Parakang

Parakang
103. Jalan Menuju Rumah Puang Banga.


__ADS_3

Yang Saoda pikirkan adalah ia harus cepat menjauh dari rumah dan semoga saja tidak ada orang yang melihatnya di sini.


Saoda terus berlari dengan susah payah melewati beberapa semak-semak yang berhasil menggores betisnya yang cukup mulus itu. Ia harus jauh dari rumah sekarang. Sesekali Saoda menoleh menatap ke arah belakang yang terlihat gelap.


Saoda hanya ingin memastikan kalau tidak ada yang melihat atau sekedar melihatnya di sini.


Tak perduli apa pun yang Saoda akan hadapi di depan sana, Saoda tetap berlari hingga tak berselang lama Saoda menghentikan larinya.


Saoda memegang dan memeluk erat permukaan batang pohon untuk menjadikannya penopang agar ia tidak jatuh. Kedua bibirnya terlihat terbuka dengan gerakan dada yang naik turun.


Ia berusaha untuk mencari pasokan udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak itu.


Sepertinya ia sudah cukup jauh. Saoda mengusap dahinya yang telah basah itu bahkan keringat itu telah mengalir ke dadanya membuat sebagian pakaian yang melekat pada tubuhnya itu menjadi basah.


Setelah cukup merasa tenang kini Saoda menoleh menatap ke segala arah. Kedua matanya bisa melihat pemandangan pepohonan tinggi dan lebati yang nampak diterangi oleh paparan cahaya rembulan yang bersinar.


Entah, dimana ia sekarang. Saoda pun tak mengerti. Ia telah berlari tanpa arah. Apa ia telah tersesat?


Suara burung hantu, dan gagak itu terdengar membuat Saoda mendongak menatap burung-burung hantu yang berterbangan di atasnya.


Saoda menyentuh kepalanya. Ia sedikit tertunduk saat salah satu burung gagak itu nyaris terbang dan hinggap ke atas kepalanya.


Saoda meneguk salivanya. Ia tersentak kaget setelah mendengar suara gonggongan anjing yang bersahutan membuat Saoda merasa ketakutan.


Seketika Saoda bisa merasakan jika tubuhnya yang diterpa angin malam ini menjadi merinding tak karuan. Saoda mengelus lengan tangannya dan kembali melangkah.


Langkah Saoda kini tak secepat tadi, jika tadi ia berlari maka kali ini berjalan dengan pelan dan hati-hati.


Ia sesekali melirik menatap ke arah batang pohon besar yang ia lewati dengan tatapan yang penuh mengintai. Entah mengapa rasanya Saoda merasa sangat takut.


Bagaimana bisa Saoda tidak merasa takut jika ia kini telah berada di dalam kebun milik warga desa. Saoda bahkan takut dan khawatir jika ada warga desa yang berada di dalam kebunnya.


Bukan karena apa, tapi terkadang ada beberapa warga desa yang sengaja datang dan menginap di kebun untuk menjaga tanaman kebunnya yang sering diserang oleh segerombolan babi.

__ADS_1


Saoda yang melirik ke segala arah itu menghentikan langkahnya setelah mendengar suara seorang pria yang suaranya terdengar berbeda. Sepertinya sumber suara itu tidak berasal dari satu orang saja, tapi ada beberapa.


Saoda menoleh dan melangkahkan kakinya dengan pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Ia menghentikan langkahnya dan dengan cepat bersembunyi di balik pohon besar ketika dari kejauhan ia melihat sosok dua pria yang sedang duduk di rumah kebun yang ukurannya tidak terlalu besar.


Helaan nafas panjang berhasil lolos dari indra penciuman Saoda. Harus apa ia sekarang? Saoda tak mungkin melanjutkan langkahnya dan membiarkan dua pria itu melihatnya.


Jika itu terjadi maka itu akan menjadi masalah baru baginya dan mungkin saja mereka semua akan mencurigai Saoda adalah sosok Parakang. Saoda tak mau jika hal itu terjadi.


Dari sini Saoda bida melihat area persawahan yang sudah cukup dekat darinya. Tak lama lagi ia akan keluar dari desa ini dan selanjutnya ia akan melewati area persawahan, sungai, desa tetangga dan hutan belantara.


Sepertinya Saoda harus berbuat sesuatu. Sebelum jam dua belas malam ia sudah harus ada di rumah puang Banga.


Saoda mendongak menatap ke arah bulan. Dari jarak bulan dan posisinya Saoda bisa tahu jika kini belum memasuki jam dua belas malam.


Tak berselang lama Saoda menunduk berusaha untuk mencari batu atau apa pun itu uang bisa ia jadikan penolong hingga ia menemukan sebuah batu yang tidak terlalu besar. Sepertinya ini bisa membantunya.


Suara keras tedengar setetelah Saoda melempar batu itu ke arah semak-semak membuat dua pria itu tersentak kaget dan menoleh.


Saoda dengan cepat jongkok sembari tetap bersembunyi di balik pohon.


"Suara apa itu?"


"Tidak tahu."


"Apa mungkin itu babi?"


"Mari kita lihat!"


Saoda mengintip menatap dua pria yang sedang menjaga itu bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati semak-semak yang Saoda tadi lempar.


Setelah merasa ada peluang dan kesempatan Saoda dengan cepat bangkit dan berlari keluar dari kebun.

__ADS_1


Kedua kakinya yang tak beralas itu kini menyentuh permukaan tanah area persawahan yang terasa basah. Ia melangkahkan kakinya itu mengikuti jalur pematangan sawah. Jalanan yang cukup basah dan licin membuat Saoda harus berhati-hati agar tidak jatuh ke sawah yang sedang berlumpur.


Bulan yang membulat sempurna di atas sana memudahkan Saoda untuk melihat jalanan dan ini sepertinya akan cukup mudah untuk Saoda lewati.


Suara jengkrik yang berbunyi seakan bernyanyi serta suara katak persawahan yang tak mau kalah juga ikut berbunyi secara bergantian menemani perjalanan Saoda yang sudah menggigil karena rasa dingin yang ia rasakan.


Saoda akui jika hawa dan hembusan angin di area persawahan begitu sangat dingin dan membuat bibirnya bergetar. Kedua tangannya telah memeluk tubuhnya dan mengusapnya berusaha untuk meredakan rasa dingin yang ia rasakan.


Saoda menghentikan langkahnya setelah ia telah berhadapan dengan sungai yang tidak terlalu dalam akan tetapi...


Saoda langsung menoleh karena terkejut setelah mendengar suara keras dari air. Saoda meneguk salivanya dengan paksa melihat beberapa ekor buaya yang terlihat berenang di permukaan air yang nampak menghijau.


Sepertinya sungai ini sudah tidak menjadi tempat para warga desa tetangga untuk mencuci pakaian dan peralatan makam sehingga para penghuni air tawar itu telah berkembang biak di sana.


Sekarang apa yang harus Saoda lakukan? Apa ia turun ke sungai itu, tapi dia takut jika beberapa ekor buaya yang tak Saoda ketahui jumlahnya itu bisa saja menyerangnya.


Saoda tidak mau jika ia hanya serang buaya dan mati konyol di sini.


Saoda kembali mencari cari lain. Membuatnya meraih kayu panjang lalu menggenggamnya dengan erat.


Saoda menarik nafaas panjang dan mengangguk pelan. Ia harus bisa melewati ini semua.


Ini semua demi balas dendamnya pada orang-orang jahat yang telah menghancurkan kehidupannya.


"Aaaaa!!!"


Saoda berteriak cukup keras dan menginjakkannya kakinya melewati sungai yang tidak terlalu dalam itu. Hanya sampai di betisnya, tapi masih bisa membuat buaya-buaya itu berenang mendekatinya.


Plak!!!


Plak!!!


Suara keras itu tedengar disaat Saoda memukul air sungai dengan kayu yang ia pegang membuat seluruh tubuh Saoda menjadi basah kuyup.

__ADS_1


__ADS_2