Parakang

Parakang
81. Hari Yang Baik


__ADS_3

Tuo melangkah masuk ke dalam kamarnya. Sejak tadi ia tak mendengar suara langkah Saoda di dalam kamar. Sepertinya ia sudah tidur.


Tuo membaringkan tubuhnya ke atas kasur sambil tersenyum tipis. Rasanya ia begitu sangat bahagia malam ini. Ia terdiam sejenak berusaha untuk mendengar apa yang Saoda lalukan di dalam sana, tapi yang ia dapatkan tetap sama seperti tadi. Susana sunyi dan hening yang ia rasakan malam ini.


Tuo berharap agar ia bisa disatukan dengan Saoda secepatnya.


Di sebelah kamar kini senyum indah itu terlihat jelas tergambar di bibirnya. Saoda tak pernah merasakan hal sebahagia ini seumur hidupnya, jika biasanya ia tidur hanya sekedar diam dengan wajah datar sambil menatap ke arah dinding kamar, tapi malam ini terasa berbeda. Ia begitu sangat bahagia.


...****************...


Saoda terbangun dari tidurnya dengan kedua mata yang membulat. Tubuhnya kembali bergetar dan ikut berkeringat setelah lagi dan lagi ia mengalami mimpi yang sangat buruk. Mimpi apa lagi jika bukan tentang mimpi peristiwa pembakaran itu.


Saoda benar-benar tak menyangka jika ia kembali bermimpi buruk. Saoda pikir ia tak akan mengalami mimpi buruk karena ia telah tidur dalam keadaan perasaanya yang benar-benar bahagia, tapi tetap saja ia akan mengalami mimpi buruk.


Saoda mengusap kepalanya yang berkeringat itu. Baru saja ia ingin melangkah turun dari tempat tidurnya. Ia mendengar suara percakapan seseorang dari luar membuat Saoda segera bangkit dan mendekati permukaan dinding kamar beruaha untuk melihat siapa yang ada di luar sana.


Saoda yang mengintip itu bisa melihat Tuo dan Puang Dodi yang kini saling berbincang. Bukan hanya ada puang Dodi dan Tuo saja, tapi ada pria tua lain yang kini telah disajikan kopi hangat.


"Jika aku pikir-pikir mereka bisa menikah besok."


"Besok?" Tatap Puang Dodi yang begitu terkejut.


"Apa itu tidak terlalu cepat. Kami tidak punya waktu sekecil itu untuk mengatur pesta pernikahan."


"Kami juga perlu untuk memanggil para warga desa, belum lagi para warga yang berada di desa sebelah. Waktu yang sangat panjang yang kami butuhkan."


"Akad nikahnya kan boleh diawal kalau puang Dodi ingin mengadakan pesta mungkin puang bisa ambil di lain hari, toh waktu yang paling baik adalah besok."


Puang Dodi kini terdiam. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Mengadakan akad nikah untuk besok memanglah muda, tapi apa yang akan dikatakan tetangga jika tahu Tuo dan Saoda lebih dulu melakukan akad nikah sebelum acara.


Sangat mungkin para warga desa akan berpikir, jika Saoda telah mengandung lebih dulu hingga akad nikahnya tepaksa dilakukan besok.


"Apa yang engkau pikrkan puang?" tanya pria tua yang memang selalu diundang datang di setiap ada rencana adat pernikahan.

__ADS_1


Dia terkenal sebagai peramal baik dan buruk hari. Jika dia mengatakan hari ini tak baik maka di waktu itu juga acara yang telah diadakan itu akan segera dibubarkan.


Puang Dodi menghela nafas.


"Aku setuju puang dengan apa yang engkau sarankan jadi besok kita mungkin sudah bisa memulai akad nikah itu."


Pria itu mengangguk.


"Masalah akad nikah biar aku yang urus. Kau hanya perlu menyiapkan sebuah mahar yang nantinya akan diberikan kepada Saoda."


"Terima kasih, Puang. Jika bukan engkau yang mau membantu aku maka siapa lagi aku harus minta tolong."


"Baik lah. Aku sepertinya ingin pulang."


"Oh, kalau begitu mari aku antar. Aku juga ingin ke pasar untuk membeli mahar," ujar Puang Dodi lalu ia melangkah menyusul kepergian pria itu yang lebih dulu melangkah pergi.


"Tuo!" ujar Puang Dodi sebelum ia benar-benar telah turun dari rumah.


"Tolong jaga rumah! Aku ingin keluar," ujarnya lalu kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Tuo yang kini berdiri di pintu rumah.


Melihat kepergian Puang Dodi yang telah menjauh itu membuat Tuo kembali melangkah ke arah kursinya, namun langkanya tertahan setelah melihat Saoda yang terlihat diam berdiri di pintu kamarnya.


Tuo hanya mampu terdiam. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Saoda yang hanya mengunakan baju lengan ke pendek dan sarung batik yang menutup sampai ke lututnya.


Tuo meneguk salivanya saat ia menatap betis putih dan terlihat sangat mulus membuat Tuo meneguk salivanya.


Seketika nafas Tuo menjadi sesak seakan tak mampu lagi untuk mengendalikan rasa kemauannya untuk mencicipi tubuh Saoda.


Tuo menoleh ke arah pintu rumah. Sepertinya Puang Dodi benar-benar telah pergi dan yang lebih terpenting tak ada orang lain selain dia dan Saoda di rumah ini.


"Ada apa?" tanya Saoda.


Tuo menoleh. Ia tersenyum menatap Saoda dan melangkah mendekatinya dengan langkah yang begitu perlahan.

__ADS_1


"Apa kau telah mendengar semuanya?"


"Semua apa?"


"Tentang hari pernikahan kita."


Tuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Saoda yang kini terlihat begitu gugup. Tatapan Tuo seakan berbeda dengan tatapan yang selalu ia lihat disetiap harinya. Hari ini memang sangat berbeda.


Saoda mendongak menatap wajah Tuo yang begitu sangat dekat dengannya. Tuo mendekatkan wajahnya lalu ia berbisik, "Besok adalah hari akad nikah kita berdua. Tidak lama lagi kita akan resmi menjadi suami istri. Kau dan aku setelahnya bisa melakukan apa saja."


Saoda tersenyum kecil. Bukan hanya Tuo yang mengharapkan hal itu, tapi sejujurnya Saoda juga ingin hal itu.


Tuo melirik menatap bahu Saoda yang begitu indah membuat tanpa sadar Tuo menyentuhnya dan menguasapnya lembut. Tuo tak menyangka jika tubuh Saoda akan semulus ini.


Tuo kembali meneguk salivanya. Rasa ini tak bisa ia tahan. Tuo adalah pria normal dan ia membutuhkan tubuh Saoda.


Tuo menoleh menatap ke arah pintu berusaha untuk memastikan jika Puang Dodi sudah pergi.


Tuo kembali menatap Saoda dan menariknya masuk ke dalam kamar membuat Saoda mau tak mau hanya mengikut. Sesampainya di dalam kamar Tuo langsung menarik pinggang Saoda dan menempelkannya pada bagian bawahnya yang sudah mengeras.


Kedua mata Saoda membulat merasakan sesuatu yang terasa menusuk bagian perutnya.


Saoda tak menunduk. Ia takut untuk melihat benda yang sedang menusuk perutnya dan benda itu berada di balik sarung yang Tuo kenakan.


Saoda mendongak menatap wajah Tuo yang kini sedang menatapnya. Cukup lama Tuo diam sambil menatap Saoda yang hanya bisa terdiam. Ia pun tak tahu harus berkata apa.


"Apa kau mau melakukannya sekarang?" bisik Tuo membuat kedua mata Saoda membulat.


"Apa?"


"Aku ingin sesuatu dari kau. Kau ingin melakukannya sekarang atau besok?"


"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," ujar Saoda yang kini menggeliat di pelukan Tuo.

__ADS_1


__ADS_2