
Tuo membaringkan Saoda ke atas tempat tidur dan mengusap cucuran keringat yang membasahi dahi Saoda.
Tuo merapikan anak-anak rambut Saoda yang menempel di dahinya. Tuo bisa merasakan jika dahi Saoda kini kembali meningkat suhu Tubuhnya. Yah seperti biasa sepertinya Saoda kembali demam. Hal sama yang terjadi setelah Saoda pingsan.
Tuo menyentuh lembut permukaan wajah Saoda yang terlihat pucat itu. Ia merasa sedih melihat kondisi Saoda yang seperti ini. Tuo pikir kenangan buruk itu akan dilupakan oleh Saoda, tapi sepertinya ingatan Saoda tentang kejadian pembakaran itu seakan masih membekas lekat di ingatan Saoda.
Begitu menyedihkan istrinya itu yang harus menanggung beban di ingatannya yang selalu datang dan membuatnya jadi tersiksa seperti ini.
"Saoda!" panggil Tuo yang kini menyentuh permukaan pipi Saoda dan menepuknya dengan pelan.
Tuo berusaha untuk membangunkan Saoda dari pingsannya.
"Saoda!"
"Saoda, bangun Saoda!"
"Ini aku Tuo!" panggil Tuo sambil tetap mencoba untuk membangunkan Saoda dari pingsannya.
Dahi Saoda bergerak membuat Tuo segera tersenyum. Akhirnya Saoda sadar dari pingsannya yang telah membuat dirinya merasa sangat khawatir.
"Saoda! Bangun Saoda. Ini aku Tuo."
Kedua mata Saoda terbuka dengan perlahan menepati wajah Tuo yang perlahan kabur kini menjadi jelas.
"Tuo!!!" panggil Saoda dengan lepasan tangisnya yang begitu menyayat hati.
Tuo yang melihat hal tesebut segera menarik Saoda, ia membantunya untuk bangkit dan segera memeluknya dengan erat sambil mengelus punggung Saoda berusaha untuk menenangkannya.
"Tuo!"
"Iya, aku di sini. Aku ada di sini untuk kau," ujar Tuo yang masih berusaha untuk kembali menenangkan Saoda.
"Mereka pergi dan tidak menolong Indo dan Bapakku, Tuo."
"Ya, aku tahu."
"Mereka kejam. Mereka telah membakar Indoku dan juga Bapakku tanpa ampun. Mereka tidak punya hati," ujar Saoda semetara Tuo hanya terus menyahut.
Ia hanya tidak mau jika Saoda menganggap jika tak ada orang satu pun yang peduli kepada Saoda.
"Mereka semua jahat."
"Tenang lah. Jangan mengungkit kisah itu."
"Mereka jahat."
Tuo mengangguk." Tidak usah menyiksa kau dengan segala kenangan buruk itu, Saoda."
__ADS_1
"Mereka jahat!"
"Sabar Saoda. Kau harus kuat!"
Tuo yang sedang berusaha untuk menenankan Saoda kini menoleh menatap Puang Dodi yang kini diam berdiri di pintu masuk kamar menatap Saoda dan Tuo yang masih berpelukan.
Puang Dodi tersenyum bahagia. Tak ada rasa penyesalan yang ia rasakan setelah melihat Tuo dan Saoda yang masih terlihat berpelukan.
Tuo bisa membuat Saoda merasa tenang dan hanya Tuo yang bisa membuat dan mengerti segala sesuatu yang mengenai dengan Saoda.
Hanya ia yang mengerti tentang perasaan Saoda karena ia yang telah menjadi saksi kehidupan perih yang telah terjadi.
Puang Dodi tidak akan yakin jika ada seorang pria yang akan menyayangi Saoda seperti ini. Hanya Tuo yang bisa peduli dan mengerti dengan apa yang Saoda rasakan.
Puang Dodi tersenyum sejenak lalu melangkah pergi meninggalkan Saoda dan Tuo yang masih berpelukan di dalam sana.
Tuo menyentuh pundak Saoda. Ia menyentuhnya dengan lembut lalu membelai rambut hingga ke punggung Saoda yang kini merasa tenang.
Tak berselang lama Tuo menggerakkan tubuh Saoda dan membaringkannya di atas tempat tidur. Tuo membelai lembut pipi Saoda yang kini sudah tertidur lelap di dalam ketengan. Tuo telah berhasil menenangkan Saoda hingga ia telah berhasil membuatnya tertidur.
Tuo melangkah keluar dari kamar dan duduk menyendiri di anakan tangga. Puang Dodi yang berniat untuk masuk ke dapur kini menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok Tuo yang diam menyendiri membuat Puang Dodi segera melangkah dan ikut duduk di samping Tuo.
Tuo melirik menatap puang Dodi sejenak dan ia kembali tertunduk.
"Ada apa? Apa Saoda sakit lagi?".
Tuo mengangguk.
Puang Dodi mengangguk setelah mendengarnya. Ia kembali menatap raut wajah Tuo yang terlihat begitu sedih.
"Kau kenapa?"
Tuo menggeleng lalu berujar, "Aku hanya tidak bisa melihat Saoda terbaring lemah seperti itu dan pingsan setelah melihat orang-orang yang telah masuk dalam peristiwa pembakaran kedua orang tuanya."
"Aku tahu, jika itu semua tidak bisa dicegah hanya saja apa tidak ada cara agar Saoda bisa melupakan kejadian itu semua."
Puang Dodi kini terdiam.
"Apa Bapak tidak punya kenalan orang pintar yang bisa membatu Saoda?"
"Orang pintar?"
Tuo mengangguk.
"Untuk apa?"
"Yah, aku hanya ingin membuat Saoda bisa lupa dengan semuanya."
__ADS_1
"Nak, bukan aku menghalangi atau melarang kau tapi tidak semudah itu membuat seseorang bisa lupa dengan semuanya."
"Apa yang telah terjadi pada kedua orang tua Saoda mengenai peristiwa pembakaran itu telah mendarah daging di ingatan Saoda."
"Dia telah trauma dan sudah tak mungkin membuatnya bisa lupa dengan semua itu."
Tuo menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Puang Dodi.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, pak? Aku tidak mungkin membiarkan Saoda seperti ini secara terus menerus."
Puang Dodi menyentuh pundak Tuo sambil tersenyum.
"Hanya ada satu hal yang bisa membuat Saoda sembuh dan lepas dari rasa traumanya.
"Apa itu?"
"Cinta dan kasih sayang."
Tuo mengernyit bingung.
"Maksud Bapak?"
"Berikan dia cinta dan kasih sayang maka secara perlahan perasaanya akan mempengaruhi pikirannya."
Tuo hanya diam setelah bertanya dan setelah itu dia tak bicara lagi.
...****************...
Suara jengkrik yang terdengar mengiringi suasana sunyi dan malam yang begitu hening. Udara kesejukan malam terasa membelai tubuh Tuo yang kini berdiri di pintu masuk setelah udara itu masuk melewati celah dinding rumah.
Tuo meneguk salivanya setelah menatap tubuh Saoda yang kini masih terbaring di atas tempat tidurnya. betis putih mulus itu seakan membangkitkan gairah Tuo.
Tuo melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir kasur membuat papan itu berbunyi pelan.
Detak jantung yang berdetak sangat cepat itu membuat Tuo begitu sangat canggung.
Tuo menggerakkan jari-jari tangannya dan menyentuh permukaan betis Saoda yang sejak tadi menjadi salah satu pusat perhatiannya.
Jari-jari tangan itu ia gerakkan hingga membuat Saoda terbangun dari tidurnya. Ia membuka kedua matanya menatap Tuo yang kini sedang menatapnya.
Tuo tersenyum membuat Saoda tidur terlentang dan tak lagi berbaring membelakangi Tuo yang kini masih setia menatapnya.
"Ada apa?" tanya Saoda.
Tuo kini menggeleng sambil tersenyum malu.
Saoda ikut tersenyum. Melihat wajah malu suaminya itu membuat Saoda mengerti. Tuo sudah pasti mengingkan hal yang hampir mereka lakukan kemarin.
__ADS_1
Saoda menggerakkan tangannya dan membelai lembut pipi Tuo yang hanya bisa diam dengan lirikannya yang menatap gerakan tangan Saoda.
Saoda bangkit dari posisinya yang tadi berbaring dan kini ia duduk di hadapan Tuo yang masih diam sambil terus menatapnya.