangan yang ada di desa ini dan selalu menjual buah-buahan di pasar.
__ADS_1
Untung saja Puang pedagang itu memiliki beberapa buah mangga sehingga Tuo bisa pulang dengan buah mangga yang masih muda seperti apa yang Saoda inginkan.
Tuo memelankan langkahnya menatap Saoda yang terlihat sedang berdiri sambil mengerakkan beberapa dahan seakan sedang mencari sesuatu pada pohon jeruk yang ada di samping rumah.
"Saoda!"
Saoda menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh menatap suaminya yang kini sedang diam menatapnya.
"Apa yang kau lakukan di situ?"
"Aku ingin makan jeruk."
"Aku sudah bawa mangga muda untuk kau," ujarnya sambil mengangkat sekantong mangga.
Beberapa menit kemudian..
Tuo mengupas sebiji buah mangga muda dengan pisau sementara kini Saoda terlihat tersenyum menanti Tuo mengupas buah mangga.
"Ini." Julurnya pada sepotong mangga yang telah ia potong dengan ukuran yang lebih kecil.
Saoda tersenyum dan meraih buah mangga yang disodorkan oleh Tuo.
Tuo tersenyum bahagia setelah melihat Saoda yang langsung melahap buah mangga yang Tuo sodorkan dengan lahap.
Senyum Tuo perlahan lenyap dari bibirnya dengan perlahan. Ia teringat akan sesuatu dan mungkin ia harus bertanya.
"Saoda!"
"Ya?"
"Em, aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Kapan kau terakhir menstruasi?"
Saoda yang mendengar hal itu langsung dibuat terdiam.
"Sudah lama. Aku juga tidak mengingat tanggalnya, tapi sepertinya bulan ini aku belum mendapatkannya."
Tuo tertunduk lalu tersenyum bahagia. Apakah itu berarti Saoda benar-benar sedang mengandung. Jadi benar yang dikatakan puang Dodi jika Saoda benar-benar mengandung, tapi sepertinya ia tak perlu memberitahukannya kepada Saoda.
"Memangnya ada apa?"
"Tidak aku hanya bertanya. Bagaimana apa kau suka dengan mangga ini?"
Saoda mengangguk seperti anak kecil sambil sesekali menyuapi mulutnya dengan buah mangga.
"Saoda!"
"Em?"
"Kalau kau ingin makan sesuatu maka kau meminta dan memberitahukannya kepada aku."
Saoda tersenyum lalu mengangguk membuat Tuo mengelus pipi istrinya.
__ADS_1