
"Ada apa, Nak?"
Saoda langsung menoleh dan mengusap pipinya yang basah itu dengan tangannya.
"Apa masakan Tuo tidak enak, Nak?" tanya Puang Dodi membuat Tuo yang sedang asik makan itu menoleh.
Saoda hanya menggeleng.
"Kau tidak suka?" tanyanya sekali lagi.
"Aku-aku suka dengan makanannya," jawab Saoda dengan nada suaranya yang terdengar gemetar.
Saoda berusaha untuk menahan tangisannya yang terasa menyiksa dadanya. Dadanya terasa sakit seakan ada yang menusuknya di dalam sana.
"Kenapa, Nak? Kalau makanannya enak dan kau suka lalu mengapa kau menangis?"
Saoda hanya menggeleng sambil sesekali ia mengusap pipinya yang basah itu. Puang Dodi menghela nafas panjang lalu ia mengelus kepala Saoda.
"Ada apa, Nak? Katakan saja! Tidak apa-apa. Lebih baik kau katakan dari pada menyimpannya."
Saoda menghentikan kunyahannya lalu ia mendongak menatap kedua sorot mata puang Dodi yang terlihat begitu peduli.
"Aku rindu dengan Indo dan Bapakku, puang," jawab Saoda yang langsung meledakkan tangisannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Lagi dan lagi ia kembali menangis setelah kembali mengingat kenangan tentang kedua orang tuanya.
Puang Dodi mengangguk lalu segera mengelus kepala putri dari sahabatnya itu.
"Kalau seperti ini Indo Saoda selalu menyuapi Saoda."
Puang Dodi yang mendengar hal itu langsung menoleh menatap Tuo yang kini gerakan kunyahannya menjadi pelan.
"Apa kau ingin aku menyuapi kau seperti apa yang Indo kau lakukan?"
__ADS_1
Saoda dengan cepat menggeleng sambil mengusap air matanya yang masih membasahi pipinya.
"Tidak usah, puang. Aku akan belajar makan sendiri. Aku tidak ingin merepotkan kalian semua. Aku akan makan," ujarnya lalu segera menyuapi mulutnya dengan nasi.
Ia makan dengan lahap dan ini semua adalah sandiwara. Sejujurnya Saoda tidak punya nafsu makan, tapi ia juga tidak mau merepotkan puang Dodi.
Di sini Saoda sadar jika dia juga sedang menumpang tinggal di rumah ini. Nasi yang ia makan adalah beras dari hasil kerja puang Dodi. Ia tak mungkin membiarkan puang Dodi menyuapinya.
...****************...
Suara jangkrik terdengar berbunyi begitu merdu seakan sedang bernyanyi di rentetan rerumputan yang tumbuh menghijau. Tak jauh area persawahan dari rumah ini hingga suara kodok sawah juga terdengar. Suara gonggongan anjing yang mengejar babi-babi hutan yang berada di dalam kebun yang tak jauh dari rumah ini juga bisa terdengar.
Sepertinya malam belum terlalu larut tatapi, hawa dingin yang dibawa oleh tiupan angin berhasil tembus dari celah dinding rumah yang telah mengeropos.
Saoda duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Ada beberapa suara nyamuk yang sedikit menganggu telinga Saoda bahkan tak segan untuk mengigitnya membuat Saoda sesekali menghalau nyamuk-nyamuk yang haus darah itu dengan tangannya.
"Ini," ujar Tuo.
Saoda menoleh menatap Tuo yang kini sedang menjulurkan sebuah sarung ke arah Saoda. Saoda melirik menatap sarung batik berwarna kuning keemasan dengan corak yang terlihat indah.
"Ini sarung Indo aku. Di rumah ini hanya ada tiga sarung. Pakai saja punya Indoku!"
"Tapi ini, kan punya Indo kau. Nanti sarungnya rusak. Aku tidak punya uang untuk menggantinya," ujar Saoda dengan nada lembut dan pelannya.
"Tidak apa-apa. Sekarang ini adalah sarung kau. Bapakku yang telah memberikannya kepada kau. Ambil saja!" jelasnya sambil mendekatkan sarung itu lebih dekat ke tangan Saoda yang masih memeluk erat kedua lututnya.
Saoda kini hanya terdiam. Batinnya sejak tadi bertanya apakah ia akan mengambil sarung itu atau tidak. Bagi Saoda sarung itu sepertinya begitu sangat berharga.
Cukup lama Tuo terdiam menanti Saoda mengambil sarung itu membuat Tuo langsung meletakkan sarung itu ke atas kasur tepat di hadapan Saoda, nyaris menyentuh ujung jari-jari kakinya.
"Ambil saja! Kau tidak akan kedinginan jika pakai sarung itu. Kau ambil sarung itu kalau tidak Bapak akan merasa sedih karena kau tidak memakai sarung peninggalan istri sekaligus Indoku," jelasnya.
Mendengar hal itu, Saoda yang sejak tadi terdiam dengan tunduknya kini menoleh menatap kedua sorot mata Tuo. Ia menatapnya sejenak hingga Tuo memutuskan untuk pergi meninggalkan Saoda yang kini menghela nafas panjang.
__ADS_1
Suasana kamar kini kembali merasa sunyi persis seperti tadi dimana ia duduk merenung bersama dengan kesunyian malam.
Saoda mengernyitkan dahinya setelah ia mendengar suara samar-samar dari luar. Enyah suara siapa itu yang jelas Saoda merasa penasaran membuatnya segera melangkah turun dari ranjang dan mendekati pintu kamar.
Dari sini ia bisa melihat sosok Tuo yang kini sedang dielus kepalanya oleh puang Tuo. Entah apa yang jelas Puang Dodi nampak begitu sayang dengan Tuo.
"Yang kau lakukan sudah bagus, Nak. Bapak tahu kau datang sekali dengan sarung itu karena kau juga tidak ingin memakainya dan sarung itu adalah peninggalan Indo kau, tapi kau mau memberikannya pada Saoda."
"Kau harus tahu, Nak. Kita harus membantu Saoda karena Saoda itu tidak punya keluarga lagi selain kita."
"Bapak tahu kalau Saoda itu memanglah bukan keluarga kita tapi sekarang Saoda sudah masuk ke dalam rumah ini dan itu berarti Saoda sudah menjadi bagian dari keluarga ini."
Tuo hanya mengangguk. Ia mendongak menatap Bapaknya.
"Aku tidak sedih karena ada yang memakai sarung milik Indo tapi aku sedih karena aku tidak bisa memberikan sarung yang lebih baik dari itu," jelasnya.
Puang Dodi kembali mengangguk lalu kembali mengusap kepala Tuo.
"Aku sudah menganggap Saoda seperti adik aku sendiri, Bapak."
"Aku senang Saoda ada di sini. Aku bisa memilik saudara, adik dan juga teman nantinya, tapi sepertinya Saoda tidak mau menjadi saudara, teman dan bahkan Adikku."
Saoda seketika terhenyak di tempatnya berdiri. Dia tidak bermaksud seperti itu. Saoda kembali menoleh setelah Tuo kembali bicara.
"Sepertinya dia tidak senang tinggal di sini. Dia bahkan tidak mau bicara ketika aku mengajaknya bicara. Sepertinya dia membenciku."
Mendengar hal itu Saoda langsung menggeleng. Walaupun Tuo tidak melihatnya namun, spontan ia menolak kalimat Tuo. Itu tidak benar, Saoda tidak bermaksud seperti itu.
"Kau tidak usah sedih, Nak! Saoda hanya masih merasa sedih karena kepergian kedua orang tuanya. Dia itu masih dalam keadaan trauma."
"Saoda diam bukan berarti tidak mau bersama kau. Dia mau menjadi saudara, adik dan bahkan teman kau hanya saja waktunya yang belum tepat."
"Berikan dia waktu untuk beradaptasi maka nanti dia juga membaik. Tidak seperti sekarang ini."
__ADS_1
Tuo hanya mengangguk membuat Saoda tersenyum di balik kain gorden kamar yang ia buka sedikit.
Saoda melangkah masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia memasang kelambu dan sarung untuk menyelimuti tubuhnya.