
Langkah kaki kecil itu terlihat mengikuti setiap jejak langkah kaki Bapaknya yang membekas pada permukaan pematang sawah yang di pinggirnya ditumbuhi rerumputan hijau.
Sawah yang awalnya Saoda kira akan gelap seperti yang ia pikirkan sebelumnya tapi kini tak ada kegelapan yang ia lihat. Saoda bisa melihat pemandangan sawah yang terlihat jelas.
Saoda mendongak menatap langit malam yang terlihat dihiasi oleh kerlap-kerlip bintang yang bertaburan di langit luas membuat Saoda tersenyum.
Kedua bibir Saoda terbuka menatap kagum pemandangan indah yang berhasil membuatnya terpukau dengan pemandangan indah.
Bruak
Jambe menoleh menatap kaget pada putrinya yang terlihat tersungkur di pinggiran sawah dengan lumpur yang mengotori jaket sampai kedua kakinya.
Jambe berlari menghampiri putrinya yang langsung tertawa terpingkal-pingkal dengan bercak lumpur yang berada di wajahnya.
Jambe berlutut sambil membantu Saoda bangkit dari pematang sawah.
"Kau kenapa, Nak?"
"Hahaha, aku terjatuh."
"Terjatuh karena apa?"
"Aku melihat bintang di langit yang terlihat sangat indah," jawabnya jujur membuat Jambe kini menggelengkan kepalanya. Ada-ada saha anaknya ini.
"Kalau jalan lihat ke depan dan jangan mendongak ke langit. Kalau kau tidak hati-hati maka kau akan terjatuh seperti ini," jelas Jambe yang kini membantu Saoda bangkit dari tanah.
"Lihat sekarang jaket kau kotor, lalu apa yang akan dikatakan oleh Indo kau jika melihat kau seperti ini."
"Bapak tenang saja. Aku akan bilang kepada Indo kalau aku terjatuh karena melihat bintang. Indo tidak akan marah kepada aku karena Indo sangat sayang kepada aku," jelasnya membuat Jambe kini menghela nafas panjang lalu ia tersenyum.
Dua menit kemudian kini Saoda sedang memunguti beberapa keon yang berada di pinggiran sawah dan beberapa ada yang berada di rerumputan yang tumbuh.
Suara jengkrik yang berbunyi merdu bergantian bersahutan memberikan kesan kedamaian di malam hari. Suara kodok sawah yang ikut bergantian berbunyi seakan sedang bercakap dengan kodok yang entah dimana ia bersembunyi.
Saoda sesekali berlari mengelilingi daerah milik Bapaknya yang tidak terlalu luas itu berusaha untuk mencari kodok yang telah berbunyi.
Suara kodok itu menghilang membuat Saoda kini terdiam di tempatnya berdiri. Memununduk dengan kedua mata yang disipitkan hingga jari-jari kecilnya itu kini meraih beberapa keong yang sempat ia lihat.
"Saoda!!!"
Suara teriakan Jambe terdengar memanggilnya membuat Saoda yang masih merabah permukaan lumpur itu menoleh.
"Tunggu, Pak!!!"
"Saoda, ayo kemari!!!"
"Tunggu!!!"
Saoda berlari mendekati Jambe sambil memegang ujung bajunya yang telah menampung belasan keong yang ia dapatkan.
"Bapak, aku dapat banyak keong," ujarnya dengan raut wajah bahagia.
Jambe menopang pinggangnya menatap baju kotor penuh lumpur yang mengotori pakaian putrinya.
"Kau mengerti baju kau lagi, Nak?"
__ADS_1
Saoda yang mendengar hal itu langsung tersenyum memperlihatkan gigi tanggalnya.
"Aku minta maaf."
Jambe tertawa kecil. Bagaimana bisa ia memarahi gadis kecilnya yang sangat ia sayangi.
"Tuang ke dalam ember!" pintahnya membuat Saoda kini melangkah mendekati ember dan menumpahkan keong hasil tangkapannya ke dalam ember yang telah nyaris penuh.
"Apa Bapak yang mencari keong sebanyak ini?"
Jambe menoleh menatap Saoda sejenak lalu kembali fokus mencari keong.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Mengapa Bapak bisa mendapat keong sebanyak ini?"
"Karena Bapak sudah terbiasa mencari keong."
Saioda mengangguk.
"Bapak, aku ingin ke sana. Di sana juga ada banyak keong." Tunjuknya ke arah area sawah milik tetangga yang tak jauh dari rumah.
"Jangan, Nak! Duduk saja di sana dan lihat Bapak di sini."
"Tapi, pak-"
"Duduklah, Nak! Apa kau tidak takut?"
"Takut? Untuk apa takut?"
Kedua mata Saoda membulat setelah mendengar nama mahluk yang konon kata teman-temannya mahluk itu adalah mahluk yang jahat dan suka memakan seseorang, yah itu yang Saoda dengar. Salah atau benarnya Saoda tidak perduli.
"Apa Parakang juga bisa ada di sawah?"
"Ya, tentu saja. Parakang bisa datang dimana saja dan kapan pun yang ia mau."
Saoda meneguk salivanya. Dengan cepat ia duduk di pinggir sawah sambil sesekali menoleh menatap sekitarnya yang terlihat sama saja hanya saja terasa sedikit mengerikan karena nama Parakang yang baru saja disebut oleh Bapaknya.
Jambe menoleh dan menatap dengan diam-diam ke arah putranya itu yang kini memilih diam sambil sesekali menoleh ke kiri dan kanan.
"Apa kau takut?"
Saoda menoleh.
"Aku tidak takut dengan linta yang jelas-jelas selalu aku lihat lalu bagaimana aku bisa takut pada sosok Parakang yang belum pernah aku lihat."
Jambe tersenyum penuh bangga. Ia tak pernah menyangka jika ia akan mendengar jawaban seperti itu dari putrinya.
Jambe melangkah mendekati Saoda dan duduk di sampingnya.
"Bagus, kau tidak boleh takut dengan apa pun kecuali kepada Tuhan. Karena Tuhanlah yang menciptakan bumi dan segala isinya."
Saoda mendongak menata langit malam yang dihiasi oleh indahnya bintang-bintang lalu ia tertegun menatap indahnya sang rembulan malam yang terlihat bulat bercahaya.
"Apa Tuhan juga yang menciptakan bulan?"
__ADS_1
"Semuanya, Nak. Tanpa terkecuali."
Saoda mengangguk paham.
"Apakah bulan sama seperti matahari?"
"Kurang lebih sama dan kurang lebih juga berbeda."
Saoda menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Ia merasa bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bapaknya.
"Kau tidak mengerti?"
Saoda mengangguk.
"Bulan dan matahari sama saja. Sama-sama diciptakan oleh Tuhan tapi fungsi dan waktu berandanya berbeda."
"Matahari tidak akan bisa bertemu dengan bulan dan begitu pula sebaliknya."
"Bulan punya tugas di malam hari dan matahari juga punya tugas di pagi sampai terbenamnya yang digantikan oleh bulan."
"Seperti itulah pergantiannya yang akan terus terjadi sampai berakhirnya kehidupan yang sempai sekarang masih menjadi rahasia Tuhan."
Jambe mendongak menatap rembulan malam yang terlihat indah di atas sana.
"Lihat lah, Nak!"
Saoda mendongak.
"Lihat bulan yang begitu indah itu, Nak. Itu yang menjadi bukti maha kuasa Tuhan yang maha esa."
Saoda kini menoleh menatap Jambe yang terlihat masih setia menatap bulan di atas sana.
"Tapi, Pak. Apakah sosok Parakang itu benar-benar ada?"
Jambe menoleh menatap putrinya yang kini terlihat sedikit takut.
"Parakang?"
Saoda mengangguk.
"Apa mahluk bernama Parakang juga diciptakan oleh Tuhan?"
"Bukan Tuhan yang menciptakan sosok Parakang, tapi manusia itu sendirilah yang merubah dirinya menjadi Parakang."
"Jadi Parakang itu benar-benar ada?"
Jambe mengangguk.
"Apa kau takut?"
Saoda meneguk salivanya lalu menggeleng.
"Tidak, aku tidak takut."
"Baguslah, Nak. Jangan takut pada mahluk itu karena dia akan senang jika ada takut kepadanya."
__ADS_1
"Apakah Bapak pernah melihat Parakang?"