Parakang

Parakang
109. Alasan Saoda


__ADS_3

Pria itu terlihat diam dengan tatapannya yang kini sedang menatap Saoda begitu serius membuat Saoda menjadi pucat.


Seketika jantungnya berdetak sangat cepat membuat seluruh tubuhnya menjadi gemetar tak karuan.


Tuo, yah pria itu yang Saoda lihat saat ini. Ia masih berdiri dengan tatapannya yang masih menatap Saoda.


Saoda menarik nafas panjang. Ia tertunduk takut dan mengusap wajahnya yang sudah berkeringat dingin itu. Mengangkat tangannya pun sudah tak mampu lagi ia lakukan disaat tubuh dan pikirannya diselimuti oleh rasa takut.


Tuo melangkahkan kakinya yang tak beralaskan itu menuruni anakan tangga satu demi satu menghasilkan suara decitan kayu tua membuat Saoda terkejut.


Ia yang sejak tadi tertunduk takut itu segera mendongak menatap Tuo yang kini masih melangkah menuruni anakan tangga. Saoda meneguk salivanya yang terasa sukar untuk turun menuruni tenggorokannya.


Setiap langkah kaki Tuo berhasil membuat Saoda lemas dengan pola nafasnya yang mendadak menjadi sesak.


Tuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Saoda yang terlihat diam menatapnya.


"Kau dari mana?"


Nafas Saoda tertahan di kerongkongannya setelah menedengar apa yang Tuo pertanyakan.


Hal yang paling Saoda takutkan kini telah terjadi. Pertanyaan yang sangat ia tak harapkan kini telah terjadi. Bingung, yah Saoda tak tahu lagi harus menjawab apa mengenai pertanyaan yang Tuo berikan.


Saoda tak mungkin menjawab pertanyaan Tuo dengan jujur. Saoda takut jika Tuo akan marah kepadanya dan meninggalkan jika ia sampai mengetahui kebenarannya.


"Saoda!"


Tuo menyentuh kedua pundak Saoda yang terasa mendingin membuat kening Tuo mengkerut. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Saoda. Jari tangan Tuo bisa merasakan hawa dingin pada kulit Saoda.


"Mengapa tubuh kau dingin sekali?"


"A-a-aku-"


"Katakan! Kau dari mana saja?"


Saoda meneguk salivanya dengan bibir yang telah bergetar. Rasanya sangat sulit untuk menjawab pertanyaan dari suaminya itu.


"Saoda! Kenapa kau diam saja?"


"Ayo jawab! Kau dari mana saja?"


Saoda menghembuskan nafas panjang dan mulai tersenyum. Ia ikut menyentuh permukaan punggung tangan suaminya yang dengan lembut sedang menyentuh pipinya yang juga ikut dingin.


Yah, pipinya dingin karena telah diterpa oleh angin malam yang telah menembus tajam lapisan kulitnya.

__ADS_1


"Saoda!"


"Ada apa? Mengapa kau selalu bertanya? Hem? Aku hanya keluar sebentar untuk mencari buah kelapa muda."


"Kelapa muda?"


Saoda mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, em entah mengapa secara tiba-tiba aku ingin makan buah kelapa muda dan aku ingin minum airnya yang segar itu."


"Kau tahu rasanya aku ingin menangis karena selalu memikirkan buah kelapa itu. Aku tidak bisa tidur karena memikirkannya."


"Jadi aku memutuskan untuk keluar dari rumah untuk mencari buah kelapa. Mungkin setelah akui minum buah kelapa aku akan tidur dengan lelap," jelasnya berbohong.


Mendengar hal itu membuat Tuo menghela nafas panjang.


"Lalu kenapa kau tidak membangunkan aku? Aku akan mengambilkan buah kelapa untuk kau."


"A-aku sungkan untuk melakukannya."


"Sungkan? Kenapa harus sungkan? Aku ini suami kau dan sudah sepatunya lah aku yang memenuhi semua kebutuhan kau."


"Tapi tadi aku melihat kau sedang tertidur pulas dan aku tidak ingin menggangu tidur kau yang lelap itu."


"Tuo, aku tahu kau lelah. Aku tahu kau sepanjang hari bekerja dan aku tidak ingin menyusahkan kau."


"Saoda, aku ini adalah suami kau. Berapa kali lagi aku harus memberitahu kau. Aku suami kau dan sudah sepatunya lah aku menuruti setiap apa yang kau inginkan."


"Sekarang lihat! Ini sudah malam dan aku tak mungkin membiarkan kau keluar di malam yang larut seperti ini."


"Bagamana jika ada hewan liar yang mungkin saja mengincar kau jika kau salah langkah sedikit saja."


Dan yang lebih terpenting adalah Parakang."


Kedua maya Saoda membulat ia menatap suaminya yang kini sedang menatapnya. Seketika dada Saoda terasa tersentuh di dalam sana setelah Tuo mengucapkan nama Parakang dengan cara bicaranya yang sengaja ditekan.


"Kau tahu Parakang itu keluar saat di malam hari dan mungkin saja-"


Tuo menghentikan ujarannya dan ia menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk menatap ke segala arah membuat Saoda ikut ke arah mana Tuo menatap.


"Ada apa?"


Tuo menunduk.

__ADS_1


"Mungkin saja Parakang itu ada di sekitar sini dan melihat kau."


Saoda kini terdiam. Di dalam hatinya kini ia merasa senang karena Tuo percaya dengan apa yang ia katakan, namun perasaanya cukup tak nyaman setelah mendengar nama Parakang yang baru saja telah disebut Tuo.


"Kau tahu kenapa kau bisa menginginkan sesuatu sampai membawa kau keluar seperti ini?"


"Apa?"


Tuo terdiam sejenak. Ia tersenyum penuh kebahagiaan dan mengelus pipi Saoda yang sedang mamasang wajah bingung di sana.


"Kau sedang mengandung," jawabnya.


"Be-benarkah?" tanya Saoda yang berpura-pura tidak tahu.


Tuo mengangguk sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Dari sorot matanya Saoda bisa melihat jika Tuo berusaha untuk menahan tangisannya di kedua matanya yang telah memerah.


"Kau benar-benar telah mengandung Saoda."


Tuo menyentuh permukaan perut Saoda membuat Saoda menunduk menatap tangan Tuo yang masih menyentuh perutnya dan kembali mendongak menatap Tuo.


"Kau sedang mengandung anak aku. Tidak lama lagi kita akan memiliki anak, Saoda. Aku akan menjadi seorang Bapak dan kau akan menjadi Indo."


"Kita akan memiliki sebuah keluarga kecil yang akan membuat kita bahagia."


"Kita akan bahagia dengan kehadiran malaikat kecil yang ada di perut kau."


Saoda tersenyum bahagia lalu segera memeluk tubuh Tuo yang juga ikut memeluknya. Saoda sedikit merasa bersalah karena tidak memberitahu Tuo jika ia telah mengetahui kehamilannya ini.


Hanya saja Saoda tak ingin merusak kebahagiaan suaminya yang sudah terlalu bahagia.


Saoda yang masih tersenyum itu menyadarkan pipinya yang masih dingin ke permukaan dada suaminya yang tak terhalang apa-apa segingga kulit pipinya langsung menyentuh permukaan dada Tuo yang terasa hangat.


Saoda memejamkan kedua matanya ketika Tuo mengelus kepalanya itu dengan pelan membuat Saoda merasa bahagia.


Saoda tak mungkin mengeluarkan janin yang masih kecil ini hanya untuk meloloskannya mengikuti ritual agar dirinya bisa menjadi Parakang.


Saoda tak boleh memirkan dirinya sendiri. Setidaknya ia tak melukai hati suaminya. Melihat Tuo yang begitu bahagia mengatakan tentang kehamilannya membuat Saoda sadar betapa berharga dan pentingnya janin ini bagi Tuo.


Tuo melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua pipi Saoda yang mendongak menatapnya.


"Saoda! Apa kau sudah makan dan minum buah kelapa yang telah kau cari itu?"


"Belum," jawabnya sambil menggeleng.

__ADS_1


"Kalau begitu kau naik ke atas rumah lalu masuk ke kamar dan tunggu aku! Aku akan mencarikan kau buah kelapa."


__ADS_2