Parakang

Parakang
24. Bantu


__ADS_3

"Ada apa, Nak?"


Raina menoleh menatap kedua sorot mata Puang Tuo yang begitu sangat serius seakan begitu sangat peduli kepada Raina yang kini terlihat sangat ketakutan.


"Katakanlah, Nak!"


Bibir Raina bergetar karena masih sangat takut. Ia tak tahu harus mengatakan apa kepada Puang Tuo yang masih terdiam di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan di tempat ini?"


"Ini sudah larut malam, tidak baik seorang gadis berkeliaran di malam seperti ini."


"Hey, Nak! Apa kau mendengar aku?"


Raina masih terdiam. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi entah mengapa hal ini begitu sangat sulit dan tertahan di tenggorokannya.


"Ada apa?"


Raina menarik nafas sesaknya yang terasa tertahan di dadanya. Ia menoleh menatap kesekelilingnya seakan takut jika Saoda akan datang.


"Ada apa?"


"A-a-aku in-igin mengatakan sesuatu," ujarnya akhirnya.


Puang Tuo kini terdiam dengan wajah bingungnya menatap keanehan pada Raina.


"Katakan!"


...****************...


Puang Tuo menghela nafas berat setelah sejak tadi menanti Raina bicara. Kini keduanya telah berada di dalam masjid diterangi oleh cahaya api obor yang berada di dinding masjid.


Tangan Raina bergetar saat memegang gelas berisi teh hangat. Bibirnya gemetar saat ia merapatkan bibirnya ke permukaan bibirnya yang terasa membeku.


Raina meletakkan gelas itu ke piring kecil, wajahnya masih pucat karena takut.


"Katakanlah, Nak! Ada apa?"


Raina mendongak menatap Puang Tuo yang telah sabar menunggunya untuk bicara.


"Puang Tuo, tolong bantu aku!" ujarnya sambil mengangkat kedua tangannya dan memohon penuh harap.


"Yah, aku akan membantumu. Katakanlah, Nak!"


"Tapi tolong jangan beritahu hal ini kepada orang lain. Aku takut jika ini akan menambah masalah. Aku tak-ut."


Tangisan Raina pecah sambil menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.


Puang Tuo menghela nafas lalu mengangguk. Ia menyentuh punggung Raina dan menepuknya dengan pelan.


"Tenang saja, Nak! Aku akan menyembunyikan rahasia ini."


Raina mendongak menatap Puang Tuo yang terlihat tersenyum walau dari raut wajahnya Raina bisa melihat ada kegelisahan di sana.


"Tidak akan ada yang tahu, percayalah!"


Raina menghela nafas. Ia tak tahu harus memulai kisah ini dari mana.


"Aku pernah bertanya tentang Parakang kepada engkau, Puang."

__ADS_1


"Karena sejujurnya aku curiga kepada Indo aku yang tinggal di rumah bersama denganku adalah seorang Parakang."


Kedua mata Puang Tuo membulat menatap tak menyangka dengan apa yang Raina katakan kepadanya.


"Parakang?"


Raina mengangguk walau sejujurnya ini begitu sangat berat.


"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa Indo aku itu berubah menjadi Parakang. Yang selalu membuat aku curiga adalah Indo yang selalu pergi di jam dua belas malam dan pulang sebelum mata hari terbit."


"Setiap kali ia pulang ke rumah maka aku yang selalu membukakannya pintu."


"Sumpah demi apapun itu, Puang. Tubuh Indo aku berbau darah, wajahnya terlihat pucat dan menakutkan."


Tangisan Raina pecah lalu tak berselang lama ia mencoba untuk menghentikan tangisannya. Menyumbat mulutnya dengan keras dan mengusap pipinya yang basah itu.


"Setiap ia pulang sebelum matahari terbit maka setiap itu pula kematian salah satu warga desa terjadi. Aku selalu melihat kain putih yang terpasang di depan rumah warga desa."


"Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menunggu sampai jam dua belas malam."


"Hingga pada saat itu hal yang tidak pernah ke harapkan terjadi."


"Aku melihat dengan jelas walaupun pada saat itu kamar dalam keadaan gelap."


"Aku melihat dia melayang ke atas kasurnya lalu terjatuh dan kondisinya sudah berubah menjadi sosok Parakang."


"Indo aku seorang Parakang, Puang Tuo."


"Dia yang telah membuat Istri dan anak dari Puang Edi meninggal, Indo Bayang dan yang terakhir Puang Bakri."


Puang Tuo menghela nafas berat. Ia menggeleng sejenak seakan tak percaya dengan apa yang Raina katakan.


"Dia ingin balas dendam, Puang," ujar Raina.


"Balas dendam untuk apa?"


Raina menggeleng, "Aku juga tidak tahu."


Bruak


Raina dan Puang Tuo menoleh menatap ke samping masjid menatap pinggiran atap rumah yang terhempas karena ditiup oleh kencangnya angin malam yang bertiup.


Keduanya bisa merasakan hawa dingin beraroma air hujan dengan langit yang begitu mendung, yah, sepertinya akan turun hujan yang mungkin saja akan sangat lebat malam ini.


Puang Tuo melangkah ke arah teras masjid lalu mendongak sejenak menatap langit.


"Sepertinya akan turun hujan lebat," tebaknya.


Raina yang merasa gelisah itu menoleh kiri dan kanan berusaha untuk mencari jam yang berada di dinding masjid. Kedua mata Raina membulat menatap jarum jam yang menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit."


"Puang Tuo!!!" teriak Raina yang begitu ketakutan.


Ia berlari dan berlutut di kaki Puang Tuo yang tertunduk dengan raut wajahnya yang kebingungan.


"Ada apa?"


"To-to-tolong selamatkan Erni!"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Parakang Pa-pa-parakang akan memakan Erni. Di jam dua belas malam Parakang itu akan keluar rumah lalu menyerang Erni."


"Bagamana kau bisa tahu?"


"Aku tahu semuanya, Puang. Aku tahu semuanya."


"Tolong bantu aku, Puang! Tolong bantu aku!"


Raina terisak begitu memilukan dengan air matanya yang sudah tumpah ruah membasahi pipinya.


"Tapi aku tidak bisa, Nak."


Tangisan Raina terhenti dengan kedua matanya yang begitu sangat terkejut seakan tak percaya dengan apa yang Puang Tuo katakan.


"Apa?"


"Aku sudah lama berhenti untuk memburu Parakang."


"Tapi ini kepentingan sebuah nyawa, Puang. Aku mohon!"


"A-a-aku memang ti-tidak punya banyak uang untuk membayar engkau tapi ini menyangkut nyawa seseorang, Puang!"


"Tolonglah bantu aku, Puang!"


"Tolong bantu aku!"


"Siapa yang bisa membantu aku jika bukan engkau, Puang."


"Kedua orang tuaku telah lama meninggal. Aku tidak punya keluarga selain Indo aku yang kini sudah menjadi Parakang."


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Puang."


"Tolong bantu aku! Aku mohon!" ujarnya lagi sambil bersujud di kaki Puang Tuo.


Tak berselang lama Puang Tuo kini mengerutkan dahinya merasa aneh pada apa yang Raina katakan. Ia mendunduk dan membantu Raina untuk berdiri dengan tegak.


"Kedua orang tuamu telah meninggal?"


Raina mengangguk cepat.


"Dimana kau tinggal, Nak?"


"Di himpitan hutan dan kebun bekas kampung dulu."


Kedua mata Puang Tuo terbelalak kaget.


"Siapa nama Indo kau itu?"


"Saoda," jawanya.


Kedua tangan Puang Tuo yang memegang erat kedua lengan Raina langsung terlepas.


"Saoda?"


Raina mengangguk.


Puang Tuo terdiam dengan kedua matanya yang bergerak kiri dan kanan seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Bawa aku ke rumah Erni!"

__ADS_1


__ADS_2