
"Aku hanya bercanda dan lagi pula aku ingin berada terus di samping kau," bisiknya.
"Tidak usah berlebihan. Apa kau tidak malu setelah mengatakannya?"
"Tidak, untuk apa aku harus malu? Yang mendengarkannya juga kau bukan orang lain."
"Ah, sudahlah! Aku ingin pergi ke pasar," ujar Saoda yang melepas pelukan dari Tuo.
Saoda melangkah dan meraih pakian dan mengenakannya sementara Tuo kini menoleh dan bersandar di permukaan jendela kamar.
"Pasar? Untuk apa ke pasar?" tanya Tuo.
"Aku ingin membeli beberapa bumbu dapur."
"Aku ikut."
"Ah, tidak usah. Biar aku sendiri saja lagi pula aku tidak membeli banyak. Aku hanya akan membeli satu atau dua macam dan setelahnya aku akan pulang," jelasnya.
Tuo kini menghela nafas. Ia diam menatap setiap aka yang dilakukan oleh istrinya itu. Saoda yang berada di depan cermin sambil menyisir rambutnya itu kini melirik menatap Tuo.
"Ada apa?"
"Aku ingin ikut."
Saoda tertawa.
"Tuo, ayolah! Kau ini bukan anak kecil lagi yang merengek itu di bawa ke pasar. Kau di sini saja dan tunggu aku pulang."
Tuo kini menghela nafas nafas dan setelahnya ia langsung mengangguk tanda setuju.
Saoda yang telah siap itu kini melangkah mendekati Tuo yang terlihat. Saoda menyentuh kedua pipi Tuo yang nampak dengan dicemberutkan oleh sang yang punya.
"Hei! Apa ini? Apa kau sedih hanya karena aku meninggakkan kau pergi ke pasar?"
Tuo mendecakkan bibirnya.
"Pergi lah!" pintahnya sambil mendorong tangan Saoda lalu ia melangkah pergi menjauhi Saoda yang kini tersenyum melihat kepergian Tuo.
Sangat lucu. Entah mengapa setelah menikah Tuo malah jadi manja seperti ini. Saoda yang masih tertawa ini kini segera mengikuti ke arah mana Tuo melangkah.
"Apa kau marah?" tanya Saoda yang kini berdiri di pintu dapur.
"Tidak pergi lah!" jawab Tuo yang terlihat membelakangi Saoda.
"Benarkah? Sepertinya kau terlihat marah sampai tidak mau melihat aku."
__ADS_1
Tuo yang sedan menuangkan air ke dalam gelasnya itu kini menoleh.
"Aku tidak marah."
"Bagaimana bisa aku mempercayainya?"
Tuo tersenyum. Ia segera meletakkan gelasnya itu ke atas meja dan melangkah mendekati Saoda.
Tuo menarik pinggang istrinya itu dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Pergi lah! Sebenarnya aku ingin ikut karena aku tahu mungkin para bujangan desa akan marah karena kau telah menikah dengan aku."
Saoda mengernyit bingung.
"Maksud kau apa?"
Tuo menghela nafas panjang. Ia mengerakkan tangannya untuk mengusap daun telinga istrinya yang terasa kenyal.
"Kau tahu kan sudah banyak lamaran pria yang kau dan Bapakku tolak. Aku hanya takut jika mereka semua menyakiti kau dan bisa saja mereka berbuat kasar kepada kau."
"Tuo," ujar Saoda yang kini melingkarkan tangannya di bahu Tuo.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diri lagi pula mereka tidak mungkin akan melakukan hal jahat kepada aku."
"Di desa ini bukan hanya aku kan yang dulunya mendapat gelar seorang gadis desa, tapi sekaran aku telah sah menjadi istri kau. Istri Tuo."
Tuo mengangguk lalu melepaskan pelukannya dari pinggang Saoda dan membiarkan istrinya itu pergi meninggalkan rumah menuju pasar.
Entah firasat apa yang ia dapatkan namun, rasanya ia merasa tak tenang dengan hatinya. Ia merasa jika ada hal yang buruk akan terjadi pada istrinya.
Tapi Tuo sangat berharap semoga tidak ada hal buruk akan terjadi pada Saoda.
...****************...
Saoda kini melangkahkan kakinya dengan rasa yang penuh kebahagiaan melewati jejeran pepohonan serta rumah yang tidak terlalu banyak jumlahnya.
Saoda menunduk menatap keranjangnya yang kini telah berisi dengan bumbu dapur yang telah ia beli di pasar.
Tak sabar rasanya untuk segera sampai di rumah dan bertemu dengan Tuo. Mungkin ini lah yang dirasakan pengantin baru, ia bahkan tak mau jika berpisah walau hanya sebentar saja.
Saoda juga telah membeli beberapa kue untuk Tuo dan juga puang Dodi. Saoda yakin Tuo akan merasa senang dengan kepulangannya.
Saoda yang sejak tadi tersenyum itu kini memelankan langkahnya menatap beberapa pria yang berdiri di tengah jalan bersama dengan beberapa motor butut yang sudah nyaris tidak layak pakai.
Saoda ingat dengan pria itu terutama dengan pria berkepala plontos dengan kumis yang terlihat agal dan terlihat sedikit menakutkan bagi Saoda.
__ADS_1
Dia adalah Bahri, pria yang telah ia tolak lamarannya berkali-kali karena pria itu terkenal sebagai bujang nakal di desa ini.
Saoda menoleh menatap tiga temannya. Saoda tak tahu siapa nama mereka yang jelas mereka selalu ada di samping Bahri dimana pun Bahri berada maka di situ juga mereka berada.
Saoda tak mengerti mengapa mereka ada di sini dan terlihat menghalangi jalannya.
Bahri tersenyum licik lalu segera turun dari motor bututnya. Ia berdiri lalu menatap dari ujung atas sampai ujung kaki Saoda.
Saoda meneguk salivanya. Ia tak nyaman ditatap seperti itu oleh mereka semua.
"Mau kemana kau, Saoda?"
"A-aku ingin pulang," jawab Saoda yang begitu takut.
Saoda melirik menatap beberapa teman Bahri itu kini terlihat tersenyum penuh makna ke arahnya. Tatapan itu sangat menganggu membuat Saoda menarik turun rok sebatas betisnya itu agar tidak terlalu memperlihatkan bagian betisnya.
Bahri melangkah membuat Saoda ketakutan. Saoda melangkah mundur berusaha untuk menjaga jarak antara ia dan Bahri yang kini masih menatap dan melangkah mendekatinya.
"Kenapa kau melangkah mundur?"
Saoda menggeleng. Hingga ia menghentikan langkahnya ketika Bahri telah menghentikan langkahnya.
"Aku dengar-dengar kau telah menikah dengan Tuo? Benarkah itu?"
Saoda mengangguk membuat Bahri ikut mengangguk.
"Jadi itu alasannya kau tidak menerima lamaran aku? Aku bahkan sudah melamar kau sebanyak tujuh kali tapi kau tidak mau menerimanya."
"Apa Tuo begitu sangat baik hingga kau lebih memilih lamarannya?"
Satu hembusan asap rokok menghembus ke atas dan hilang setelah di tiup oleh angin.
"Aku dan Tuo telah dijodohkan sejak kecil dan yang menjodohkan aku dengan Tuo adalah puang Dodi dan juga almarhum Bapaku, jadi aku hanya menuruti permintaan mereka," jelas Saoda.
Bahri tersenyum.
"Apa itu berarti kau tidak mencintai Tuo dan kau menikah dengannya hanya karena rasa terpaksa. Seperti itu?"
Saoda ikut tersenyum lalu menggeleng.
"Aku juga telah mencintai Tuo. Tak ada pria selain dia yang aku cintai. Dia kini telah resmi menjadi suami aku dan aku juga telah resmi menjadi istrinya."
"Oh, jadi seperti itu," ujar Bahri sambil mengangguk dan menghempaskan batang rokok yang masih menyala itu ke atas tanah dan menginjaknya.
"Sekarang aku hanya ingin memberi kau sebuah pertanyaan dan aku ingin kau menjawabnya!"
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tanyakan?"