Parakang

Parakang
26. Tolong!!!


__ADS_3

"Kenapa jendelanya terbuka?"


Erni terdiam. Dahinya mengkerut menatap jendelanya yang terbuka lebar. Erni sangat ingat betul jika ia telah menutup rapat-rapat jendelanya itu.


Erni berpikir sejenak apakah mungkin ia tidak menutup jendela dengan baik sehingga angin kencang bisa saja membuka jendela kamarnya.


Erni menghela nafas berusaha untuk berpikir positif dan tak mengambil sisi negatif.


Erni melangkah mendekati jendelanya lalu menatap langit gelap beserta tiupan angin yang berhembus mengenai wajahnya. Papan yang Erni injak kini telah basah sebagian karena air hujan yang masuk dari jendela dibawa oleh angin.


Erni menutup jendela dengan rapat membuat jari tangannya sedikit basah karena telah menyentuh permukaan jendela itu.


Krek


Suara dari belakang terdengar membuat Erni terkejut bukan main. Matanya membulat dengan getakan jantungnya yang berdetak sangat cepat. Ini rasanya ada yang sedang menatapnya dari belakang bergerak begitu pelan membuat bulu kuduk Erni merinding.


Matanya melirik pelan ke arah samping diiringi suasana yang begitu hening dengan tegukan salivanya berusaha untuk memberanikan diri.


" Hah," kaget Erni ketika ia telah menoleh ke belakang menatap ruangan kamarnya yang terlihat kosong, tak ada apa-apa di sana.


Erni mengusap wajahnya yang telah berkeringat takut itu. Entah mengapa ia selalu berpikir buruk.


Erni melangkahkan tubuhnya ke kasur dan duduk sejenak ia mengusap wajahnya dengan pelan. Ia terdiam rasanya ada yang sedang menatapnya tapi entah di mana. Ia menoleh ke kiri ke kanan dan ke belakang, Tapi tetap saja tak ada sesuatu di sana. Meletakkan tangannya di bawah pipinya dan menutup kedua matanya.


Krek


Suara itu terdengar jelas di indra pendengaran Erni membuat dahinya kembali mengkerut heran, entah suara dari mana datangnya suara itu.


Erni mencoba untuk mengabaikannya karena mungkin saja suara itu berasal dari guyuran hujan dari luar rumah yang malam ini begitu sangat deras.


Erni kini mencoba untuk melanjutkan tidurnya, tapi suara itu semakin jelas terdengar membuat perasaan Erni tidak nyaman. Jari-jari tangan Erni mengepal, ia menggenggam erat jari-jari tangannya ketika ia merasakan sesuatu yang hangat dan terasa agak panas mendekatinya sedikit demi sedikit namun pasti.


Erni tak tahu harus berbuat apa hingga dengan perlahan ia membuka kedua matanya membuatnya bisa melihat bayangan hitam di hadapannya.


" Oh, Puang!!!" teriak Erni dengan kedua matanya yang telah terbuka lebar menatap sosok menyeramkan yang ada di depan matanya.


Erni melompat dari tempat tidurnya lalu melangkah mundur membuat tubuhnya yang gemetar itu terbentur ke dinding rumah yang terbuat dari kayu. Ia bisa melihat dengan jelas sosok makhluk berambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya dengan mata merah yang begitu menakutkan.


Sosok itu terlihat merangkak mendekati Erni dengan pelan membuat tubuh Erni gemetar karena takut.


"Jangan dekati aku!!!" teriak Erni yang begitu sangat ketakutan.


Erni menelan salivanya dengan bibir yang telah gemetar.

__ADS_1


Ia kini baru teringat pada sosok yang ada di hadapannya ini. Dia adalah sosok Parakang. Yah, dia adalah mahluk jadi-jadian yang selama ini telah menjadi hal yang paling menakutkan di desa ini.


Erni juga baru ingat jika mahluk inilah yang telah membunuh kedua orang tuanya dan juga Neneknya yang baru beberapa minggu ini telah tiada.


Erni menatap sosok Parakang itu yang mendekatinya dengan pelang membuat Erni menggelengkan kepelannya dengan pelan diiringi dengan tatapan takutnya berusaha untuk memberikan kode agar Parakang itu tidak mendekatinya.


"Si-si-siapa kau?!!" teriak Erni.


Tak ada jawaban membuat kedua mata Erni memerah nyaris meneteskan air matanya.


"Ka-ka-katakan si-si-siapa ka-kau?!!!" teriak Erni begitu ketakutan.


"Tolong ja-ja-jangan sakiti a-aku!!! Aku tidak punya salah kepada kau!!!"


"Aku mohon!!!"


Tak ada respon dari Parakang itu. Ia tetap saja melangkah merangkak begitu pelan membuat suara papan ranjang berdecit ketika ia merangkak di atas ranjang berusaha untuk mendekati Erni yang kini sudah menangis sesegukan.


"Jangan mendekat!!!" teriak Erni sambil tangannya yang meraba ke permukaan meja yang ada di sampingnya lalu meraih beberapa guci yang ada di atas meja dan meleparkannya ke arah Parakang itu.


Tubuh Erni gemetar berusaha untuk melempar dan mengangkat guci itu dengan susah payah. Sia-sia semuanya ia lakukan lemparan itu tak berhasil mengenai tubuh Parakang yang kini semakin mendekatinya.


kedua mata Erni masih menatap ke arah Parakang itu yang semakin mendekat membuat tangannya kembali merabah permukaan meja yang kini telah kosong, tak ada lagi barang-barang yang tersisa di atas meja yang dapat ia gunakan untuk melempar makhluk itu.


Raina berlari dengan tubuhnya yang telah basah kuyup karena derasnya guyuran hujan. Raina menghentikan langkahnya ketika ia telah mendengar suara teriakan dari rumah milik Erni.


"Suara siapa itu?" tanya Pang Tuo dengan wajahnya yang kini menatap Raina.


Wajah Raina datar lalu menoleh menatap Puang Tuo yang kini masih menatapnya.


"Itu suara Erni, Puang Tuo. Kita harus cepat sebelum kita terlambat!!!" teriak Raina lalu berlari.


Sementara di dalam sana kini Erni masih menjaga jarak antara ia dan sosok menyeramkan itu, Parakang.


Parakang itu melompat ke arah Erni membuat Erni dengan cepat menyingkir hingga tubuhnya terhempas ke permukaan papan. Ia menoleh menatap Parakang yang terhempas ke permukaan dinding dan kembali merangkak ke papan seakan ia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun padahal tubuhnya telah terbentur ke permukaan dinding dengan keras.


Erni menelan salivanya menatap takut pada sorot mata tajam yang penuh menakutkan.


Erni mendudukkan tubuhnya ia berniat untuk bangkit dan berlari tapi tidak bisa rasanya kakinya terasa berat dan begitu sulit untuk digerakkan.


Parakang itu mendekat dengan jalannya yang begitu pelan serta tatapannya yang terlihat begitu tajam dan menakutkan.


Erni memundurkan tubuhnya memberikan jarak antara ia dan Parakang itu yang semakin mendekatinya. Erni menggeleng dengan wajahnya yang begitu sangat ketakutan dan memohon.

__ADS_1


"Tolong jangan sakiti aku!!!" teriak Erni.


Bruk


Bruk


Bruk


Suara pukulan pintu dari luar terdengar membuat Erni menoleh ke belakang menatap ke permukaan pintu yang bergerak-gerak ketika dipukul oleh seseorang dari luar.


"Erni!!!"


"Erni!!! Buka pintunya!!!"


Bruk


"Erni!!!"


"Ini aku Raina!!! Apa yang terjadi di dalam sana?!!"


"Cepat buka pintu, Erni!!! Ini aku Raina!!!"


"Buka pintu!!!" teriak Puang Tuo.


Erni dengan cepat berlari berniat untuk membuka pintu tetapi baru saja ia melangkahkan kakinya, kakinya telah ditarik membuatnya tak mampu untuk melangkah.


Erni menoleh membuatnya bisa melihat sosok Parakang yang menggenggam erat kakinya yang kini begitu terasa panas. Rasanya ini bukan sebuah genggaman tetapi ini seperti sebuah bara api yang menyelimuti pergelangan kakinya.


"Aaaaa!!!" jerit Erni kesakitan.


Raina menghentikan pukulannya pada pintu dengan wajah paniknya.


"Raina tolong aku!!! Ada Parakang di rumahku!!!"


"Rainaaa!!!"


"Dia memegang kakiku, Raina!!!"


"Tolong aku!!! Aku tidak bisa bergerak!!!"


Di luar sana Raina bisa mendengar suara itu dengan jelas ia menoleh menatap Pang Tuo yang kini terdiam gelisah lalu ia berlari menuju jendela berusaha untuk membukanya.


"Puang, dobrak saja pintunya!!!"

__ADS_1


__ADS_2