Parakang

Parakang
40. Sadar


__ADS_3

Ia memejamkan kedua matanya sambil merentangkan kedua tangannya ke kiri dan kanan lalu....


"Indoooo!!!" teriak Raina.


Tepat di hadapan kedua mata Raina. Saoda merebahkan tubuhnya ke jurang yang cukup dalam.


"Indooo!!!" teriak Raina lagi yang langsung berlari mendekati jurang itu.


Kedua tangganya merentang, ia bertiarap di atas tanah dengan kedua tangannya yang masih merentang berusaha untuk mengapai Saoda yang sudah terlihat terjatuh di bawah sana. Tubuhnya belum menyentuh tanah yang entah ditumbuhi semak belukar atau bebatuan.


Yang Raina lihat hanya kegelapan. Kedua mata Raina memerah dengan seluruh tubuhnya yang terasa memanas menahan tangis yang siap lepas kapan saja dan air matanya yang telah menggantung.


"Indoooo!!!" teriak Raina yang menatap Saoda tenggelam dalam kegelapan jurang itu dan hilang, lenyap begitu saja.


Hilang sudah. Orang yang telah merawatnya kini telah lenyap untuk selamanya. Tak ada lagi orang yang selalu menyayanginya. Apakah seperti ini nasibnya yang telah diberikan oleh Tuhan untuknya.


Penuh penderitaan dan kesedihan. Dimana lagi ada penderitaan kisah yang seperti ini. Raina yang merupakan anak yatim piatu yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya dan kini ia pula harus ditinggalkan oleh sosok Saoda.


Apakah ini kisah tragis yang harus ia alami dalam kehidupannya. Kisah semacam apa ini?


Jari-jari Raina mengenggam erat pemukaan pinggiran tanah dengan keras. Tubuhnya bergetar merasakan sakit di hatinya yang begitu terasa perih seakan ditusuk oleh belati yang begitu tajam.


"Indooooo!!!" teriak Raina.


Tangisan Raina pecah begitu saja membuat kedua matanya meneteskan air mata.


"Kenapa Indo tinggalkan, Raina?!!"


"Hah?!!"


"Kenapa?!!"


"Raina tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Indo!!!"


Raina menghentikan tangisannya yang sesegukan itu. Ia bangkit dari tanah dan melangkah mendekati pinggiran bukit, tempat dimana ia terakhir kali ia melihat Saoda.


Tak ada harapan lagi ia hidup di dunia ini, untuk apa ia ada di sini jika tidak ada Saoda di sampingnya.


Raina menggengam jari-jari tangannya yang gemetar dan berkeringat itu. Tak ada cara lain selain melompat ke bawah sana dan ikut menyusul kepergian Saoda.

__ADS_1


Raina memejamkan kedua matanya yang kembali meneteskan air mata. Hembusan nafas terakhir yang Raina lakukan disusul kedua tangannya yang merentang ke kedua sisinya.


Ia menarik nafas dan menahannya di dada dan bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka ia merebahkan tubuhnya ke bawah jurang.


"Aaaaa!!!" teriaknya.


Kedua mata Raina terbuka dengan tiba-tiba dengan nafas yang ngos-ngosan seakan telah berlari begitu jauh. Ia menoleh ke kiri dan kanan menatap dimana ia sekarang.


Kedua mata Raina terlihat memburam dan nyaris berputar saat ia menatap sekeliling hutan yang begitu gelap. Raina meringis sambil memegang keningnya yang terasa sakit dan berdenyut tanpa henti.


"Ah!!!" ringis Raina.


Ia menyentuh sikunya yang terasa basah dan sudah jelas jika itu adalah darah.


Raina berusaha bangkit dari tanah dan duduk dengan susah payah. Rasanya seluruh tubuhnya sakit dan terasa remuk. Di waktu yang sama kini Raina teringat dengan apa yang terjadi sebelumnya.


Ia langsung menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mengetahui dimana ia sekarang. Tempat ini adalah tempat dimana ia terjatuh tadi.


Apa ia sudah mati setelah ia melompat ke jurang tadi seperti apa yang ia lakukan.


"Indoooo!!!" teriak Raina.


Raina melepaskan tangisannya. Hal yang terjadi tadi adalah mimpi, itu bukan sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi.


Raina bangkit dan berdiri tegak dari tanah sambil menahan tangis dan sakit yang begitu menyiksa tubuh dan batinnya.


Langkahnya yang pincang itu sempat membuatnya nyaris terjatuh ke tanah namun, berusaha ia tahan.


Ia memeluk sikunya yang terasa sakit dan berdenyut. Raina juga tidak mengerti, apakah tulangnya ini patah atau sudah remuk.


"Indooo!!!" teriak Raina yang kembali melangkah, ia menginjakkan kakinya yang pincang itu sambil kedua matanya yang merambah ke seluruh area hutan yang gelap gulita berusaha untuk mencari sosok Saoda.


Raina baru sadar jika yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi saat ia pingsan. Saoda belum ditemukan dan ia harus mengumpulkan kembali semua kekuatan dan tenaganya yang tersisa sedikit itu untuk mencari sosok Saoda.


Raina berjalan dengan susah payah. Sesekali ia mengusap pipinya yang basah karena air mata. Rasa sakit ditubunya itu harus ia tahan, ini tak mudah bagi tubuhnya yang lemah. Semuanya menyakitkan baginya.


"Indooo!!!"


"Indooo!!!"

__ADS_1


"I-i-indo dimana, Indo?!!"


"Tolong jangan sakiti Indo, Raina!!!" teriak Raina yang masih melangkah menyusuri hutan yang terlihat gelap gulita.


Auuuuuu


Suara gonggongan anjing yang bersahutan berhasil membuat Raina sesekali menoleh. Suara gonggongan anjing itu terdengar menakutkan. Bagaimana jika anjing liar dari hutan itu melihatnya dan mengejarnya, apa yang bisa ia lakukan jika hal itu sampai terjadi kepadanya.


Raina mendongak menatap kalilawar yang berterbangan dari pohon ke pohon serta burung hantu yang berbunyi dengan kedua mata yang nampak menyala.


Raina meneguk salivanya. Nafasnya terasa sesak jika berada di dalam kondisi menyeramkan seperti ini. Takut, ya itu yang Raina rasakan saat ini. Tak ada lagi arah jalan yang ia dapatkan ditambah lagi tak ada suara penduduk desa yang bisa ia jadikan petunjuk untuk menyelamatkan Saoda.


Tuhan, tolong Raina. Raina mohon!


...****************...


Para penduduk desa masih berlari dengan langkah yang tergesa-gesa melewati rerumputan liar yang tumbuh di tengah hutan.


Percikan air bermunculan saat puluhan kaki itu bergantian menginjakkan kakinya saat para penduduk desa melewati genangan air sungai yang tidak dalam itu.


Tanpa rasa lelah dan henti itu mereka berlari berusaha untuk tidak kehilangan jejak pada sosok Parakang yang berlari begitu kencang bahkan mengalahkan sosok seekor anjing yang melihat mangsa.


"Tangkap diaaa!!"


"Cepat!!!"


"Berhenti kau, Parakang!!!"


"Jangan lari kau!!!"


"Berhenti!!!"


Suara itu terdengar di belakang sana meneriaki sosok Parakang yang masih berlari tanpa henti. Parakang itu sesekali menoleh menatap ke arah belakang berusaha untuk melihat apakah merela semua sudah tak mengejarnya lagi namun, ribuan kali ia menoleh sosok para penduduk desa itu selalu saja terlihat.


Kedua mata tajam itu dan merah itu melirik kiri dan kanan berusaha untuk mencari jalan dan bisa ia jadikan sebagai tempat persembunyiannya.


Bruak


Tubuh Saoda terhempas ke tanah dan lemas begitu saja setelah ia tanpa sengaja menabrak sebuah batang pohon besar yang menghalangi jalannya.

__ADS_1


Para penduduk desa menghentikan larinya. Dari sini Parakang itu bisa melihat puluhan para penduduk desa yang mengelilinginya sambil mengarahkan benda tajam ke arahnya seakan siap untuk mencinccangnya secara bersamaan.


"Mau lari kemana kau sekarang, Hah?!!!" teriak Edi.


__ADS_2