
"Lihat dia sekarang cemberut seperti kerbau!" Tunjuk Puang Dodi.
Saoda tertawa cekikan apalagi disaat Tuo yang meniru suara kerbau dengan suaranya yang sama persis dengan seekor kerbau.
"Kau harus tahu, Nak."
"Kau tidak perlu terlalu larut dalam sebuah kepedihan. Ingat saja, jika suatu yang terjadi di dunia sudah diatur oleh Tuhan."
"Kematian Jambe dan Sambe sudah ditentukan oleh Tuhan. Tuhan sudah mentakdirkan semuanya. Apa pun yang terjadi sekarang itu atas izin Tuhan."
"Lalu apakah itu berarti Tuhan juga mengisinkan para warga desa berbuat kejahatan?"
Seketika puang Dodi terdiam sejenak. Ia tersenyum lalu mengelus rambut putri dari sahabatnya itu.
"Kau benar-benar anak yang cerdas, Nak. Kedua orang tua kau pasti sangat mendidik kau dengan baik."
Puang Dodi kini menghela nafas panjang. Ia menatap ke arah matahari yang terlihat nyaris terbenam membuat langit yang luas itu kini menjadi orange.
"Kita tidak tahu. Hanya Tuhan yang mengetahui semuanya. Hanya Tuhan yang mengetahui itu semua."
"Sekarang dengar, Nak! Jika saja aku memutuskan untuk bunuh diri dulu maka aku tidak akan memiliki istri dan anak seperti Tuo."
"Indo dari Tuo juga telah meninggal, Nak. Tak ada lagi yang bisa menjadi penggarap. Aku juga tidak bisa membesarkan Tuo seorang diri."
"Tapi aku mencoba untuk menjalani semuanya dengan sabar dan akhirnya aku bisa menghidupi dan membesarkan Tuo."
"Aku juga sering berkata pada diri aku sendiri jika aku tidak mungkin bisa membesarkan Tuo sendiri tapi Tuhan seakan memberi jawaban lain."
"Aku bisa menghidupinya sendiri walaupun ia hidup tanpa ada rasa kasih sayang dari seorang Indo."
Tuo mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Entah mengapa ia bisa menjadi cengeng seperti ini.
Tuo bangkit dari duduknya lalu segera memeluk tubuh Bapaknya yang terlihat tersenyum.
"Lihat! Dia sekarang menangis seperti kerbau!" ujar puang Dodi yang membuat Tuo yang menangis itu langsung tertawa.
Puang Dodi tersenyum lalu segera mengelus kepala Tuo. Saoda ikut tersenyum saat Puang Dodi juga ikut mengelus kepalanya.
__ADS_1
"Nak, terkadang kita merasa jika Tuhan tidak adil dalam melakukan segala hal. Namun, yang perlu kita tahu adalah semua kisah yang telah terjadi telah ditentukan oleh Tuhan."
"Dan apa yang telah terjadi hari ini memiliki alasan yang kita juga tidak tahu apa itu."
"Tidak usah bersedih, Nak! Kau harus percaya kalau kau itu tidaklah sendiri."
"Sekarang kau itu tidak sendiri, Nak. Di sini ada aku dan juga Tuo."
"Anggap saja aku adalah Bapak kau sendiri dan Tuo adalah saudara kau sendiri."
"Aku tidak punya anak perempuan dan sekarang kau sudah menjadi anak perempuan aku yang begitu cantik."
"Kau juga telah punya kakak laki-laki seperti Tuo. Lagipula Tuo juga tidak memiliki adik atau bahkan teman bermain."
"Dan..."
Puang Dodi menoleh menatap Tuo dan mengusap rambutnya yang agak sedikit berantakan itu.
"Dan sekarang kau juga sudah punya adik perempuan dan teman bermain."
"Kau seperti Bapakku," ujar Saoda membuat puang Dodi tersenyum.
"Benarkah?"
Saoda mengangguk.
"Bapakku juga selalu menceritakan sebuah kisah sama seperti yang kau lakukan sekarang."
"Tapi sekarang kau mengerti, kan dengan kisah yang aku ceritakan?"
Saoda mengangguk dengan pelan dan tak berselang lama Puang Dodi bangkit dari duduknya sambil memegang kedua tangan Saoda dan Tuo yang juga ikut bangkit.
"Mari kita pergi!" ajaknya lalu menarik kedua anak yang kini mengikut tanpa ada penolakan.
Disaat ia berjalan, Saoda menoleh menatap dua makan baru yang masih terpasang dua bendera putih yang bergerak saat ditiup oleh kencangnya angin sore.
"Indo, Bapak! Aku tahu engkau bisa melihat Saoda di sini."
__ADS_1
"Aku tidak tahu apakah aku bisa hidup seperti aku hidup bersama engkau berdua."
"Aku sudah lelah menangis, tapi kalau aku tidak menangis rasanya sangat sakit."
"*Aku mungkin tetap akan membalaskan dendam ini kepada mereka semua yang telah memisahkan kita menjadi seperti ini."
"Aku tidak akan membiarkan mereka semua hidup bebas dan bahagia*."
"Bapak, Indo. Saoda berjanji akan menghukum semua orang yang telah terlibat dalam kejadian pembakaran itu."
"Saoda berjanji!"
Entah berapa lama waktu yang ia tempuh agar ia bisa sampai di sebuah rumah kayu yang dindingnya terbuat dari kayu batang kelapa. Atapnya terlihat terbuat dari genteng merah tanah liat.
Tak mudah untuk bisa sampai di rumah ini. Mereka bertiga harus melewati sungai bebatuan yang airnya tidak terlalu deras dan dalam, hanya saja batu yang berlumut mengharuskan mereka lebih berhati-hati dalam melangkah karena salah sedikit salah satu dari mereka bisa saja terpeleset dan jatuh ke sungai.
Disaat mereka melewati sungai, disaat itu Saoda mebolrh menatap pinggiran sungai dimana Indonya selalu menghabiskan waktunya untuk mencuci pakaian sementara dirinya akan mandi dan bermain air.
Saoda menoleh menatap padang rumput hijau dimana terlintas kenangan disaat ia bermain bersama Bapaknya. Jika seperti ini mungkin ia sudah bermain air sambil menemani Indonya yang begitu serius mencuci pakaian dan juga menunggu sosok Bapaknya yang akan pulang membawa beberapa ikan hasil tangkapannya.
Begitu sangat indah masa-masa itu apalagi disaat ia pulang dan tertawa bahagia ketika ia duduk di atas leher Bapaknya yang dengan baiknya berlari tanpa pernah mengeluh lelah.
Saoda tentu saja akan mengingat kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya. Sebuah kisah indah keluarga yang kini hanya tinggal sebuah cerita yang tersimpan dalam sebuah ingatannya.
Setelah itu mereka harus melewati beberapa petak sawah yang kini masih berlumpur. Belum ada petani yang menanam padi di sawah karena bibit padinya yang masih muda.
Disaat itu Saoda kembali menoleh menatap sawah milik Bapaknya. Tempat dimana ia datang mencari keong untuk dijadikan lauk makan malam sekaligus sebagai makanan perpisahan antara ia dan juga terhadap kedua orang tuanya yang tak akan pernah datang lagi.
Disaat makan malam itu juga telah menjadi makan malam terakhirnya serta suapan dari Sambe telah menjadi suapan terakhirnya yang kini benar-benar telah menjadi kenangan yang tak mampu ia ulang.
Ini semua karena orang-orang jahat itu. Saoda mendengus kesal. Membahas mereka semua dan kenangan pahit itu selalu saja membuatnya kesal. Saoda ingin menghukum mereka semua, tapi itu semua tak mudah seperti apa yang ia pikirkan.
Saoda menghentikan langkahnya tepat di hadapan rumah itu. Ia menoleh menatap Tuo yang kini memberikan rumput kepada kerbau-kerbaunya yang memiliki tubuh yang begitu sangat besar.
Saoda kembali menoleh menatap puang Dodi yang kini juga sibuk mengusir ayam-ayamnya agar segera masuk ke dalam kandangnya karena hari yang sudah semakin gelap.
"Apa kau tidak mau naik?"
__ADS_1