
"Bawa aku ke rumah Erni!"
Raina tersenyum. Ia mengusap pipinya yang basah itu lalu menoleh menatap jarum jam dinding yang kini menunjukkan pukul sebelas lewat emat puluh tujuh menit lagi.
"Ayo, Puang! Ikut aku sebelum jam dua belas malam! Waktu kita tidak banyak."
Puang Tuo mengangguk lalu segera berlari mengikuti Raina yang kini lebih dulu berlari untuk menunjukan jalan.
...****************...
Bruak
Atap rumah terhempas oleh kencangnya tiupan angin yang berhembus diringi suara gesekan ranting-ranting pohon yang bergesekan di atas seng rumah menghasilkan suara yang lumayan berisik.
Erni mengerutkan dahinya. Suara kebisingan itu benar-benar menggangu tidurnya membuat kedua mata Erni terbuka. Rasanya perasaannya tak tenang sekarang. Tidurnya telah terganggu oleh suara kebisingan di luar sana ditambah dengan nyeri perutnya yang ingin buang air kecil.
Erni bangkit dari tempat tidurnya. Ia terdiam sejenak menatap keadaan kamarnya yang begitu gelap dan sunyi. Di rumah ini hanya ada Erni sendiri, anggota keluarganya telah lenyap satu demi satu karena ulah Parakang.
Cahaya kilat terlihat merambah masuk ke celah rumahnya disusul suara gemuruh keras dari langit. Erni tersentak kaget, ia mengusap dadanya yang berdebar kencang karena kaget.
Erni bangkit dan melangkah mendekati jendela kamarnya dan membukanya membuatnya bisa melihat langit gelap di langit. Rambut panjang Erni juga bergerak-gerak ditiup oleh kencangnya angin malam yang menampar wajah Erni begitu keras.
Erni menghela nafas. Apa mungkin malam ini akan turun hujan deras?
Erni menutup jendela kamarnya dan menguncinya dengan rapat. Ia menoleh dan melangkah keluar dari kamarnya yang tak memiliki pintu.
Erni yang ingin melangkah menuju WC kini tertahan langkahnya membawanya mendongak menatap jam dinding yang kini menunjukkan pas pukul dua belas malam.
Erni menatapnya sejenak lalu kembali melangkah menuju WC untuk membuang air kecil. Erni mengerjapkan kedua matanya beberapa kali karena masih mengantuk dan beberapa kali ia menguap lebar di dalam WC saat ia membuang air kecil.
*Duk
Duk
Duk*
Kedua mata Erni membulat ketika ia mendengar suara langkah yang lebih mirip hewan berkaki empat baru saja lewat di belakangnya.
Erni meneguk salivanya dengan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Suara apa itu? Siapa yang baru saja lewat di belakangnya?
Erni masih terdiam. Tak mungkin itu orang, di rumah ini sudah tak ada orang selain dia dan juga tak mungkin itu suara langkah hewan karena di rumah ini Erni tak memiliki hewan peliharaan seperti kucing, lalu suara apa itu?
...****************...
"Ayo cepat Puang!" teriak Raina yang kini masih berlari dengan kencang menuju rumah Erni yang masih agak jauh darinya dan juga Puang Tuo.
Angin kencang yang berhembus mengganggu sistem indra pendengarannya membuat Raina sesekali melangkah mundur saat angin yang berhembus itu seakan mendorongnya begitu kuat.
__ADS_1
Cahaya kilat disusul suara gemuruh terdengar membuat kedua orang yang masih berlari itu tersentak kaget. Beberapa rintik air hujan berjatuhan ke bumi membuat Raina menoleh menatap jam dinding yang berada di pos kamling.
Kedua mata Raina terbelalak kaget. Rasanya detak jantungnya berhenti berdetak karena takut.
"Ada apa?" tanya Puang Tuo.
"Jam dua belas malam, Puang. Parakang telah keluar!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Puang Tuo terdiam. Ia ikut menoleh menatap jam lalu kembali menatap Raina.
"Kita harus cepat!" teriaknya.
Raina mengangguk lalu kembali berlari kencang disusul turunnya hujan deras yang membasahi bumi begitu deras.
Sekujur tubuh Raina basah kuyup dengan pandangannya yang sudah kabur karena guyuran hujan yang turun. Nafas Raina sesak saat ia berlari ditambah dinginnya tubuh yang ditiup oleh angin kencang.
Suara gemuruh dan cahaya kilat menyambar begitu menakutkan membuat Raina sesekali menelungkup kepalanya dan menutup telinganya dengan keras.
Kali ini ia harus cepat.
Erni, bertahanlah! Kami akan datang untuk menolong kau!
"Dimana rumahnya?!!" teriak Puang Tuo.
"Ujung pertigaan jalan, Puang," jawabnya.
"Pertigaan jalan!!!" teriaknya.
Derasnya hujan berhasil mengalahkan suara teriakan Raina.
...****************...
Edi terdiam menanti Puang Sampe yang kini sedang memejamkan kedua matanya di depan wadah berisi bara api yang menyala dan sesekali ditaburi sebuah kemenyan menghasilkan aroma wangi.
Edi kini menelan salivanya. Sudah sejak tadi ia menanti Puang Sampe memberikan kata-kata.
"Katakan apa yang membawamu di jam selarut ini?" tanya Puang Sampe yang masih memejamkan kedua matanya.
Puang Edi mengerakkan duduknya lebih dekat dengan tatapannya yang begitu sangat serius.
"Tolong! Tunjukkan dimana sosok Parakang yang telah membunuh istri dan anakku," ujarnya dengan kedua rahangnya yang menegang karena marah.
"Kau sudah membawa sarung yang istri kau gunakan saat ia melahirkan?"
"Sudah, Puang."
Puang Sampe yang masih memejamkan kedua matanya langsung mengangkat tangannya membuat Puang Edi meletakkan sarung itu ke atas telapak tangan Puang Sampe.
__ADS_1
Puang Sampe menciumnya, membacakan mantra membuat bibirnya bergoyang dengan kepalanya yang bergerak-gerak lalu meniup sarung itu tiga kali.
Puang Sampe menggerakkan sarung itu di atas bara api yang masih bersayap itu.
"Bagaimana, Puang?" tanya Puang Edi.
Dahi Puang Sampe mengkerut dengan kuat membuat tubuhnya bergetar hingga kedua matanya terbelalak.
Puang Edi kini terdiam menatap Puang Sampe yang masih terdiam.
"Ada apa Puang?"
Pulang Sampe menoleh menatap Puang Edi yang kini masih terdiam dengan wajahnya yang begitu penasaran.
"Aku menemukannya," ujar Puang Sampe.
"Dimana, Puang?"
...****************...
... ...
... ...
Erni menelan salivanya. Ia menoleh dengan pelan menatap ke arah belakangnya yang gelap, tak ada siapapun di sana. Erni menghela nafas lega. Mungkin saja ia salah dengar atau suara itu berasal dari hembusan angin.
Erni bangkit lalu segera memasang celananya dan melangkah keluar dengan perasaannya yang kini menjadi aneh. Derasnya hujan yang berjatuhan membasahi atap rumah membuat atap rumah menghasilkan suara kebisingan di atas sana.
Erni melanghkan kakinya dengan pelan menuju pintu kamarnya. Langkahnya menjadi pelan ketika ia merasakan sesuatu yang aneh pada sekitarnya.
Erni melirik menatap ke sebelah kanan ketika ia merasakan sesuatu seakan sedang mengintainya. Ada yang sedang melihatnya.
Erni menoleh, menggerakkan kepalanya ke kanan dengan nafasnya yang mendadak meningkat. Detak jantungnya berdetak sangat cepat.
Ia menoleh ke belakang lalu mendongak kiri dan kanannya berusaha mencari sosok yang sejak tadi menganggu perasaannya.
Erni meneguk salivanya. Ia melipat bibirnya yang terasa mengering nyaris membeku katena rakit.
Krek
Erni terbelalak setelah mendengar suara sesuatu dibelakangnya membuat Erni dengan cepat menoleh menatap ke belakang. Tak ada apapun di sana.
Erni menghela nafas. Ia mengusap rambutnya yang telah basah karena keringat itu lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Erni yang kini telah berada di dalam kamar terheran menatap heran pada jendela kamarnya yang terbuka.
"Kenapa jendelanya terbuka?"
__ADS_1