
Saoda membuka kedua matanya yang terasa hangat. Kedua sorot matanya menatap sosok Tuo yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu sangat serius.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Tuo.
Saoda mengangguk. Itu adalah sebuah jawaban tanpa suara yang ikut dibalas anggukan oleh Tuo.
"Apa kau lapar? Bapak sudah memasak nasi. Aku bisa mengambil makanan untuk kau."
"Aku tidak lapar," jawab Saoda yang setelahnya ia langsung berbalik membelakangi Tuo.
Tuo kini menghela nafas.
"Apa kau bisa tidur terlentang? Kain kompresnya akan jatuh kalau kau tidur seperti itu."
"Aku akan mengompresnya sendiri," jawab Saoda.
Tuo mengangguk pelan. Harus apa lagi ia sekarang?
"Tuo!" panggil Puang Dodi yang kini melangkah masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Tuo yang menoleh.
"Kenapa?"
"Dia ingin mengompres dirinya sendiri," jawab Tuo lalu tak berselang lama ia melangkah keluar dari kamar meninggalkan Puang Dodi yang kini terdiam. Ia menatap Tuo sejenak dan kembali menatap Saoda yang terbaring membaliknya.
Puang Dodi menghela nafas. Memang susah menyatukan anak laki-laki dan perempuan untuk dijadikan sahabat. Padahal Puang Dodi memiliki rencana untuk menikahkan Saoda dengan Tuo jika umur Saoda telah mencapai usia empat belas tahun. Ini usia yang terbilang masih muda, tapi Puang Dodi hanya ingin mencegah saja.
Baginya di usia itu seorang anak normal akan mulai tertarik dengan lawan jenisnya dan ini alasannya ia ingin menikahkan Saoda di usia tersebut. Lagi pula apa kata tetangga nanti jika mereka berdua telah besar dan mengetahui seorang laki-laki dan perempuan tinggal dalam satu rumah.
__ADS_1
Puang Dodi juga tahu kalau Sambe dan Jam r juga akan setuju dengan hal ini. Ia juga masih ingat betul apa yang dikatakan oleh Puang Jambe saat bersamanya. Ia juga bahkan telah menyinggung kata perjodohan antara putranya dan putri dari puang Jambe. Tak ada masalah mau pun keberatan saat itu.
Puang Dodi kini melangkah keluar. Tak berselang lama Saoda berbalik menatap ke arah pintu keluar kamar. Suara langkah puang Dodi itu terdengar membuat Saoda dengan langkah pelan itu bangkit dari tempat tidurnya.
Ia berdiri di depan jendela dan membuka pelan kain gorden jendela menatap ke area halaman rumah. Dari sini ia bisa melihat sosok Tuo dan Puang Dodi yang terlihat sibuk mengatur tali kerbau.
Puang Dodi melangkah sambil menarik kerbau-kerbau berbadan besar itu sementara Tuo terlihat mengusirnya dari belakang. Ia sesekali berteriak dan mengusir anak-anak kerbau yang keluar dari barisan induknya.
Saoda menutup jendela itu. Mereka berdua telah pergi meninggalkan rumah dan meninggalkannya sendiri di sini.
Saoda melangkah keluar. Ia menatap ruang tamu yang terlihat berantakan, tak ada bedanya saat pertama kali ia masuk ke dalam rumah sederhana ini.
Saoda tersenyum kecil. Kaki kecilnya yang tak beralas itu berlari ke arah pintu utama rumah dan berusaha mengintip mencari sosok Puang Dodi dan Tuo yang sudah tak terlihat lagi.
Saoda kembali tersenyum. Puang Dodi dan Tuo benar-benar telah pergi sekarang. Saoda menoleh menatap area ruangan rumah yang terlihat berantakan.
Saoda melangkah, ia meraih beberapa kain yang ada di kursi dan di pinggiran dinding rumah yang memilki paku untuk menggantung pakaian.
Ia berlarian ke sana kemari untuk memunguti kain. Jari kakinya menjinjit berusaha untuk meraih pakaian yang tergantung di tempat yang sukar untuk ia raih.
Saoda melangkah ke arah dapur dan tak menemukan sedikit air untuk mencuci pakaian walau pun sedikit. Saoda menghela nafas panjang sambil menopang pingganya.
Harus apa ia sekarang?
Saoda diam dengan pikirannya yang sibuk mencari jalan keluar. Ia menunduk menatap baskom yang penuh dengan pakaian kotor itu. Harus ia apakan pakaian ini?
Mungkin di sungai. Saoda masih ingat dengan kebiasaan Indonya yang selalu mencuci pakaian di sungai. Saoda mendecakkan bibirnya. Rumah ini cukup jauh jaraknya dari rumahnya yang tidak terlalu jauh dari tempat sungai yang selalu ia datangi.
__ADS_1
Saoda tak mungkin datang ke sungai itu, tempat itu sangat jauh. Lagi pula dia masih terlalu kecil untuk pergi seorang diri ke sungai. Tak mungkin ia pergi ke sungai melewati, hutan dan area persawahan seorang diri.
Bagaimana jika ada anjing liar yang mengejarnya lalu siapa yang akan menolongnya.
Saoda meraih baskom berisi pakaian kotor itu dan menopangnya di pinggang dan melangkah keluar menuruni anakan tangga.
Saoda yang berniat untuk melangkah itu kini terhenti ketika ia melihat sebuah sumur yang tidak terlalu tinggi.
Saoda tersenyum bahagia membuatnya segera berlari menghampiri sumur yang airnya begitu jernih di bawah sana.
Saoda meletakkan baskom itu di sampingnya. Ia menggulung lengan bajunya dan mulai menimba air dengan susah paya. Tak muda Saoda untuk menaikkan air dari ember yang diikat dengan tali kasar yang berhasil membuat telapak tangan Saoda memerah.
Saoda mengusap dahinya yang telah basah itu setelah dicuciri oleh keringat kelelahan. Untuk pertama kalinya Saoda melakukan hal ini. Saoda berpegangan erat pada sebuah batang kayu yang sengaja ditancapkan ke dalam tanah untuk menjadi tempat jemuran pakaian.
Saoda berpegangan erat. Ia takut jika ia sampai terjatuh ke dalam sumur. Siapa yang akan menolongnya jika hal itu sampai terjadi sementara saat ini tak ada satu pun orang di sini kecuali dirinya.
Percikan air membasahi wajah dan pakaian Saoda saat ia menghempaskan pakaian yang telah basah itu ke pinggiran sumur dengan tenaganya yang begitu kuat. Sekali lagi untuk pertama kalinya ia melakukan hal ini.
Saoda mencelupkan pakaian yang telah ia hempas di pinggiran sumur ke dalam wadah berisi air hasil tarikannya yang telah penuh. Untung saja saat ia mencuci pakaian matahari belum terlalu tinggi ke atas sana sehingga tidak membuat Saoda kepanasan.
Saoda menghela nafas panjang ia meletakkan pakaian terakhirnya ke atas tumpukan pakaian yang telah ia cuci.
"Hah," keluhnya sambil mengusap keningnya.
Saoda menghempaskan pakaian lalu menjemurnya di tali biru yang teraba kasar, tak ada bedanya pada permukaan tali yang ia gunakan untuk mengambil air dari sumur.
Saoda melangkah mundur sambil memegang baskom biru yang kini telah kosong setelah ia menjemur habis pakaian yang telah ia cuci.
__ADS_1
Saoda tersenyum. Kepalanya bergerak menatap ke arah tali yang dipenuhi oleh pakaian yang terbentang dari pohon ke pohon. Saoda menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang?