Parakang

Parakang
99. Penjelasan Tuo


__ADS_3

"Bagaimana jika aku adalah Parakang?"


Kedua mata Tuo yang sejak tadi terpejam langsung membulat. Kedua matanya menatap aneh pada sosok istrinya yang terlihat diam.


"Apa yang kau katakan, Saoda?"


Saoda menghembuskan nafas panjang. Ia mengelokkan posisi tidurnya dan kemudian terdiam menatap wajah suaminya yang masih diam menanti jawaban darinya.


"Bagaimana jika aku adalah Parakang?"


"Jangan asal bicara Saoda! Nanti ada warga desa yang mendengarnya dan mengira hal ini adalah serius."


"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa kau. Kau tahu kan apa yang telah terjadi pada kedua orang tua kau itu."


"Mereka dibakar karena kesalahpahaman. Mereka semua hanya salah paham dan berbuat nekat seperti itu."


Saoda mengerakkan jari-jari tangannya untuk menyentuh pipi suaminya sambil tersenyum.


"Apa kau pernah melihat Parakang?"


Tuo diam sejenak.


"Tidak pernah."


"Lalu kau tidak percaya pada kehadiran sosok Parakang?"


"Aku percaya buktinya para warga melihatnya tadi."


"Tapi bukan kau yang melihatnya secara langsung, kan?"


"Iya kau benar, tapi sesuatu hal yang telah dipercayai keberadaanya oleh warga desa juga harus dipercayai."


"Para warga desa telah membuktikan keberadaan sosok Parakang, jadi sudah jelas jika mahluk jadi-jadian itu ada."


Tuo kini memilih untuk diam sementara Saoda terlihat melamun.


"Tuo!"


"Ada apa! Mau bahas tentang Parakang lagi? Sudah lah lebih baik kau tidur saja!"


Saoda tersenyum tipis.


"Bagaimana jika aku adalah seorang Parakang? Apa kau akan membenci aku atau tetap menerima aku?"


Mendengar hal itu membuat kedua alis Tuo mengernyit bingung. Ia langsung bangkit dari kasurnya dan menatap Saoda yang masih terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? Apa kau ingin menjadi Parakang sampai terus bertanya seperti itu? Hem?"


"Aku hanya bertanya. Kau hanya perlu menjawabnya. Hanya itu."


"Tapi itu tidak bagus. Itu buruk. Aku sangat tidak suka jika kau membahas tentang itu. Memangnya kau mau apa sampai ingin menjadi Parakang?"


"Aku tidak bilang kalau aku ingin menjadi Parakang," sanggah Saoda.


"Tapi sejak tadi kau bicara tentang Parakang."


Saoda yang kehilangan senyumnya itu segera bangkit dari kasur. Ia duduk di samping Tuo dan menyandarkan dagunya di atas bahu Tuo.


"Aku hanya bertanya. Lagi pula siapa yang ingin menjadi Parakang? Tapi aku hanya bertanya andai kata jika aku adalah seorang Para-"


"Saoda!" tegur Tuo yang begitu sangat tak suka membuat ujaran Saoda terhenti.


"Ini hanya seumpama. Sekarang bagaimana apakah kau akan marah atau tetap menerima keberadaan aku di sisi kau walau pun aku adalah Parakang?"


Tuo kini mendadak diam. Saoda bisa melihat wajah tak suka dan risih nya pada raut wajah Tuo.


Tuo menoleh menatap Saoda yang kini terlihat diam sambil tersenyum seakan sedang menunggu jawaban dari Tuo.


"Parakang itu adalah mahluk yang sangat dibenci oleh masyarakat di desa ini. Tak ada satu pun orang yang mau ada sosok Parakang di desa ini-"


"Terutama kau juga?"


"Apa kau juga membenci sosok Parakang walaupun Parakang itu adalah aku?"


Tuo tak menjawab. Ia terlihat diam seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Kau tahu, Indo aku telah meninggal dan kau mau tahu apa yang membuatnya sampai meninggal?"


Saoda diam. Ia juga tak pernah bertanya hal ini pada Tuo. Sudah lama ia tinggal di rumah ini tapi ia belum tahu apa yang menyebabkan Indo Tuo sampai meninggal.


"Emm, apa dia juga dituduh menjadi Parakang dan warga desa juga membakarnya?" tebak Saoda.


Tuo yang tertunduk itu langsung menggeleng pelan.


"Indokku sebenarnya meninggal karena dimakan Parakang saat sakit. Kau tahu aku sangat membenci dengan mahluk yang bernama Parakang itu, aku sangat membencinya."


"Bahkan jika Tuhan mempertemukan aku dengan sosok Parakang itu maka-maka aku akan bertanya mengapa dia memakan Indo aku."


"Aku ingin bertanya, apa kesalahan Indo aku sehingga dia tega melakukannya."


"Dia, sosok Parakang yang telah memaksa aku untuk menjadi dewasa diusia aku yang masih muda."

__ADS_1


"Dia yang telah merenggut kebahagiaan aku di dunia ini."


"Karena dia, aku tidak bisa lagi merasakan sosok kehadiran Indo aku yang begitu sangat aku sayangi."


"Aku tak perlu bertanya kepada kau tentang bagaimana rasanya karna kau juga tahu bagaimana rasanya hidup tanpa sosok Indo."


"Aku tahu kau lebih menderita karena kah telah kehilangan sosok kedua orang tua kau. Kau telah kehilangan Bapak dan Indo kau di waktu yang bersamaan dan dengan cara yang begitu sangat tragis."


"Saoda!" panggil Tuo sambil mengelokkan posisi duduknya menatap sang istri yang terlihat diam seakan sedang memikirkan sesuatu.


Kedua pasang mata mereka kini bertemu pandang.


"Kau tolong mengerti! Jangan buat yang aneh-aneh. Aku sudah terlanjur sangat mencintai kau, Saoda dan tolong jangan buat rasa itu berubah."


"Berubah? Apa itu berarti kau akan marah jika aku adalah Parakang?"


"Tentu saja aku akan marah. Kau tahu, Aura negatif yang dirasakan para warga desa mengenai sosok Parakang sudah mendarah daging pada mereka semua."


"Bagi mereka tidak ada sisi positif yang ada pada mahluk jadi-jadian bernama Parakang itu, tidak ada."


"Saoda!" Tuo menyentuh pipi Saoda membuat kedua pasang tatapan mereka begitu sangat dalam.


"Tolong jangan berbuat yang aneh-aneh. Sekarang jawab pertanyaan aku dengan jujur. Yang kau katakan tadi hanya bercanda, kan? Kau tidak benar-banar ingin menjadi Parakang, kan?"


Saoda meneguk salivanya setelah mendengar pertanyaan dari Tuo. Harus jawab apa ia sekarang.


"Saoda!" panggil Tuo membuat Saoda terhenti lamunannya.


"Kau hanya bercanda, kan?"


Saoda langsung tersenyum. Ia mengelus pipi Tuo dengan lembut.


"Aku kan sudah bilang kalau aku ini hanya sekedar bertanya. Aku tidak benar-benar serius."


"A-aku hanya ingin mengetahui bagaimana respon dan perkataan kau jika itu terjadi. Aku tidak serius saat bertanya seperti itu kepada kau, Tuo."


Mendengar hal itu membuat Tuo menghembuskan nafas lega. Ia mengenggam jari-jari tangan Saoda yang menyentuh lembut pipinya.


"Kau janji, tidak akan berbuat aneh dan bertanya seperti itu lagi kepada aku?"


Saoda tersenyum lalu mengangguk.


Tuo membaringkan tubuhnya ke kasur membuat Saoda membaringkan kepalanya itu di atas dada suaminya yang mengelus rambut Saoda.


Saoda hanya diam dengan tatapannya yang menatap ke permukaan dinding kamar yang gelap tanpa ada pencahayaan dari api kecil yang selalu ia nyalakan di setiap malam.

__ADS_1


Harus apa ia sekarang?


Saoda benar-benar tidak tahu. Di satu sisi ia ingin menjadi Parakang untuk membalaskan dendam ini kepada mereka semua, orang-orang jahat yang telah merenggut kebahagiannya, tapi di satu sisi Tuo sangat membenci Parakang, jadi harus apa Saoda sekarang?


__ADS_2