Parakang

Parakang
22. Pulang


__ADS_3

Raina menghempaskan tubuhnya tepat di pinggiran sungai dengan perasaan sedihnya. Rasanya ia tak kuat lagi untuk berjalan. Hatinya yang sakit ini membuatnya tak mampu untuk berjalan lagi. Ia menggenggam rerumputan yang basah dan meremasnya dengan kuat.


"Aaaaaa!!!" teriak Raina.


Air matanya menetes membasahi rumput membuatnya kini menangis sesenggukan dengan perasan sakitnya. Bagaimana caranya ia bisa menyelamatkan nyawa Erni? Raina tak mungkin tinggal diam dan membiarkan semua berlalu begitu saja.


Raina mengusap pipinya yang basah itu lalu segera bangkit dari rerumputan dan kembali melangkah. Ia harus berbuat sesuatu.


Raina kembali melangkahkan kakinya melewati sungai yang mengalir begitu damai dan hutan yang begitu gelap di malam ini. Sesekali Raina terjatuh ke tanah ketika tubuh lelahnya yang telah berjalan cukup jauh untuk bisa sampai ke rumahnya.


Sesampainya Raina kemudian menyirami kakinya yang kotor itu lalu segera naik ke atas rumah dan menutup pintu dengan rapat.


Raina menukar pakaiannya yang agak kotor itu dengan pakaian yang bersih. Ia melipat selendang hitamnya dan memasukkannya ke dalam lemari kayu.


Raina membaringkan tubuhnya yang lelah itu ke atas kasur. Ketika kepalanya berhasil menyentuh permukaan bantal tua miliknya ketika itu juga air matanya mentes.


Suara burung-burung terdengar di luar sana bersamaan dengan terangnya area kamar Raina oleh cahaya matahari yang terbit dengan pelan-pelan. Kedua matanya tak mampu untuk tertidur mengingat ia belum pernah tidur.


Suara kendi yang dibuka terdengar di luar sana membuat Raina melirik pelan. Tak berselang lama suara langkah yang menaiki anakan tangga terdengar membuat Raina dengan cepat memejamkan kedua matanya, itu pasti Saoda.


Pintu terbuka membuat Saoda tersenyum menatap Raina yang kini sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Saoda melangkah mendekati Raina, ia berlutut di hadapan Raina dan mengelus rambut Raina dengan pelan dan penuh kasih sayang.


"Oh, anakku. Kau tenang saja! Indo akan membalaskan semua dendam keluarga kita kepada mereka, orang-orang yang telah menghancurkan dunia kita."


"Indo akan menghancurkan orang-orang yang telah merenggut kebahagiaan kau."


"Kau seharusnya bisa merasakan kasih sayang seorang Indo dan Bapak kau tapi karena orang-orang jahat itu maka kau tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti anak pada umumnya."


"Tapi kau tenang saja! Tidak lama lagi kita akan hidup bahagia karena semua musuh-musuh kita akan lenyap."

__ADS_1


Saoda mengecup kening Raina lalu mengelusnya sekilas dan ia bangkit, menatap Raina sejenak hingga ia menutup pintu kamar dengan rapat.


Raina membuka kedua matanya menatap pintu kamar yang telah tertutup dengan rapat. Dari sini ia bisa mendengar suara langkah Saoda yang melangkah ke arah kamarnya disusul suara pintu yang tertutup rapat.


Raina membuka kedua matanya menatap permukaan pintu yang tertutup rapat. Apa yang dikatakan oleh Saoda? Sepertinya ada yang di simpan oleh Saoda yang tidak Raina ketahui tapi entah apa itu. Raina pun tak mengerti.


...****************...


Raina melangkahkan kakinya menuju dapur mendapati Saoda yang kini terlihat tersenyum. Wajahnya tampak lebih cerah tak seperti biasanya yang terlihat pucat seperti orang sakit.


"Kau sudah bangun?" tanya Saoda yang sibuk mengatur kayu yang terbakar saat ia memasak nasi.


Raina mengangguk sambil tersenyum kaku. Ia masih mengingat kejadian semalam.


Raina duduk di atas papan, ia menoleh menatap Saoda yang terlihat begitu sangat tenang dalam memasak nasi. Saoda duduk di hadapan Raina sambil meletakkan beberapa piring di hadapan Raina yang kini terlihat melamun.


"Makanlah, Nak!" ujarnya sambil mengelus kepala Raina sejenak yang kedua matanya bergerak menatap Saoda.


Raina terdiam dengan wajah sedihnya. Ia menatap Saoda yang kini sibuk meletakan nasi ke atas piring milik Raina yang masih terdiam.


"Kau kenapa?"


Raina menoleh, ia menatap Saoda yang menatapnya dengan tatapan penuh serius.


"Indo, Raina ingin bertanya."


"Apa? Katakanlah!"


Raina menelan salivanya. Ia mengelokkan posisi duduknya sembari kedua matanya yang masih menatap serius kepada Saoda.

__ADS_1


"Apa Indo menyembuyikan sesuatu?"


"Sesuatu apa?"


"Tentang kebenaran kematian Indoku dan Bapakku, Indo?"


Raut wajah Saoda berubah setelah mendengar pertanyaan Raina. Terlihat jelas ada rasa benci pada sorot matanya yang tajam.


"Raina ingin-"


"Jangan tanyakan tentang itu!" potongnya membuat Raina tersentak kaget.


Saoda bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju dapur membuat Raina dengan cepat ikut bangkit dan mengikuti langkah Saoda.


"Tolong beritahu Raina, Indo!"


"Kau tidak perlu mengetahuinya!"


"Tapi kenapa?"


Saoda menoleh menatap Raina dengan tajam hingga mampu membuat Raina terdiam dan membeku seperti patung.


"Kau tidak perlu tahu!" ujarnya.


"Kenapa aku tidak boleh tahu? Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Sudah aku bilang kau tidak perlu tahu!!!" teriaknya membuat Raina tersentak kaget.


Raina mendecapkan bibirnya lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan Saoda sendiri di dapur dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2