Parakang

Parakang
52. Apakah Parakang Itu Ada?


__ADS_3

"Yah, kau suka melihat bintang dan bulan, tapi lihatlah sekarang kau sangat kotor maka dari itu jangan mengeluh di tengah malam kalau kau merasa gatal."


"Baik, Indo," jawab Saoda sambil tersenyum.


"Cepat naik ke atas!" pinntanya setelah melepas jaket yang Saoda kenakan.


Saoda berlari naik menaiki anakan tangga lalu langkahnya terdiam menatap pintu rumah yang terlihat gelap di atas sana. Tak ada sedikitpun cahaya yang terlihat. Hanya ada sebuah kegelapan malam yang terlihat sangat menakutkan.


Saoda berbalik lalu memutuskan untuk duduk di anakan tangga menatap Indo dan Bapaknya yang terlihat sedang sibuk mencuci pakaian yang kotor.


Tak berselang lama ia melihat Bapaknya yang mengisi ember keong itu dengan air dan menutupnya dengan seng.


"Kenapa tidak di masak saja, pak?" tanya Saoda yang membuat kedua orang itu menoleh.


"Saoda, kenapa kau belum naik?" tanya Sambe yang terlihat keherangan.


"Aku di sini saja."


"Memangnya kenapa kau tidak mau naik ke rumah?"


Saoda kini terdiam. Ia menoleh dan mendongak menatap pintu rumah yang terlihat gelap lalu kembali menatap Sambe yang kini sedang menatapnya.


"Ada apa?"


"Rumah terlihat gelap, Indo."


"Memangnya kalau gelap kenapa?"


Saoda terdiam. Ia melirik menatap Jambe yang juga sedang menatapnya.


"Ada apa? Apa kau takut?" tanya Jambe.


Saoda masih terdiam.


"Tidak mungkin dia takut. Bagaimana bisa dia takut? Dia, kan anak yang pemberani. Memangnya dia mau takut dengan apa?"


"Mungkin saja dia takut. Tanyakan saja kepadanya!"


Sambe kini menoleh menatap Saoda yang kini masih duduk diam di anakan tangga.


"Kenapa kau tidak naik ke rumah? Apa kau takut?"


Saoda mendongak dan tak berselang lama ia mengangguk.


"Takut dengan apa? Kau, kan tidak pernah takut dengan apa pun. Linta saja kau berani lalu kau takut dengan apa?"


Saoda yang sejak tadi tertunduk kini kembali menatap Sambe.


"Parakang," jawab Saoda membuat Sambe dan Jambe itu saling bertatapan.


"Parakang?" tanya Sambe membuat Saoda mengangguk.

__ADS_1


Sambe menghela nafas panjang lalu segera melangkah menekati Saoda dan berlutut tepat di hadapannya.


"Apa yang kau tahu tentang Parakang?"


"Parakang itu menyeramkan. Dia memakan orang dan jalan merangkak. Saoda takut."


"Dari mana kau tahu tentang Parakang?"


Saoda menoleh menatap Jambe yang kini dengan cepat menyibukkan dirinya dengan pakaian yang sedang ia peras.


Sambe ikut menoleh menatap suaminya sejenak lalu kembali menatap Saoda.


"Saoda, tak ada yang namanya Parakang. Sekarang naik ke rumah dan cepat tidur!"


"Parakang itu ada. Bapak menceritakannya tadi di sawah."


Sambe menghela nafas lalu mengusap rambut anaknya.


"Ya, sudah. Ayo kita naik!" ajaknya lalu meraih jari-jari tangan Saoda dan menariknya membuat Saoda dengan cepat bangkit dari anakan tangga.


Saoda berlari menuju tempat tidur dengan ranjang kayu berwarna coklat yang dialas dengan kasur kapuk. Tak ada sprei di kasur itu sehingga hanya di alas dengan sarung yang telah dibelah menjadi dua agar bisa melebar.


"Tunggu dulu!"


Saoda menghentikan larinya membuatnya kini menoleh menatap Sambe yang memegang sapu lidi dan menyapu permukaan tempat tidur.


"Apakah Indo melakukannya agar tidak ada Parakang?" tanya Saoda membuat gerakan tangan Sambe yang menyapu kasur itu terhenti.


Saoda kini terdiam.


"Cepat naik!"


Saoda berlari menaiki tempat tidurnya lalu segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kedua matanya kini melirik menatap celah jendela yang gordengnya terbuka. Tak berselang lama pandangannya teralihkan menatap tangan Sambe yang langsung menutup celah itu dengan kain gorden.


Sambe menoleh menatap Saoda yang sudah sejak tadi menatapnya.


"Apakah Indo menutupnya agar tidak ada Parakang yang melihat kita tidur?"


Sambe menghela nafas panjang.


"Saoda, Indo menutupnya agar udara dingin tidak masuk ke dalam rumah dan menggangu kau tidur. Memangnya kau mau sakit?"


Saoda menggeleng. Ditatapnya lagi Jambe yang kini melangkah masuk ke dalam kamar. Ia terlihat menarik gorden yang berhasil menutupi permukaan pintu masuk.


"Bapak, kenapa Bapak tidak membuat pintu saja di situ?"


"Memangnya kenapa?"


"Kalau Parakang masuk bagaimana? Kalau ada pintu Parakang tidak mungkin akan masuk ke dalam rumah."


Jambe hanya tersenyum. Ia melirik menatap Sambe yang kini memasang wajah datar.

__ADS_1


"Sepertinya cerita yang kau perdengarkan lumayan bagus," singgung Sambe lalu ia melangkah melewati Jambe dan naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Saoda yang langsung memeluknya dengan erat.


"Ah, nanti Bapak buatkan kamar ini pintu," ujar Jambe lalu meletakkan obor di sudut ruangan dan mematikan apinya membuat suasana kamar kini menjadi gelap gulita.


Suara jengkrik yang berbunyi memberikan kesan kesunyian dan ketentraman di malam ini. Sunyi dan sepi diiringi angin malam yang berhembus melewati celah jendela dan atap yang sedikit berlubang.


"Indo!" panggil Saoda.


"Em?"


"Apa Indo sudah menutup jendela dengan rapat?"


"Sudah. Memangnya kenapa?"


"Kalau tidak rapat mungkin Parakang bisa masuk."


"Tidak ada yang namanya Parakang."


"Lalu mengapa namanya bisa ada jika tidak ada yang pernah melihatnya."


"Parakang itu mahluk yang jahat? Atau dia mahluk yang hanya datang kepada orang yang jahat juga?"


"Dia bisa datang kepada siapa saja, Saoda terutama kepada orang yang tidak mau tidur seperti kau," jelas Sambe membuat Saoda dengan cepat tertidur.


Ia menutup kedua matanya dengan erat dengan kedua tangannya yang memeluk tubuh erat Sambe. Saoda menarik kedua kakinya dan melipatnya.


Sambe mengerutkan kedua alisnya. Baru kali ini putrinya itu tidur dengan cara seperti ini.


"Mengapa kau melipat kaki kau seperti itu, Nak?"


"Saoda takut nanti ada Parakang yang menariknya dan membawa Saoda pergi dari sini."


"Tidak usah berpikir terlalu jauh, Nak! Jika kau selalu berpikir buruk maka hal buruk pula yang akan terjadi kepada kau."


"Tapi jika kau berpikir yang baik maka kau akan mendapatkan hal yang baik pula."


"Pikiran itu mempengaruhi semuanya. Otak yang berpikir baik maka akan mempengaruhi hati dan tubuh yang baik pula."


"Ingat saja yang baik-baik maka kau akan lupa dengan hal yang buruk."


"Lupakan tentang Parakang!"


Saoda mengangguk. Entah mengapa setelah mendengar apa yang Sambe katakan membuatnya merasa nyaman. Tak berselang lama ia mulai tertidur setelah Sambe menepuk dengan perlahan bokong Saoda yang kini benar-benar telah tertidur.


"Pak, sebaiknya jangan menceritakan sosok Parakang kepada Saoda. Saoda seharusnya belum tahu sosok yang telah menakuti warga desa."


"Ya, aku tahu. Tapi, kan aku hanya menceritakan pengalaman aku."


"Aku tahu, Pak. Pengalaman kau memang banyak. Apa pengalaman itu tidak bisa di simpan dan diceritakan nanti saja."


"Harus bagaimana lagi? Sudah terlanjur."

__ADS_1


__ADS_2