
Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang?
Saoda yang terdiam sejenak itu kini tersenyum kecil lalu segera berlari menaiki anakan tangga. Ia kini terdiam menatap area ruangan rumah yang terlihat masih berantakan walaupun sudah tak seberantakan seperti tadi dimana ada banyak pakaian yang berserakan.
Saoda menoleh ke arah dan kanan berusaha untuk mencari sapu. Seingatnya kemarin puang Dodi sempat menyapu ruangan rumah saat ia baru tiba di rumah ini.
Entah dimana puang Dodi meletakan sapu itu. Saoda yang sejak tadi menoleh kini gerakan kepalanya terhenti menatap sapu yang tergantung di dinding rumah.
Saoda tertawa kecil. Ia segera berlari meraih sapu itu. Bagaimana bisa ia tidak melihat sapu yang jelas-jelas berada di depannya sendiri.
Saoda menyapu membersihkan lantai rumah yang terasa berdebu membuat debu yang berada di lantai itu berterbangan menggangu indra pernafasan Saoda. Saoda sempat terbatuk-batuk karena desakan debu yang mengganggunya.
Saoda menyusun kursi, membersihkan meja dan kursi yang juga ikut berdebu. Saoda mengusap dahinya yang berkeringat itu. Ia menopang pinggangnya sejenak sembari menatap ruangan tamu yang sudah agak bersih.
Saoda juga membereskan karung-karung putih yang berserakan di sudut ruangan. Ia melipat dan meletakkannya menjadi satu di sudut ruangan agar tidak terlihat berantakan.
Saoda beralih ke bagian dapur. Ia memunguti beberapa peralatan makan yang kotor itu dan meletakkannya ke dalam baskom.
Ia kembali melangkah turun menuruni anakan tangga dan kembali berhadapan dengan sumur. Ia menimba air dan meletakkannya pada ember yang telah ada di samping sumur.
Ia duduk di sebuah batu lalu mengusap peralatan makan yang kotor itu dengan sabuk kelapa yang mampu untuk membersihkan kotoran yang menempel pada permukaan alat makan itu.
Saoda bersenandung. Ia cukup senang melakukan hal ini. Setelahnya ia menyusun peralatan makan yang telah bersih itu ke tempat rak piring yang telah berkarat karena telah dimakan waktu.
Saoda juga menyapu bagian dapur yang lantainya terbuat dari bambu yang sengaja digunakan agar ketika ada makanan atau sampah yang jatuh bisa langsung ke bawah tanah tanpa perlu menyapunya terlalu sering.
Saoda menghela nafas lega. Ia menoleh menatap permukaan rumah yang telah bersih. Peralatan rumah yang telah dicuci dan disusun ke rak piring, area ruangan tamu yang telah ia sapu dan pakaian yang kini telah ia jemur di bawah sana.
"Apa lagi, ya yang harus aku lakukan?" tanya Saoda sendiri yang kini menatap ke segala arah.
Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang?
Ia menoleh menatap ke segala arah hingga tatapannya kini menatap ke arah panci yang telah menghitam area bawahnya karena terlalu sering dipakai.
__ADS_1
Saoda membuka penutupnya dan mendapati nasi yang masih lengkap tanpa ada hasil sendok di sana. Sepertinya puang Dodi dan Tuo belum makan sebelum ia pergi mengembala kerbau-kerbaunya.
Saoda bisa melihat tak ada lauk di sini. Hanya ada sebuah sepanci nasi.
Kedua matanya kini merambah ke segala arah. Ia mencari sesuatu untuk dimasak dan mungkin saja bisa menjadi lauk pagi ini setelah puang Dodi dan Tuo pulang nanti.
Saoda membuka lemari kayu yang tadi telah ia bersihkan dari debu yang menggangu indra perabaan dan juga indra pernafasannya.
Saoda menunduk menatap isi lemari yang terlihat kini hanya tersedia beberapa telur ayam yang berada di dalam wadah kecil.
Saoda tersenyum lalu segera meraihnya. Saoda tak pandai dalam memasak tapi Saoda sering melihat sosok almarhum Indonya yang sering memasak di dapur.
Dengan bekak ingatan dan kenangan yang ia masih ia ingat. Ia mulai memasukkan beberapa kayu ke dalam tempat memasak. Menyalakan api dengan penuh hati-hati walau hal itu tidak mudah untuk ia lakukan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Saoda terbatuk-batuk saat asap putih membumbung memenuhi langit-langit dapur dan keluar dari celah atap yang bocor.
"Api ayo lah menyala! Aku ini sudah lelah," ujarnya berterus terang, ini adalah ungkapan hati seorang gadis kecil yang untuk pertama kalinya memasak.
...****************...
Buk!
Buk!
Buk!
Suara pukulan batu yang menghantam permukaan kayu yang menjadi tempat pusat ikatan tali pada kerbau-kerbaunya yang kini sedang merumput di padang hijau yang ditumbuhi dengan subur sehingga para kerbau-kerbau ini tidak akan kelaparan.
Ini lah juga alasan mengapa kerbau-kerbau milik Puang Dodi memiliki tubuh yang besar-besar.
Puang Dodi melangkah ke arah bukit dengan tatapannya yang kini menatap ke segala arah berusaha untuk mencari sosok putranya.
__ADS_1
Hingga tak berselang lama tatapannya yang sejak tadi mencari sosok Tuo kini terhenti menatap Tuo yang kini sedang duduk di rerumputan tepat di bawah pohon besar sambil mengelus kepala anak kerbau yang baru lahir seminggu yang lalu.
"Tuo!!!" teriak puang Dodi, tapi Tuo tak menoleh, sepertinya putranya itu tak mendengar suara teriakannya.
"Tuo!!!" teriak puang Dodi sekali lagi membuat Tuo langsung menoleh.
"Ada apa?!!"
"Apa kau tidak mau pulang?!! Kerbau-kerbau di sini akan kekenyangan sementara kita akan kelaparan. Ayo pulang dan makan!!!" teriaknya.
"Iya, tunggu sebentar!!!" teriak Tuo.
Mendengar hal itu puang Dodi langsung menghela nafas panjang sambil menopang pinggangnya dengan wajah lelah.
Ia langsung duduk sambil mencabut beberapa rerumputan yang ia gapai. Yah, sepertinya ini akan lama. Apalagi Puang Dodi tahu apa yang akan Tuo lakukan sebelum pulang ke rumah, yakni...
Puang Dodi menoleh menatap Tuo yang kini terlihat sedang tesenyum sambil mengusap kepala kerbaunya dan ia terlihat sedang berbicara. Yah, jangan heran! Tuo punya kebiasaan yang unik yakni berbicara dengan kerbau.
"Ah, mulai lagi dia. Sepertinya anak itu sudah gila gara-gara tidak punya teman," cerocos puang Dodi sambil menggeleng lelah.
Ada-ada saja yang putranya itu lakukan.
Tuo tersenyum. Ia suka permukaan bulu anak kerbau yang begitu lembut. Berbeda jauh dengan bulu kerbau yang sudah tumbuh dewasa yang akan terasa begitu kasar saat disentuh.
"Aku mau pulang dulu ke rumah. Kau jangan nakal, ya di sini!"
Tuo menoleh menatap sungai kecil yang berada tak jauh dari poadang rumput ini.
"Kau lihat di sana? Ya, kau jangan ke sana, ya! Nanti kau bisa tenggelam kalau kau ke sana."
Puang Dodi menghembuskan udaranya dengan kasar setelah sejak tadi menatap putranya itu yang kini terlihat sedang menunjuk-nunjuk ke arah sungai.
"Aku sudah mengembala kerbau, tapi tidak pernah bicara dengan kerbau."
__ADS_1