Parakang

Parakang
105. Hutan Belantara


__ADS_3

Saoda yakin jika lututnya pasti sudah berdarah. Rasanya berdenyut tanpa henti. Saoda menoleh menatap anjing-anjing yang masih berlari di belakang sana dan mulai mendekatinya.


"Aaaah!!!"


Saoda mengerang sakit. Ia berusaha untuk mengumpulkan semua kekuatannya agar bisa bangkit dari tanah. Kedua kakinya kini gemetar namun, itu bukan menjadikannya alasan untuk menyerah.


Saoda harus bisa lari dari kejaran anjing-anjing yang siap menerkamnya di detik ini juga. Saoda berlari dengan langkah yang pincang sembari ia sesekali menoleh menatap ke belakang.


Tak berselang lama Saoda menghentikan langkahnya menatap hutan belantara yang begitu gelap di dalam sana dan hal itu membuat Saoda merasa takut.


Saoda tak pernah melihat hutan yang segelap itu seumur hidupnya, ini terlalu menyeramkan.


Gong!!!


Gong!!!


Gong!!!


Suara gonggongan anjing-anjing itu kembali terdengar membuat Saoda kembali menoleh.


Harus apa ia sekarang? Jika ia tidak lari masuk ke dalam hutan maka ia akan digigit oleh anjing-anjing itu dan membuatnya ditangkap oleh warga desa.


Tak ada keputusan dan cara lain. Saoda harus masuk ke dalam sana.


Saoda berbalik badan dan berlari hingga anjing-anjing dan Saoda secara bersamaan melompat.


Bruak!!!


Tubuh Saoda terhempas ke permukaan tanah yang terasa kering berumput lebat. Tubuhnya terlihat tersungkur bertiarap di atas rerumputan. Dadanya terasa sesak setelah terbentur.


Saoda yang sempat meringis sakit itu langsung berbalik setelah menyadari jika masih ada dua ekor anjing yang menggonggong di depan sana.


Saoda mengernyit bingung setelah melihat dua ekor anjing yang tidak melompat ke arahnya padahal jelas-jelas Saoda ada di depannya walau pun kini Saoda telah berada di dalam hutan belantara.

__ADS_1


Saoda diam sejenak dengan wajahnya yang masih bingung. Apa mungkin ini semua karena Saoda yang kini berada di dalam hutan belantara sedangkan dua ekor anjing itu terlihat menggonggong di luar antara batas desa dan hutan belantara.


Dada Saoda kembang kempis karena telah kehabisan nafas setelah lari-larian dengan jarak yang tidak sedikit. Saoda menunduk dan menyentuh bagian tubuhnya yang kini juga baru membuatnya sadar jika pakaiannya telah basah karena keringat.


Tak berselang dua ekor anjing itu terdiam dan keduanya melangkah pergi meninggalkan Saoda yang masih terduduk.


Anjing itu telah pergi seakan sudah tak melihatnya lagi atau bahkan bisa dikatakan jika anjing-anjing itu seakan tidak melihat keberadaanya.


"Syukur lah, anjing itu telah pergi."


Saoda menghela nafas lega. Ia segera bangkit dari duduknya dan membersihkan pakaiannya yang terasa kotor.


Gerakan tangan Saoda yang mengusap pakaiannya itu langsung terhenti setelah ia mendengar suara burung hantu dan kalelawar yang berbunyi riuh seakan sedang memperebutkan buah-buahan yang ada di dalam hutan ini.


Syuuuuu


Kedua mata Saoda membulat ketika angin bertiup kencang di belakangnya seakan baru saja telah melintas di belakangnya.


Saoda langsung menoleh menatap daerah rerumputan dan pepohonan yang terlihat sunyi dan sepi, tak ada seorang pun yang ada ada.


Saoda meneguk salivanya membuat bibirnya yang pucat itu sedikit gemetar karena merasa ketakutan.


Tak seorang pun di sana. Lalu siapa yang baru saja lewat di belakangnya jika tidak ada siapa pun di sana. Saoda mengusap lehernya yang terasa dingin itu lalu mendongak ke segala arah berusaha untuk mencari seseorang.


"Siapa itu?" bisik Saoda dengan sura kecilnya.


Saoda menggeliat takut. Mengapa ia harus setakut ini. Harusnya Saoda tahu jika kejadian ini sudah sepatunya terjadi karena Saoda tahu tempat ini adalah hutan belantara yang konon katanya di penuhi oleh para penunggu yang jahat.


Saoda tak tahu apa hal itu memang benar atau hanya gosip warga desa saja yang berusaha untuk melebih-lebihkan agar tidak ada seorang pun yang akan datang ke hutan ini.


Saoda melangkahkan kakinya dengan penuh hati-hati melewati rerumputan liar dan panjangnya sampai ke lutut.


Saoda yang mendongak itu sempat memutar tubuhnya sembaru terus melihat dan memperhatikan kondisi hutan yang benar-benar gelap.

__ADS_1


Tak berselang lama langkah Saoda kini terhenti. Saoda tak tahu harus kemana lagi sekarang. Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan seakarang ia telah tiba di dalam hutan belantara.


Harus kemana ia sedangkan ia tak dimana kah letak rumah puang Banga. Saoda kini diam memikirkan kan dan berusaha untuk mengingat apa yang telah disampaikan Puang Banga kepadanya dulu saat pertemuan mereka yang cukup lama itu.


"Kau boleh berpikir terlebih dahulu. Jika kau ingin menjadi parakang maka datang lah kau ke rumah aku yang ada di tengah hutan belantara."


"Hutan belantara?" tanya Saoda yang begitu terkejut.


"Hutan belantara," ujar Saoda yang kini masih menoleh menatap ke sekitarnya.


"Sekarang aku sudah sampai di hutan belantara. Dari sini aku juga bisa melihat perbatasan antara hutan dan desa yang di bagian sini sudah tidak terdapat rumah lagi."


"Sepertinya para warga di desa ini agak takut untuk membangun rumah di pinggiran hutan belantara yang sepertinya jarang sekali dimasuki oleh warga desa."


"Sekarang apa yang harus Saoda lakukan?"


"Jika kau telah menemui hutan belantara maka cari lah pohon yang yang paling besar dan sebut nama aku tiga kali maka kau akan mendapat jalan menuju rumahku."


"Pohon besar," ujar Saoda dengan nada kecilnya setelah berhasil mengingat apa yang Puang Banga katakan saat itu.


"Pohon besar? Dimana aku bisa menemukan pohon besar?" tanya Saoda pada dirinya sendiri.


Ia menoleh ke kiri dan kanan namun, tak ada satu pun pohon yang paling besar. Semua pohon yang tumbuh di dalam hutan ini memilik ukuran yang sama, jadi harus bagamana sekarang.


Saoda bahkan menjadi cemas. Sepertinya ia terlalu lama di tempat yang sejak tadi telah membuat jantungnya berdetak kencang dan tak berhasil berdetak seperti biasanya.


Saoda cemas karena ia takut jika nanti Tuo akan terbagun dari tidurnya dan mendapati tempat tidurnya yang telah kosong, tak ada dirinya di sana.


Saoda menghela nafas panjang dan dengan cepat melangkah menulusuri pinggiran hutan berusaha untuk mendaktkan pohon yang ukuranya paling besar. Saoda tak mau jika ia terlalu lama di dalam hutan ini.


Menyerah dan memutuskan untuk keluar dari hutan belantara ini juga percuma. Di luar sana juga pasti ada anjing-anjing yang akan kembali siap untuk mengejarnya.


Gerakan mata Saoda yang menatap ke segala arah itu kini terhenti setelah melihat sosok pohon beringin yang berdiri paling besar dan tinggi ari pada pohon yang lainnya.

__ADS_1


"Apa ini pohon yang dimaksud Puang Banga?"


__ADS_2