Parakang

Parakang
90. Bingung


__ADS_3

Tubuh Saoda kembali terhempas ke anakan tangga setelah ia berusaha untuk merangkak naik ke atas rumah.


Sudah cukup! Saoda sudah tidak tahan untuk melangkah naik ke rumah. Pandagan Saoda kini telah menjadi gelap membuat Saoda tak bisa melakukan apa-apa.


"Tu-tuo!!!"


"Tuo!!!" panggil Saoda dengan suaranya yang kini tedengar merintih.


Tuo yang kini sedang berada di dalam kamar kini membulat kedua matanya. Ia baru saja mendengar suara Saoda. Walaupun terdengar samar-samar tapi Tuo yakin jika itu adalah Saoda.


Saoda telah pulang.


Tak pikir panjang Tuo segera melangkah keluar dari rumah dan begitu sangat terkejut setelah melihat Saoda yang terbaring lemas di anakan tangga.


"Saoda!!!" teriak Tuo lalu dengan cepat menghampiri Saoda dan segera membantunya untuk bangkit dari tangga.


"Tuo, tolong aku!' minta Saoda dengan nafas yang tersengal-sengal.


Tak banyak bertanya. Tuo segera membantu Saoda bangkit dari tangga dan membawanyya masuk ke dalam rumah.


"Apa itu Saoda?" tanya puang Dodi kini berada di pintu masuk menyambut kedatangan Tuo dan Saida di pintu masuk.


Tuo tak menjawab pertanyaan puang Dodi. Ia terus melangkah dan menuntun Saoda masuk ke dalam kamar.


Tuo segera membarinkan Saoda ke atas tempat tidur dan segera mengusap kepalanya yang basah karena keringat.


"Saoda!" panggil Tuo sambil mengusap dahinya.


Ia juga menepuk pelan pipi Saoda berusaha untuk membangunkan Saoda yang kedua matanya masih terpejam. Saoda tak pingsan, hanya saja ia tak punya lagi kekuatan yang banyak untuk membuka kedua matanya.


Semua badannya terasa sakit bahkan ia merasa jika seakan-akan semua tulang di dalam tubuhnya ini hancur.


"Saoda!"


"Saoda!"

__ADS_1


"Apa kau dengar aku?"


"Coba tanyakan dia dari mana!" suruh Puang Dodi yang kini berdiri di belakang Tuo membuat Tuo mengangguk dan kembali menepuk pelan permukaan pipi Saoda berusaha untuk membangunkannya.


Tak mampu lagi Saoda bicara mulutnya ini terasa kaku untuk bicara. Tak berdelang lama kini suara tangisan Saoda pecah.


Bayangan orang-orang jahat itu membuat Saoda benar-benar sakit. Hatinya seakan di iris begitu kejam hingga ia sendiri sulit untuk bernafas.


"Saoda kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Tuo sambil mengelus lembut pipi Saoda dan menatapnya dengan lembut.


Puang Dodi yang melihat hal tersebut segera melangkah ke sisi tempat tidur dan ikut menyentuh rambut Saoda yang benar-benar basah. Sepertinya bukan tenaga kecil yang telah ia keluarkan untuk bisa pulang ke rumah.


"Saoda! Apa kau dengar suara puang, nak?" tanya Puang Dodi.


Tak ada jawaban dari Saoda. Saoda hanya bisa menangis sesegukan ketika kejadian tadi terbayang di pikirannya.


Puang Dodi menghela nafas panjang. Ia menoleh menatap Tuo yang kini masih membelai lembut rambut Saoda yang terasa basah itu.


"Sepertinya dia ingin istirahat. Kalau seperti itu aku akan keluar."


"Tuo!" panggil puang Dodi membuat Tuo menoleh menatap Bapaknya yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu serius.


"Setelah dia membaik, aku ingin kau bertanya kepadanya. Tanyakan kemana dia pergi!"


Tuo tak menjawab. Ia hanya mengangguk lalu kembali menatap Saoda. Tak berselang lama suara langkah terdengar membuat Tuo menoleh menatap Puang Dodi yang telah melangkah pergi.


Tuo tak tahu harus berkata apa. Ia juga ta mungkin untuk memaksa Saoda menjawab pertanyaannya walau rasa ingin tahunya begitu sangat tinggi.


Melihat kondisi Saoda yang lemah seperti ini membuat Tuo benar-benar tersiksa. Ia ingin tahu dari mana Saoda hingga pulang dalam kondisi yang seperti ini, tapi Tuo masih bisa bersyukur karena ia masih bisa melihatnya.


Ia masih bersyukur karena Saoda masih ada di sampingnya. Tuo pikir ia sudah tidak dapat melihat Saoda lagi. Tuo pikir jika ia akan kehilangan Saoda untuk selama-lamanya dan hilang tanpa ada kabar.


Tuo kini membarinkan tubuhnya di samping Saoda dan memeluknya begitu lembut. Saoda yang merasakan pelukan itu kini ikut memeluk tubuh suaminya. Ia menyandarkan pipinya ke dada Tuo yang benar-benar membuatnya begitu nyaman.


Rasa hangat dari tubuh Saoda seakan telah menjadi obat penenang bagi Saoda. Saoda yang sejak tadi ingin menangis kini dibuat tenang.

__ADS_1


Berada di pelukan Tuo benar-benar membuat Saoda merasa tenang. Tak ada tempat yang mampu membuat Saoda merasakan hal seperti ini selain di pelukan suaminya.


Saoda sangat tahu bagaimana besar rasa cinta suaminya itu kepadanya hanya saja orang-orang jahat yang menghancurkan semuanya.


Saoda benar-benar berjanji jika ia akan menghancurkan semua orang yang telah menghancurkan hidupnya. Terutama orang-orang yang telah membakar kedua orang tuanya.


Saoda benar-benar akan menghancurkan semuanya tanpa terkecuali. Apa pun caranya dan bagaimana pun caranya ia membalaskan dendam ini. Ia tak akan mau menyerah bagi Saoda ia tak boleh mati jika mereka semua belum mati.


Tak mau rasanya ia hidup dan melihat musuh-musuhnya yang hidup bahagia sementara dia hidup di dalam beban, kelelahan, trauma, kesedihan, air mata, luka serta kepedihan yang ia rasakan.


Apa caranya ia harus memusnahkannya.


Saoda membuka kedua matanya dan menatap serius ke arah wajah Tuo yang kini sedang menatapnya begitu serius.


"Apa yang terjadi? Hem? Apa yang terjadi kepada kau?" tanya Tuo sambil mengelus rambut Saoda dengan lembut serta tatapan yang begitu sangat perhatian.


Saoda hanya diam. Ia kembali memeluk tubuh Tuo dan memejamkan kedua matanya.


"Kau tahu? Aku sangat merindukan kau. Aku sangat cemas dan tidak tahu harus mencari kau kemana lagi."


"Saoda! Aku pikir aku tidak akan lagi melihat kau dan memeluk kau seperti ini, tapi aku masih bersyukur karena kau akhirnya pulang."


"Aku sangat khwatir dan aku sangat mencintai kau. Aku nyaris gila karena kau tak kunjung pulang."


Saoda yang mendengarnya kini mengerakkan tangannya walau itu sangat berat. Ia menyentuh pipi Tuo dan membelainya.


"Aku minta maaf karena aku telah membuat kau khawatir."


"Aku benar-benar minta maaf."


Tuo mengangguk lalu ia mengecup kening Saoda yang sudah kering itu setelah sejak tadi mengusapnya.


"Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah mau pulang ke rumah."


"Memangnya kau kemana saja? Bapak yang pergi mencari kau hanya mendapatkan keranjang kau yang berada di jalan. Kau dari mana? Apa kau pingsan lagi?"

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Saoda kini hanya bisa mengangguk. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi.


__ADS_2