
Raina menyandarkan tubuhnya ke pintu dengan perasaan sedihnya. Ia duduk dan menatap nanar pada dirinya di pantulan cermin. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Saoda begitu sangat marah bahkan sampai membentaknya seperti itu.
Raina mengusap pipinya dengan diiringi helaan nafas yang berhembus dari mulutnya. Ia tak boleh membiarkan Erni mati di tangan Saoda. Sudah cukup kematian kedua orang tua Erni dan Neneknya, tak perlu Erni juga yang menjadi sasaran Saoda. Harus berapa banyak orang lagi yang ia jadikan sebagai sasarannya.
Mulutnya saja yang mengatakan jika Erni adalah calon terakhirnya, tapi kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
...****************...
Malam menjelang, suara lolongan anjing terdengar bersahutan dengan suara burung hantu dan kalilawar yang bergantian. Raina kini masih terdiam di dalam kamarnya sambil sibuk terdiam memikirkan sesuatu. Sejak tadi tubuhnya gemetar karena takut, yah sampai sekarang ia belum mendapatkan jalan keluar dari masalah ini.
Bagaimana caranya ia menyelamatkan Erni?
Raina melangkah mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya memikirkan hal ini. Ia meremas jejari tangannya yang gemetar dan berkeringat dingin.
Raina menoleh menatap jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam, sisa empat jam lagi sebelum Saoda berubah wujud menjadi sosok Parakang. Ia masih punya waktu untuk menyelamatkan Erni, tapi bagaimana caranya?
Raina kemudian menghentikan langkahnya saat sebuah nama tersirat pada pikirannya. Yah, Puang Tuo, pria itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan Erni. Puang Tuo adalah mantan pemburu Parakang dan mungkin saja ia bisa melindungi Erni dari serangan Saoda.
Raina mengangguk pelan, sepertinya itu cara yang lumayan baik. Raina melanghkan kakinya menuju lemari kayu dan membukanya. Ia meraih kain selendang hitamnya dan mengalungkannya ke atas kepalanya.
Raina yang berniat untuk membuka pintu kini tertahan langkahnya setelah mengingat sesuatu. Kalau ia memanggil Puang Tuo apakah itu berarti Saoda akan terluka atau dihukum oleh Puang Tuo.
Raina menghela nafas panjang. Siapa yang akan ia pilih kali ini? Ia juga tak mungkin melihat Saoda ditangkap oleh Puang Tuo, tapi ia juga tidak mungkin membiarkan Saoda menyakiti Erni, sudah cukup banyak yang menjadi korban dari kejahatan Saoda.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Raina terdiam sejenak. Ia menoleh mematap dinding kayu yang menjadi perbatasan antara kamarnya dan kamar Saoda.
Tak disangka air matanya menetes pilihnya bersamaan dengan helaan nafas beratnya. Ia tak mungkin juga membiarkan orang yang telah susah payah membesarkannya ditangkap oleh Puang Tuo, tapi Raina sadar jika ini adalah salah.
Raina mengusap pipinya, dengan berat hati ia harus memutuskan semuanya. Sejenak ia tertunduk kini ia menoleh menatap dinding kamar Saoda.
"Maafkan aku, Indo. Sekali lagi Raina minta maaf. Maafkan Raina jika Raina punya salah."
"Maafkan Raina karena kali ini Raina memilih orang lain."
"Tapi ini keputusan yang benar, aku tidak tahu aku memihak pada orang lain, tapi yakinlah aku memihak pada kebenaran."
Raina membuka pintu kamar dengan pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi sedikit saja sambil sesekali ia menoleh ke arah pintu kamar Saoda, ia takut jika Saoda sampai melihatnya.
__ADS_1
Raina membuka pintu kamar dengan pelan lalu melangkah keluar dari rumah dan menutupnya dengan pelan pula bahkan tak terdengar suara sedikitpun.
Krek
Raina memejamkan kedua matanya dengan rapat sambil menggigit bibirnya dengan keras saat suara pintu itu terdengar. Walaupun suara itu tidak terlalu besar tapi tetap saja malam yang sunyi bisa membuat suara kecil jadi terdengar besar.
Raina menahan gerakan tangannya, ia mengintip di celah pintu yang belum sepenuhnya tertutup. Kedua matanya menatap permukaan pintu kamar Saoda yang terlihat aman-aman saja. Yah, semoga saja Saoda tidak terbangun dari tidurnya itu.
Raina menahan nafasnya lalu menarik pelan pintu untuk menutupnya dengan rapat. Raina berpaling membuat kedua matanya menatap pemandangan menyeramkan dari hutan dan kebun serta jalanan panjang yang begitu gelap.
Melihatnya membuat detak jantung Raina berdetak sangat cepat membuat tubuhnya berhasil gemetar karena ketakutan. Raina menelan salivanya. Ia tidak boleh takut lagipula ia harus cepat datang ke rumah Puang Tuo dan meminta tolong kepadanya.
Raina melangkahkan kakinya menuruni anakan tangga dengan pelan berusaha untuk tidak menghasilkan suara sedikitpun. Kali ini ia harus hati.
Sejujurnya berjalan dalam keadaan yang penuh ketakutan begitu sangat menyiksanya. Rasanya ada benda berat yang bergelantungan di kakinya sehingga sulit untuk melangkahkan kakinya menuruni anakan tangga.
Sesekali Raina menghentikan langkahnya disaat suara kecil dari tangga terdengar saat ia melangkah turun dari tangga. Raina menoleh menatap pintu rumah yang masih tertutup rapat.
Raina berlari mengendap-ngendap ketika ia berhasil turun ke halaman rumah dan berlari kencang ketika ia telah cukup jauh dari rumah melewati jejeran pohon besar nan tua.
Raina sesekali menoleh menatap ke arah belakang menatap rumah yang hanya disinari oleh cahaya rembulan. Raina merapikan selendang hitam yang terjatuh ke bahunya dan kembali memasangnya ke atas kepala.
Ia berlari kencang diiringi suara gonggongan anjing yang bersahutan tanpa henti membuat Raina menoleh menatap burung-burung hantu yang ikut menatapnya membuat Raina meneguk salivanya karena takut.
Raina menelan salivanya menatap ke arah masjid membuatnya tersentak kaget ketika suara lolongan anjing terdengar. Raina berlari menghampiri masjid dan menatap ke sana kemari berusaha untuk mencari sosok Puang Tuo yang tak terlihat.
"Assalamualaikum!!!" teriaknya sambil sesekali menoleh ke seluruh masjid yang masih terlihat sunyi.
Tak ada jawaban dari dalam sana, sunyi dan sepi.
"Assalamualaikum!!!" teriaknya lagi.
Hening, tak ada jawaban.
Raina menelan salivanya, entah mengapa tak ada jawaban dari dalam sana. Raina menoleh menatap rumah tua yang ada di samping masjid membuat Raina dengan cepat berlari menuju rumah tua itu.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Assalamualaikum!!!"
"Puang Tuo!!!"
"Assalamualaikum, Puang Tuo!!! teriaknya lagi.
Tak ada jawaban membuat Raina dengan cepat kembali mengetuk pintu berharap Puang Tuo membuka pintu.
Raina meremas jari-jari tangannya yang gemetar yang gemetar itu, entah mengapa Puang Tuo tak membuka pintu rumah.
"Puang Tuo, Hah!!!" teriaknya kaget setelah seseorang menyentuh bahunya membuatnya terhempas ke depan pintu.
Tubuh Raina terhempas ke permukaan pintu rumah, ia berniat untuk berlari menjauh. Apa mungkin itu sosok Saoda?
"Aaaaa!!! Ampun!!!" teriak Raina sambil memeluk tubuhnya dan sesekali menutup telinganya.
Raina benar-benar takut sekarang.
"Heh anak muda!!!"
"Ampun, Indo!!!"
"Sadarlah, Nak! Ini Puang Tuo!!!"
Suara itu terdengar sambil menyentuh pergelangan tangan Raina membuat teriakan Raina terhenti, kedua matanya langsung terbuka menatap Puang Tuo yang kini memegang kedua bahunya sambil menatapnya yang kini wajahnya begitu pucat, tubuhnya pun terasa dingin mengigil karena takut.
Puang Tuo kini mengerutkan alisnya menatap Raina yang kini gemetar. Yah, sudah jelas jika tatapannya itu seakan sedang menerkanya. Ia tersenyum tipis saat ia mengingat jika gadis yang ada di hadapannya adalah gadis yang selalu ia tunggui kedatangannya.
"Kau anak muda itu?"
Raina meneguk salivanya lalu memutuskan untuk mengangguk membuat bibir pucatnya bergetar.
"Akhirnya kau datang juga menemui aku."
"Aku sudah bilang kalau kau akan datang dan mencari aku."
"Kau kenapa, Nak?"
__ADS_1
Raina kini terdiam, ia menoleh menatap ke arah belakang Puang Tuo dengan wajah takutnya membuat Puang Tuo ikut menoleh menatap ke arah pandang Raina.
"Ada apa, Nak?"