Parakang

Parakang
91. Tergiang Kejadian


__ADS_3

Mendengar hal itu membuat Saoda kini hanya bisa mengangguk. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi.


"A-aku tadi melihat orang yang telah membakar Indo dan Bapakku jadi aku membuang keranjang aku dan lari masuk ke hutan."


"Kau pingsan di dalam hutan?"


Saoda mengangguk.


Mendengar hal itu membuat Tuo Bernafas legah.


"Ah, aku pikir ada sesuatu yang buruk yang terjadi kepada kau. Kau tahu? Aku ini sangat khwatir."


"Sekarang aku putuskan kalau hari ini adalah hari terakhir kau ke pasar. Aku tidak akan mengisinkan kau pergi ke pasar dan membuat kau bertemu dengan orang-orang jahat itu."


Saoda tersenyum setelah mendengarnya. Ia tahu Tuo mengatakan hal ini karena sayang dan cintanya.


...*****...


Saoda terdiam. Ia mematung di depan sumut dengan tubuh yang hanya mengunakan sarung yang menutupi dada sampai ke lututnya.


Saoda melepaskan tangisannya yang sejak semalam ia tahan. Ia tak mau jika Tuo kembali mencemasinya lagi pula jika ia menangis Saoda takut jika Tuo malah akan curiga kepadanya.


Saoda menyapu wajahnya yang basah karena air mata itu. Ia menekan erat kepalanya yang terasa sakit, yah rasa ini pasti terjadi karena semalam ia menghempaskan kepalanya ke tanah.


Walaupun ini terasa sakit, tapi ini tak mampu menandingi rasa sakit di hatinya. Saoda berharap Tuo tidak akan mengetahui hal ini.


Saoda takut jika Tuo akan marah kepadanya. Harus jawab apa Saoda. Yang Saoda takutkan adalah Bahri. Yah, Saoda takut jika Bahri akan memberitahu hal ini atau kejadian ini kepada Tuo.


Marah tentu saja ia dia akan marah. Bagaimana bida ada seorang suami yang tidak marah jika tahu istrinya telah diperlakukan dengan sangat tidak baik. Tindakan yang membuat Saoda kini merasa benci dengan dirinya sendiri.


Saoda benar-benar benci pada tubuhnya yang telah disentuh oleh pria-pria iblis yang tak punya hati. Bahkan mereka tidak layak dikatakan sebagai manusia, mereka tidak layak.


Setelah kejadian itu kini Saoda merasa jika dirinya lebih rendah dari pada sampah yang berserakan di jalan. Jika nanti Tuo sampai tahu mengenai kejadian ini maka hancurlah hatinya dan mungkin saja dia akan membencinya. Saoda tak mau jika hal itu sampai terjadi.


Saoda menyirami tubuhnya yang kini telah basah sebahagia. Saoda memejamkan kedua matanya berusaha untuk menahan sakit di area bawahnya yang telah mendapat perlakukan kasar dari mereka semua.


Saoda menyirami tubhnya lagi menggunakan batok kelapa yang di sambung dengan batang kayu kecil yang dijadikan sebagai ganggang.


Saoda meledakkan tangisannya. Ia menyirami tubhnya itu dengan gerakan cepat dan memukul kepalanya dengan keras mengunakan batok kelapa itu.


"Aaaaaa!!!" teriaknya lalu menghempas batok kelapa itu ke tanah hingga pecah dan menendang ember-ember berisi air itu.


Tak cukup sampai di situ kini Saoda memukul tubuhnya itu dengan sekuat tenaga menggunakan tangannya membuat kulit tubuhnya yang putih itu kini menjadi merah.


"Aaaaa!!!" teriaknya lagi.


Di waktu yang sama kini Tuo diam sambil menunduk menatap apa yang Saoda lakukan di bawah sana.


Tuo tak mengerti apa yang menyebabkan Saoda bisa melakukan hal tersebut. Entah apa yang membuat Saoda begitu sangat membenci dirinya bahkan ia terlihat sedang memukul dirinya sendiri.


...****************...


Saoda diam mematung di hadapan cermin tua yang telah memburam karena telah di makan waktu usia. Wajah Saoda datar tanpa ekspresi sambil menyisir rambut hitamnya yang panjang sampai ke pinggangnya itu.


Saoda meraba permukaan rambutnya itu membiarkan air matanya menetes membasahi pipinya.


Saoda memejamkan kedua matanya membayangkan apa yang mereka telah lakukan.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Bahri menghela nafas panjang. Ia menoleh menatap tiga temannya yang juga ikut tersenyum. Yah, senyum mereka terlihat agak aneh.


"Aku masih mencintai kau, yah walaupun kau dan Tuo telah menikah. Aku menawarkan diri untuk melamar kau dan jika kau menolak maka kau akan menerima akibatnya."


"Akibatnya?" tanya Saoda yang begitu tidak mengerti.


"Yah, aku tidak segan-segan melakukan sesuatu hal kepada kau jika kau menolak."


Saoda terisak. Akibat yang ia dapatkan adalah hak menyakitkan ini. Saoda melangkah ke arah jendela dan menatap pemandangan yang selalu ia kagumi itu kini terasa tak indah lagi.


Ada kesedihan yang membabi-buta saat melihatnya. Yah kedua mata Saoda kini menatap ke arah halaman rumah tapi tidak dengan pikirannya yang kembali mengingat kejadian itu.


Saoda meneguk salivanya. Harus jawab apa ia sekarang. Saoda juga tidak mungkin lewat jalan lain. Hanya ini jalan satu-satunya yang menjadi jalan menuju rumah.

__ADS_1


Jika harus lewat jalan lain maka ia harus berputar dan lewat di pinggiran hutan belantara. Saoda takut Untu lewat di sana. Saoda takut jika ada anjing liar yang akan mengejarnya.


"Ayo jawab!"


Saoda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Ia juga tidak mungkin menerima lamaran Bahri. Pria itu sama sekali tak menarik baginya.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa menerima lamaran kau. Aku tidak bisa meninggalkan suami aku."


Kedua mata Bahri membulat. Ia begitu tak menyangka jika lagi dan lagi Saoda kembali menolaknya.


"Apa kau bilang? Kau menolak aku?"


Saoda terisak. Lalu dengan langkah pelan ia mendekati ranjang kayu miliknya dan duduk di pinggir. Saoda sedikit meringis merasakan rasa perih di bawah sana.


"Aku minta maaf. Kau bisa mencari gadis desa yang lain yang sudah pasti lebih cantik dan jauh lebih baik dari aku."


"Kau lupakan saja aku dan pinanglah gadis lain."


"Aku tidak mungkin menerima lamaran kau karena aku telah menjadi milik Tuo. Sekali lagi aku minta maaf. Maafkan aku!" ujar Saoda lalu melangkah melintasi Bahri yang kini terlihat mematung dengan tubuh yang gemetar karena marah.


Langkah Saoda terhenti. Kedua matanya terbelalak setelah ia bisa merasakan seseorang yang memegang tangannya.


Saoda menghela nafas panjang. Ia mengangkat tangannya yang kemarin telah di pegang oleh Bahri.


Saoda menoleh menatap Bahri yang kini sedang menatapnya dengan jari tangannya yang masih memegang erat pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"


Bahri tak menjawab apa-apa. Ia menoleh menatap Saoda yang masih ia pegang dengan erat pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" pinta Saoda yang kini menggerakkan tangannya berusaha untuk segera lepas dari genggaman Bahri yang seakan mencekik pergelangan tangannya hingga aliran darah itu terasa terhambat.


Saoda menggenggam pergelangan tangannya itu sambil menangis dan menggosoknya dengan kuat. Rasanya ia sangat benci dengan pegangan tangan Bahri.


Jika bisa Saoda ingin melenyapkan sepotong pergelangan tangan ini dan melupakan semuanya. Saoda benar-benar benci pada dirinya.


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan!"


"Aku sudah bilang kan kalau kau akan mendapatkan akibat jika kau berani menolak aku."


Seketika nafas Saoda kini menjadi sesak. Entah niat jahat apa yang Bahri dan tiga sahabatnya rencanakan. Saoda bisa melihat niat jahat itu dari sorot mata Bahri yang sejak tadi membuat Saoda merasa takut.


"Tarik dia masuk ke dalam hutan!" pinta Bahri membuat kedua mata Saoda membulat.


Apa yang mereka katakan?


Belum lama Saoda menebak tiba-tiba saja dua teman Bahri memegang kedua tangan Saoda dan menariknya masuk ke dalam hutan.


"Jangan!!! Jangan sakiti aku!!!" teriak Saoda yang berusaha lepas dari pegangan pria-pria itu.


Saoda memberontak dengan kuat, tapi tenaga dua pria itu lebih kuat darinya hingga membuat Saoda tak bisa lepas dari pegangan orang-orang ini yang masih menariknya.


"Tolooooong!!!" teriak Saoda.


Saoda berlutut di atas lantai sambil menjambak rambutnya yang masih basah itu. Saoda ingin berteriak keras, tapi ia tak mau jika Tuo mendengarnya dan merasa curiga kepadanya.


Saoda mendongak menatap langit-langit kamarnya berusaha untuk mencari pasokan udara. Ia bahkan terasa sesak nafas setelah ia mengingat kejadian itu.


Saoda di tarik masuk ke dalam hutan membuat keranjang belanjaannya jatuh ke tanah dan berhamburan isinya. Kaki Saoda terlihat terseret di atas tanah. Ia berusaha untuk menahan langkahnya, tapi tak semudah yang Saoda pikirkan.


Bruk!!!


Tubuh Saoda terhempas ke atas tanah membuat pria-pria itu tertawa.


"Mau apa kalian? Tolong lepaskan aku!!!"


"Tolonooooog!!!" teriak Saoda.


Tak menyangka Saoda. Salah satu teman Bahri malah mengikat mulut Saoda dan menyumbatnya agar Saoda tak bisa berteriak.


Mereka semua tidak mau jika sampai ada yang melihat mereka melakukan hal ini kepada Saoda.

__ADS_1


Saoda berusaha untuk melepas penyumbat mulut itu, tapi kedua tangannya dengan cepat ditarik. Mereka menyatukan kedua tangan Saoda dan mengikatnya dengan kuat hingga Saoda tak mampu untuk bergerak.


Saoda benar-benar takut sekarang. Ia tak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadanya. Saoda ingin berteriak namun, tak bisa. Suaranya tersumbat karena kain yang menyumbat mulutnya.


Suara tawa terdengar begitu jelas. Saoda membuka kedua matanya. Ia bisa melihat Bahri yang kini melepas celananya membuat Saoda merasa takut. Apa yang akan dilakukan Bahri kepadanya?


"Buka kakinya!" pinta Bahri membuat teman-temannya itu menurut dan menarik kedua kaki yang berusaha untuk ditahan oleh Saoda.


Tenaga Saoda yang lemah itu membuat kedua kakinya kini melebar membuat Bahri tersenyum. Ia menatap haus pada area milik Saoda yang kini telah terbuka seakan siap untuk dimasuki.


Bahri merangkak. Ia mendekatkan miliknya itu dan memasukannya dengan sekali hentakan membuat kedua mata Saoda meneteskan air mata.


"Tidaaaaaaak!!!" teriak Saoda yang kini menjambak rambutnya dengan keras.


"Mahluk iblis!!! Bagaimana bisa ada orang seperti kalian!!!"


"Aaa!!!" teriaknya lagi.


Rasanya begitu sakit. Bukan hanya di area bagian bawahnya, tapi juga pada hatinya. Bayangan wajah Tuo kini telah memenuhi pikirannya. Entah apa yang akan Tuo katakan jika ia tahu kalau istrinya ini kini telah di nodai oleh pria-pria yang tak bertanggung jawab.


Saoda berusaha untuk berteriak, tapi tak bisa. Tubuh Saoda tersentak-sentak saat Bahri menggerakkan pinggulnya dengan sangat kasar. Tak ada sedikit pun kelembutan yang ia dapatkan.


Rasa sakit dan rasa bersalah kini terasa sedang menghantuinya. Saoda hanya bisa menangis sesegukan di bawah pria yang kini telah mengotori tubuhnya.


"Tuo, maafkan aku! Aku minta maaf karena gagal untuk lari dari masalah ini."


"Andai saja aku mendengar dan menuruti apa yang kau katakan dan membiarkan kau ikut Mungkin kau akan menolong aku dari orang-orang jahat ini. Sekali lagi aku minta maaf."


Air mata Saoda kini kembali menetes mereka. Bukan hanya Bahri yang mengotorinya, tapi ia digilir dan menjadi pemuas nafsu teman-temannya.


Saoda hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasa sangat jijik melihat orang-orang jahat seperti mereka.


Saoda hanya bisa mendengar suara tawa yang begitu bahagia setelah melakukannya. Saoda tak tahu lagi apa yang ada di pikiran mereka semua. Mereka semua bahkan tak punya hati.


Apakah mereka tidak merasa kasihan kepadanya setelah melakukan hal ini. Tak berselang lama mereka kembali merapikan pakaian Saoda.


"Buka talinya!" ujar Bahri membuat teman-temannya itu segera melepas pengikat dari kedua tangan Saoda yang terkulai lemas.


"Aku sudah bilang kan untuk menerima lamaran aku, tapi kau tidak mau."


"Ini akibatnya jika kau menolak aku, cuih."


"Ayo kita pergi sebelum ada yang melihat kita di sini!"


Itu adalah kalimat yang Saoda dengar hingga tak berselang lama suara langkah


terdengar menjauh darinya disusul suara mesin motor yang melaju pergi meninggalkan Saoda yang masih terbaring.


Saoda mengusap air matanya. Ia bangkit dengan rasa sedih yang begitu menyiksa batinnya.


Saoda membarinkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kedua mata sayup serta kelopak matanya yang telah membengkak.


Lelah, yah itu yang Saoda rasakan bahkan kini menusuk ke dadanya.


Bayangan orang-orang jahat itu kini terngiang.


Saoda tak mengerti mengapa Tuhan menyiksanya seperti ini. Belum cukup kah kesedihan yang ia dapatkan saat ia masih kecil yang harus menjadi saksi atas kematian Indo dan Bapaknya yang telah dibakar secara hidup-hidup.


Dan kini Tuhan memberikannya cobaan lagi dengan tindakan pemerkos**n yang begitu menyiksa batinyya.


Apa mungkin ini sudah menjadi takdirnya dan telah menjadi garis hidupnya yang penuh penderitaan.


Apakah Tuhan membencinya atau sedang mengujinya?


Jika Tuhan membencinya dan memberikan masalah sebentar ini lalu apa yang telah ia lakukan sehingga Tuhan membencinya.


Saoda tak pernah berbuat jahat dan begitu pula yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Orang tuanya adalah orang terkenal sangat baik dan nyaris tidak memiliki musuh tapi mereka telah mati secara mengenaskan.


Bayangan saja! Jika tangan saja yang terasa sakit ketika di sentuh oleh benda panas maka rasanya pasti akan sangat sakit.


Lalu coba bayangkan kedus orang tuanya itu dibakar sampai mati di kobaran api yang menyala-nyala. Tak mereka pikir bagaimana kah rasa sakitnya. Bahkan mereka sampai hangus terbakar dan tak ada satu pun warga desa yang mau membantu Puang Dodi untuk menguburkan kedua orang tuanya.


Jika ini adalah sebuah ujian yang sedang diberikan Tuhan kepadanya lalu mengapa seberat ini ujian yang ia dapatkan hingga datang terus menerus menyakitinya.

__ADS_1


Saoda tidak tahan! .


__ADS_2