
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," ujar Saoda yang kini menggeliat di pelukan Tuo.
Ia berusaha untuk segera lepas dari pelukan Tuo, tapi Tuo memeluknya begitu sangat erat hingga tak tahu lagi harus bagaimana.
Saoda mendongak. Ia menatap kedua iris mata Tuo yang kini sedang menatapnya. Saoda tersenyum tipis dan membuatnya kini tertunduk malu.
"Tidak lama lagi kita akan menikah, Saoda. Kau dan aku akan dipersatukan," bisik Tuo membuat Saoda menggeliat geli karena bisikan itu berhasil membuat bulu kuduknya merinding.
"Sekarang bagaimana? Apa kau mau kita melakukannya?"
Saoda hanya terdiam. Ia tak menjawab apa-apa hingga dengan perlahan Tuo menggerakkan tangannya dan menyentuh lengan tangan Saoda yang teraba begitu halus.
Saoda memejamkan kedua matanya. Sentuhan itu membuat Saoda merasa bahagia. Saoda tak tahu ada apa dengan perasannya. Ia mencoba mendorong Tuo, tapi rasanya ia juga menyukai sentuhan Tuo yang membuatnya terlena.
Selain tangan kanannya yang mengelus lengan tangan Saoda, tangan kiri Tuo kini meraba bokong Saoda dan meremasnya dengan pelan.
Kedua mata Saoda bergerak. Saoda kembali menatap Tuo yang masih menatapnya begitu tulus.
"Daeng, bagamana kalau ada yang melihat kita? Kita belum sah menikah."
"Siapa yang akan melihat kita? Bapak sedang ke pasar dan mengurus akad nikah untuk besok dan masalah kita belum sah, besok kita sudah sah, jadi tak ada bedanya kita melakukannya hari ini atau besok."
"Tapi?"
"Aku menginginkan kau Saoda," bisik Tuo membuat Saoda seketika terdiam.
Ia kembali kembali mendongak menatap wajah Tuo yang masih setia menatapnya.
"Aku menginginkan kau. Apa kau tidak menginginkan aku?" tanya Tuo membuat Saoda kini diam membisu seakan ia tahu harus menjawab apa.
Diamnya Saoda membuat Tuo segera memegang kedua bahu Saoda dan mendorong gadis itu ke arah kasur yang masih terpasang kelambunya. Saoda hanya mengikut, kedua matanya masih setiap menatap setiap sudut penampakan mata indah Tuo.
__ADS_1
Tuo mendorong tubuh Saoda dengan pelan hingga Saoda terduduk di atas kasurnya. Saoda mendongak menatap Tuo yang kini menunduk seiring tangannya yang mendorong pelan tubuh Saoda. Saoda hanya menurut membiarkan Tuo yang kini sedang membaringkannya di atas tempat tidur.
Setelah Saoda berhasil terbaring kini Tuo merangka menaiki tubuh Saoda yang kini telah ia tindih.
Tuo menyentuh permukaan pipi Saoda yang dibuat terpejam karena Tuo yang melakukannya begitu sangat lembut.
Tuo tersenyum, ia bisa melihat wajah indah Saoda yang kini masih ada di bawah tubuhnya. Wajah yang begitu sempurna untuk bisa dilewatkan. Tuo tak heran lagi mengapa pemuda desa bergantian datang dengan niat hati untuk meminang Saoda.
Tuo mengakui jika wajah Saoda benar-benar cantik dari segi mana pun. Tak diragukan lagi gosipan para warga tentang kecantikannya. Tuo tak menyangka jika gadis yang telah besar bersamanya itu memiliki wajah secantik ini.
Tuo mendekatkan wajahnya ke arah kening Saoda sebelum melayangkan kecupan di kening Saoda yang sekali lagi dibuat terpejam.
Kecupan itu bukan hanya mendarat di kening Saoda, tapi kecupan itu bergerak menyentuh kedua kelopak mata yang bergerak saat disentuh oleh Tuo.
Bibir Tuo kini bergerak menyentuh kedua pipi Saoda secara bergantian dan bibir Tuo berhenti di area bibir Saoda.
Tuo membuka bibirnya dan memasukkan bibir Saoda ke dalam rongga mulutnya dan menggerakkannya perlahan berusaha untuk menikmati bibir Saoda yang begitu lembut.
Tuo merem*s gundukan itu membuat kedua mata Saoda terpejam. Ia seakan begitu sangat tersiksa dengan apa yang Tuo lakukan kepadanya.
Bibir Tuo kini beranjak meninggalkan bibir Saoda yang sudah basah itu dan bibir Tuo kini telah bergerak ke leher Saoda yang begitu mulus dan putih bersih.
Saoda mengelinjang, ia tak tahan dengan kecupan di leher itu membuat kedua kakinya bergesekan di bawah sana.
Tuo bangkit dan dengan perlahan ia meraih kedua kaki Saoda dan membukanya dengan lebar. Saoda sempat menahannya, tapi Tuo terlalu sulit untuk ia tolak membuat Saoda hanya bisa pasrah.
Saoda juga menginginkan hal itu. Sudah sejak tadi area di bagian bawahnya telah basah seakan tak tahan untuk ingin dimanjakan oleh Tuo.
Saoda melirik menatap Tuo yang kini mengerakkan tangannya dan membuka sarung yang sejak tadi melindungi benda yang telah menusuk area perut Saoda.
Sebelum Tuo mengeluarkan benda itu Saoda langsung memejamkan kedua matanya. Ia tak ingin melihat milik Tuo yang tak pernah Saoda pikirkan bagaimana ukurannya.
__ADS_1
Tuo tersenyum kecil. Ia mengurut miliknya itu dan mendekatkan ujung kepalanya di area Saoda yang telah terbuka seakan siap untuk dimasukkan oleh Tuo.
Tuo menyentuh area sensitif yang telah basah itu dan menggosoknya dengan pelan.
"Aaaah."
Suara kecil yang berhasil lolos dari bibir mungil Saoda saat merasakan hal itu. Seumur hidupnya ia tak pernah merasakan hal itu.
Saoda mengigit bibirnya dengan pelan hingga tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi ia tak ingin melakukan hal ini karena ia takut jika puang Dodi sampai tahu apa yang mereka lakukan sebelum waktunya.
Saoda takut jika puang Dodi sampai marah, tapi sentuhan itu membawa Saoda pada sebuah kenikmatan yang tak mampu untuk diutarakan dengan sebuah kata-kata. Saoda menginginkannya juga begitu pula juga dengan Tuo yang kini masih berada di atas Saoda dan masih mengesek-gesekannya di area sensitif Saoda.
Suara langkah terdengar membuat Tuo tersentak kaget. Ia segera bangkit dari tubuh Saoda yang langsung menutup kedua pahanya dan menurunkan sarung utuk menutupi bagian kakinya.
Tuo yang masih gelagapan itu segera mamasang sarung miliknya hingga ia menoleh menatap Puang Dodi yang kini telah berdiri di pintu masuk sambil membawa sekantong kecil sesuatu yang Tuo tidak tahu.
Senyum Puang Dodi terlihat kaku melihat dua orang ini yang sedang berduaan di dalam kamar.
"Apa yang kalian lakukan?"
Tuo menoleh menatap Saoda yang masih terbaring di atas kasurnya. Alasan apa yang harus ia berikan. Tuo menoleh kembali menatap Puang Dodi yang terlihat masih menatapnya.
"A-aku aku sedang membangunkan Saoda, tapi Saoda tak mau bangun dari tidurnya," ujar Tuo berbohong.
Tuo meneguk salivanya dengan bibir yang bergetar itu. Tuo takut jika puang Dodi sampai marah. Puang Dodi kini melirik manatap Saoda yang juga ikut tegang.
Tak berselang lama puang Dodi mengangguk dan mudahnya ia percaya begitu saja.
"Ke depan lah, Nak! Aku ingin menunjukkan mahar yang telah aku beli!" pinta Puang Dodi lalu melangkah pergi.
Tuo menghela nafas lega. Ia menoleh menatap Saoda yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Cepat bangun!" ujarnya sebelum ia melangkah keluar dari kamar meninggalkan Saoda yang kini masih terdiam.