Parakang

Parakang
88. Kemana Saoda?


__ADS_3

Hari kini semakin gelap. Warna senja di langit itu terlihat mewarnai langit saat matahari mulai terbenam di sana. Burung-burung juga terlihat berterbangan menuju ke sarannya masing-masing.


Tuo kini melangkah mondar-mandir tak jelas di depan pintu dan sesekali ia menoleh menatap ke arah halaman rumah berharap ia bisa melihat kepulangan Saoda yang telah pergi sejak tadi dan tak kunjung kembali.


Entah apa yang terjadi di sana. Ternyata firasat buruk yang ia rasakan tadi itu sepertinya bukan firasat yang biasa saja tapi ini sepertinya merupakan sebuah peringatan.


Tak berselang lama langkah Tuo yang sejak tadi mondar-mandir itu kini menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok Puang Dodi yang kini sedang mencuci kedua kakinya di anakan tangga paling bawah.


Tuo melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni anakan tangga menghampiri Puang Dodi.


"Bapak!"


Tuo menoleh menatap serius di sekitar Puang Dodi berusaha untuk mencari sosok Saoda yang mungkin saja pergi untuk menemui puang Dodi dan itu yang menyebabkan tidak kunjung pulang ke rumah.


"Ada apa?"


"Dimana Saoda?"


Puang Dodi mengernyit bingung.


"Loh? Mengapa kau bertanya dengan aku? Bukankah Saoda ada bersama kau di rumah."


Kedua mata Tuo membulat sempurna. Ia merasa begitu sangat terkejut setelah mendengar hal tersebut.


"Kenapa kau bertanya dengan aku? Memangnya dimana Saods?" tanya pusnh Dodi yang kini juga mulai merasa panik.


"Saoda tadi pergi ke pasar. Dia bilang dia ingin membeli bumbu dapur tapi sampai sekarang dia belum juga kembali ke rumah. Aku pikir Saoda pergi menemui engkau."


"Tidak, Nak. Tidak ada Saoda. Saat mengembala kerbau aku tidak melihat Saoda datang."


"Lalu sekarang bagaimana ini, pak? Saoda belum juga pulang ke rumah."


Puang Dodi kini menghela nafas. Ia kini diam memikirkan sesuatu. Entah dimana Saoda kini berada.


"Bagaimana ini, pak? Aku tidak ingin ada yang terjadi sesuatu yang buruk kepada Saoda."


"Tenang lah, Nak!"


"Bagaimana aku bisa tenang, pak, jika hari sudah semakin gelap sementara Saoda sampai sekarang tak pulang ke rumah."


"Begini saja, Nak. Aku akan pergi mencari Saoda di pasar. Mungkin saja dia pingsan di sana karena telah melihat pelaku pembakaran itu."


"Lalu bagaimana dengan aku?"

__ADS_1


"Kau jaga rumah saja. Mana tahu Saoda pulang ke rumah."


"Tapi aku ingin ikut mencari Saoda."


"Aku bilang kau di sini saja. Biarkan aku yang pergi untuk mencari Saoda," ujarnya lalu segera melangkah pergi meninggalkan Tuo yang kini hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri.


Tuo mendudukkan dirinya di anakan tangga dengan wajahnya yang terlihat cemas. Ia meremas jejari tangannya yang berkeringat dingin itu. Entah dimana Saoda kini berada dan ini membuat Tuo merasa sangat cemas. Ia takut jika ada yang menyakiti istrinya itu.


"Saoda, kau dimana sekarang? Aku sudah bilang untuk mengajak aku pergi. Aku akan bisa menjaga kau."


"Sekarang aku bahkan tidak tahu dimana kamu sekarang."


"Saoda, aku mohon kau kembali dengan cepat! Aku benar-benar sangat khawatir sekarang."


...****************...


Puang Dodi kini melangkahkan kakinya sambil membawa obor yang menyala menjadikan alat bantu penerang dimana kini puang Dodi masih melangkah menyusuri jalan yang begitu sepi serta ia juga melewati hutan lebat.


Suara gonggongan anjing terdengar membuat Puang Dodi sesekali menoleh menatap ke arah pepohonan dimana suara burung hantu terdengar mengiringi perjalanan puang Dodi.


Butuh waktu lama agar ia bisa mencapai pasar. Biasanya memakan waktu empat puluh menit jika berjalan kaki.


Suara yang berasal dari semak-semak itu terdengar membuat Puang Dodi segera menoleh menatap ke arah semak-semak itu.


Puang Dodi meneguk salivanya. Ia tetap serius menatap ke arah semak-semak itu hingga tak berselang lama dua ekor anjing berlarian keluar dari semak-semak membuat puang Dodi segera menghembuskan nafas legah.


Puang Dodi kini kembali melanjutkan langkahnya menuju jalan ke arah pasar hingga langkahnya terhenti menatap ke arah keranjang yang nampak tergeletak di atas tanah.


Kedua mata Puang Dodi kini membulat kaget. Ia sangat kenal dengan keranjang belanjaan yang ia buat sendiri untuk Saoda.


Puang Dodi dengan cepat berlari menghampiri keranjang itu dan menyentuh beberapa plastik berisi belanjaan yang sepertinya Saoda yang telah membelinya.


Puang Dodi menyentuhnya dan menatapnya dengan serius. Entah bagaimana bisa keranjang belanjaan Saoda bida ada di tempat ini.


Jika ada keranjang Saoda di sini maka itu berarti ada Saoda di sekitar sini. Puang Dodi segera bangkit lalu ia menoleh ke segala arah beruaha untuk mencari sosok Saoda.


"Saodaa!!!" teriak puang Dodi yang masih menoleh ke segala arah berusaha untuk mencari sosok Saoda yang tak kunjung ia lihat.


"Saodaaa!!!"


"Kau dimana, Nak!!!"


"Saoda!!! Ini Puang Dodi datang untuk mencari kau, Nak!!!"

__ADS_1


"Saoda!!!" teriaknya lagi.


Puang Dodi menghentikan langkahnya sambil menopang pinggangnya. Ia menoleh menatap ke arah hutan yang begitu gelap. Tak mungkin ada Saoda di sana.


Puang Dodi menghela nafas. Mungkin saja Saoda sudah pulang ke rumah dan apa lagi sekarang sepertinya malam telah larut. Saoda sudah jelas jika telah pulang ke rumah.


Puang Dodi kini meraih hasil belanjaan Saoda dan memasukkannya ke dalam keranjang sebelum ia bangkit dan melangkah pulang ke rumah.


Kini di dalam rumah Tuo sesekali menoleh ke arah luar jendela berusaha untuk memastikan dan bisa melihat jika Saoda pulang ke rumah.


Sudah seja tadi ia mengeluh cemas dan memikirkan dimana perginya Saoda sekaligus dimana keberadaan Saoda.


Tuo yang sejak tadi melangkah tak jelas itu kini menghentikan langkahnya setelah ia melihat sosok Puang Dodi yang kini melangkah ke arah rumah sambil membawa sebuah keranjang di tangannya.


Keranjang itu milik Saoda dan itu berati Puang Dodi telah menemukan sosok Saoda yang begitu sangat ia rindui.


Tuo dengan cepat berlari keluar dari rumah dan melangkah turun menuruni anakan tangga menghampiri Puang Dodi yang kini sedang menatapnya begitu serius.


"Bapak sudah pulang? Dimana Saoda?"


Mendengar hal itu membuat Puang Dodi mengernyut bingung. Apa itu berarti Saoda belum ada di rumah.


"Apa dia belum pulang?"


Senyum Tuo perlahan lenyap dari bibirnya.


"Apa yang Bapak katakan? Apa Bapak belum menemukannya?"


"Tidak, Nak. Bapak belum menemukan Saoda. Bapak hanya menemukan keranjang dan belanjaannya. Bapak pikir Saoda sudah ada di rumah."


"Tidak, pak. Saoda belum pulang juga. Tapi dimana Bapak menemukan keranjang Saoda?"


"Keranjang ini, aku menemukannya di jalan pinggir hutan."


"Pinggir hutan?" kaget Tuo.


"Kau tidak usah khawatir, Nak! Saoda tak mungkin ada di dalam hutan."


"Tapi-"


"Kau tenang saja, Nak. Aku akan pergi dan meminta para warga untuk mencari Saoda."


Tuo kini mengangguk membuat Puang Dodi kini melangkah menaiki anakan tangga meninggalkan Tuo yang kini masih terdiam.

__ADS_1


__ADS_2