Parakang

Parakang
43. Pukulan


__ADS_3

Beberapa dari mereka, para warga ada yang langsung memundurkan langkahnya ke belakang berusaha untuk menghindar dari sosok Parakang yang masih menggeliat di atas tanah.


"Ada apa dengan Parakang itu?"


"Dia sepertinya terlihat ketakutan."


"Apakah dia takut dengan-"


"Benar saudara-saudara sekalian," potong puang Tuo disaat para warga penduduk desa kini saling berbisik setelah melihat tingkah aneh pada sosok Parakang itu.


"Sosok Parakang akan rakit dengan sapu lidi ini dan benda ini lah yang mujarab untuk memusnahkan dirinya," jelas puang Tuo.


"Aaaaaaa!!!" teriak Parakang itu yang sejak tadi berteriak tanpa henti seakan melihat sapu lidi ini bukan hanya sebuah sapu tapi lebih mengerikan dari sebuah senjata tajam.


Tali itu terbentang membuat para warga dengan cepat memegang dan menarik tali itu dengan sangat kuat membuat beberapa para warga ada yang terjatuh saat menariknya. Mereka semua akui jika ketakutan Parakang itu benar-benar terlihat jelas.


"Pegang talinya dengan kuat!!!" teriak puang Tuo lalu segera melangkah mendekati sosok Parakang dengan langkahnya yang penuh hati-hati.


Semakin dekat puang Tuo melangkah mendekatkan jaraknya kepada sosok Parakang itu maka semakin kuat pula sosok Parakang itu berteriak dengan sorot mata tajam yang terlihat begitu marah.


Para warga desa juga semakin memperkuat pegangannya secara beramai-ramai. Puang Tuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Parakang yang tengah memberontak itu.


Puang Tuo menatap sosok Parakang yang masih memberontak, bergerak ke sana kemari tak jelas. Puang Tuo memejamkan kedua matanya dan mengangkat sapu lidi itu ke atas.


"Bismillahiramani, O puang malembbi e engka ni ia tau ma lemma e sibawa tau maega e nasaba engka si tau pajaji masalang-salang e ia na tu manjaci Parakang."


"O puang pa punna esso si bawa wenni pa peddiri i nappa pakka sesak pa pineddina Parakang ia narekko na kenna i iyye passering adidi iyye."


"Na saba idi mi puang mulle puno i Parakang iyye."


"Ku amba i Parakang iyye ri lino lettu to ahera, kun faya kun!!!"


Puang Tuo membuka kedua matanya dengan cepat dan tajam membuat Parakang yang semakin memberontak itu berteriak semakin kencang.


"Allah hu Akbar!!!"


Puang Tuo kembali berteriak dengan keras lalu dengan cepat ia mengarahkan sapu lidi itu ke arah Parakang yang masih memberontak dan berteriak sangat kencang bahkan suara teriakannya berhasil membuat popohonan itu bergerak karena terbangnya burung-burung ke sana kemari.


"Indooooo!!!" teriak Raina yang entah datang dari mana langsung berlari berniat untuk mendekati sosok Indonya yang begitu sangat menyakitkan hatinya.


Ia tak tega melihat sosok Indonya yang diikat selayaknya seekor hewan buas yang bisa menyerang para warga desa.

__ADS_1


"Pegang dia!!!" teriak Puang Tuo dengan nada suaranya yang begitu sangat keras membuat beberapa para warga dengan cepat berlari ke arah Raina.


"Rainaaa!!!" teriak seseorang yang langsung mendorong Raina dari arah kanan membuat tubuh Raina terhempas ke tanah dengan sangat keras.


Tubuh Raina terhempas begitu sangat keras ke atas permukaan tanah yang terdapat bebatuan kecil membuat pipi kanannya juga terhempas dengan sangat keras mengenai bebatuan itu.


Raina menoleh dengan cepat menatap sosok orang yang telah mendorongnya hingga dari sini is bisa melihat sosok Erni yang nampak ngos-ngosan dengan dadanya yang terlihat kembang kempis serta kedua bibirnya yang terbuka.


"Erni?" Tatapnya tak menyangka.


Raina segera bangkit dari tanah, mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya yang terasa bertubi-tubi rasa sakitnya.


Erni yang melihat Raina yang nampak berusaha untuk melangkah dengan cepat memegangnya dengan erat agar ia tak dapat mendekati Puang Tuo yang sedang menoleh ke arahnya.


"Jaangaan!!!"


"Tolong lepaskan akuuu!!!"


"Lepaskan aku!!!"


"Tolong!!! Tolong jangan sakiti Indokuuuuu!!!"


"Erni!!! Lepaskan aku!!! Dasar penghianat!!!"


"Lepaskan aku!!!"


"Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orang tua dan hanya seorang nenek yang ada di samping aku!!!"


"Lepaskan aku!!!"


Erni tak pernah menjawab setiap apa yang Raina katakan dengan suara teriakannya yang rasanya siap menembus gendang telinganya.


"Lepaskan!!!!"


Raina menoleh ia menatap puang Tuo yang kini kembali sudah kembali menatap ke arah Parakang yang memberikan tanda jika ia sudah kembali siap untuk berhadapan dengan sosok Parakang yang kini semakin meronta.


"Puang Tuo!!!"


"Oh Puang, tolong jangan sakiti Indokku!!!" teriak Raina.


Bruak!!!

__ADS_1


Satu pukulan sapu lidi dengan sangat keras itu berhasil menghantam kepala Parakang yang langsung terhenti suara teriakannya dengan kedua mata membulat nyaris keluar. Lidah panjang dan hitam itu langsung keluar dari mulutnya yang langsung mengeluarkan banyak darah.


Tubuh Parakang itu bergetar dan nampak seperti orang yang sedang kejang-kejang.


"Lepaskan talinya!!!" teriak puang Tuo membuat para warga dengan cepat melepas tali itu dan membiarkan Parakang itu bergetar di atas tanah seperti ayam yang telah di potong.


Seketika Raina berhenti memberontak dengan kedua matanya yang langsung terbelalak kaget dengan pandangannya yang langsung memburam hingga tetesan air mata itu tak mampu lagi ia tahan.


Erni melepaskan pegangannya yang erat itu membuat Raina jatuh tersungkur di atas tanah dengan lemas. Kedua matanya menatap nanar pada Indonya yang menggeliat di atas tanah.


Dadanya terasa sesak dan rasa sakit menghantam dadanya begitu sakit dan berdenyut begitu saja setelah mendengar teriakan dan melihat hal yang begitu sangat menyayat hati.


"Indoooo!!!" teriak Raina yang begitu menggelegar.


Ia mendongak menatap langit gelap yang kini telah meneteskan air hujan yang belum terlalu deras.


Raina menjambak rambutnya dengan keras sambil memejamkan kedua matanya dengan erat hingga beberapa tetesan air mata itu menetes membasahi pipinya.


Kedua mata Raina terbuka dengan tiba-tiba, ia teringat sesuatu dengan satu hal. Raina batu ingat dengan apa yang pernah puang Tuo katakan yaitu sosok Parakang yang mendapat satu pukulan akan tersiksa dengan rasa sakit namun jika mendapat dua kali pukulan maka tidak akan ada yang bisa mengalahkannya dan itu berarti ia tidak akan kehilangan Indonya.


Raina mengusap kepalanya lalu segera bangkit dan berlari ke arah puang Tuo namun dengan cepat pula Erni berlari dan memegang erat pergelangan tangan Raina.


Raina menoleh lalu dengan cepat menghempaskan tangan Erni yang memegangnya dengan erat.


"Lepaskan aku!!!"


"Tidak akan!!!"


"Dasar bodoh kau, Erni!!! Lepaskan aku!!!"


"Tidak akan!!!"


"Kau tidak tahu bagaimana perasaan ini, Erni. Kau tidak akan tahu!!!"


"Tapi kau juga jangan lupa dengan apa yang telah dilakukan oleh Indo kau itu!!!"


Raina kini terdiam. Ia tak lagi berteriak dan meronta agar segera lepas dari Erni yang masih memegangnya.


"Kau lupa dengan apa yang telah Indo kau lakukan kepada keluarga aku, Raina?"


"Apa kau lupa?" tanya Erni lagi.

__ADS_1


__ADS_2