Parakang

Parakang
100. Mual


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Suasana rumah begitu damai. Cahaya matahari yang terbit seakan malu-malu untuk menapakkan sirnanya di pagi hari yang cerah ini.


Suara kicauan burung-burung kecil terdengar terdengar. Mereka hinggap dari pohon ke pohon.


Saoda terlihat tersenyum. Ia menghirup udara segar dari kedua lubang hidungnya yang terasa masuk mengisi paru-parunya. Hari ini entah mengapa ia merasa bahagia. Saoda nampak bahagia saat ia sedang menjemur pakaian yang telah ia cuci di sumur.


Pakaian yang ia jemur itu bergerak-gerak saat angin berhembus membuat beberapa dedaunan kecil berguguran jatuh ke tanah.


Senyum Saoda menghilang dari bibirnya. Rasanya ada yang aneh pada tenggorokannya dan rasa mulas pada perutnya. Entah apa yang menyebabkan hal tersebut, tapi ini benar-benar tidak mengenakkan baginya.


Saoda meneguk salivanya yang terasa pahit. Ia diam sejenak seperti patung sambil memegang kain basah yang siap untuk dijemur.


"Ueeeee!!!" Saoda menutup mulutnya yang nyaris mengeluarkan isi lambungnya.


Ia diam sejenak dan kembali menutup mulutnya setelah mual beberapa kali. Saoda berlari ke arah sumur tempat dimana tadi ia mencuci.


Ia berlutut sambil berusaha untuk mengeluarkan apa yang sejak tadi menggangunya. Saoda mengusap mulutnya itu yang tak berhasil mengeluarkan apa-apa. Ia mengernyit jijik pada air sumur yang telah ia gunakan entah mengapa ia merasa jijik pada air sumur ini padahal sebelumnya ia tak pernah merasakan hal tesebut.


Tuo dan tang baru kembali setelah membawa kerbau-kerbaunya ke padang langsung menghentikan langkahnya setelah ia melihat sosok istrinya di depan sumur.


Saoda yang sejak tadi merangkak diam itu langsung duduk. Ia berniat berdiri namun, rasanya itu tidaklah muda. Kepalanya terasa pening dan berdenyut di dalam sana.


Saoda berhasil berdiri tegak namun, tak berhasil membuat rasa pusing di kepalanya itu hilang . Saoda menyentuh kepalanya yang telah berhasil membuat penglihatannya terasa berputar.


Dari sini Saoda bisa melihat sosok pria yang tengah berdiri menatapnya. Saoda tak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Saoda mengernyit bingung saat satu pria itu membelah menjadi dua orang dan kembali menjadi satu.


Apa mungkin ia akan pingsang? Kini hal itu yang menjalar di pikirannya. Jika memang ia akan pingsang atau malah tubuhnya bisa saja ambruk ke tanah karena tak bisa mengimbangi tubuhnya maka itu sangat bernshwuw.


Saoda menyentuh kepalanya dengan langkahnya yang kini terhuyung-huyung kiri dan kanan tak menentu.


Tuo mengernyitkan dahinya bingung. Apa yang terjadi pada istrinya itu?


Tuo berlari menghampiri istrinya dan menangkapnya setelah ia nyaris terjatuh ke tanah. Tuo bisa merasakan jika tubuh istrinya itu terasa panas dan tak seperti biasanya.


"Kau kenapa Saoda?" tanya Tuo.


Saoda tak mampu lagi untuk berpikir. Bibirnya juga tak mampu ia gerakkan untuk menjawab pertanyaan Tuo.


Sekarang Saoda merasa jika tubuhnya ini terasa lemas. Ia tak bisa menopang tubuhnya lebih lama lagi.


"Saoda!"


"Saoda!"


"Kau kenapa?" tanya Tuo.


Tuo bisa melihat wajah pucat dari Saoda. Ada apa dengan Saoda mengapa ia bisa seperti ini?

__ADS_1


"Saoda!"


Saoda yang tak sanggup lagi langsung terjatuh membuat Tuo dengan cepat menahannya. Tak banyak berpikir Tuo dengan cepat menggendong tubuh istrinya yang sudah lemas tak berdaya itu naik ke rumah.


Cemas dan bingung, ya itu yang Tuo rasakan saat ia berusaha untuk membawa istrinya ke tempat tidur.


Tuo membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan duduk di pinggir kasur.


Ia menatape penuh kasih wajah istrinya yang benar-benar terlihat pucat.


"Saoda! Kau kenapa?"


Saoda menyentuh kepalanya yang terasa pening itu sambil sesekali ia menutup mulutnya yang terasa ingin muntah.


"Ada apa Saoda?"


"Aku tidak apa-apa," jawab Saoda sambil berusaha menahan rasa mualnya.


"Kau bilang kau tidak apa-apa, tapi wajah kau itu sangat pucat."


Saoda menghembuskan nafas panjang.


"Katakan Saoda! Kau kenapa? Apa kau sakit? Tapi sepertinya saat aku masih di rumah kau baik-baik saja."


"Aku juga tidak tahu, tapi rasanya kepala aku terasa pusing dan aku mual. Rasanya aku tidak suka bau air sumur," jelasnya.


Saoda hanya mengangguk sementara kini di satu sisi kini Tuo malah diam seperti patung.


"Tuo!"


"Iya, ada apa?"


"Dimana Puang Dodi?"


"Dia ada di padang. Aku tidak ikut untuk mengembala kerbau karena ingin pulang cepat. Bapak tidak mengizinkan aku membiarkan kau berada di rumah sendiri saja."


"Memangnya ada apa? Apa yang membuat kau mencari Bapak?"


"Tolong carikan aku buah mangga!"


"Apa?"


"Buah mangga. Aku ingin makan buah mangga."


Tuo mengerjapkan kedua matanya beberapa kali berusaha untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Katakan sekali lagi! Apa yang kau inginkan?"


"Buah mangga, Tuo. Aku ingin makan buah mangga."

__ADS_1


"Buah mangga? Tapi bulan ini bukan musim mangga lalu dimana aku harus mencari mangga untuk kau?"


Tak menyangka Tuo dibuatnya tak berselang lama Saoda terisak sambil memejamkan kedua matanya.


"Aku ingin mangga, Tuo. A-aku ingin sekali makan mangga."


"Makan mangga di saat kau mual. Saoda, aku tidak mau kalau kau malah akan sakit perut dibuatnya."


"Aku tidak mau tahu. Aku ingin makan mangga sekarang juga."


"Iya, tapi aku harus mencari mangga dimana?"


Saoda yang mendengar ujaran suaminya entah mengapa membuatnya merasa sangat kesal. Saoda bangkit dari tempat tidurnya dan memukul tubuh Tuo yang dibuat terkejut.


"Aku ingin kau membawakan aku mangga! Aku ingin mangga."


Tuo diam dengan wajah bingungnya setiap ia mendapati pukulan dari istrinya.


"Kenapa kau malah memukul aku?"


"Karena kau tidak mau membawakan aku mangga. Aku ini ingin makan mangga. Mengapa kau tidak mau mengerti," jelasnya lalu kembali menangis.


Tuo mengernyitkan dahinya bingung dengan perubahan perilaku istrinya yang berubah-ubah tak menentu. Kadang ia sedih, marah dan menangis persis seperti anak kecil.


Saoda memutar tubuhnya membelakangi Tuo yang kini masih diam memikirkan perubahan perilaku istrinya yang cukup aneh itu.


"Saoda!"


"Jangan sentuh aku!" pinta Saoda sambil menangkis tangan Tuo yang berniat untuk menyentuh bahunya.


"Kau kenapa?"


"Jangan sentuh aku! Kau boleh menyentuh aku setelah kau mendapatkan mangga."


Tuo menghembuskan nafas panjang.


"Saoda! Tapi aku harus mencari dimana buah mangga yang kau inginkan itu? Saat ini bukan musim buah dan tidak ada pohon mangga yang berbuah."


"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin makan buah mangga sekarang juga."


"Tapi-"


"Aku ingin makan mangga. Cepat carikan aku mangga!"


Tuo hanya bisa diam. Saoda bahkan tidak mengizinkannya untuk bicara sedikit pun.


"Baiklah tunggu! Aku akan pergi dan mencari buah mangga untuk kau."


"Carikan aku yang masih muda!" jawab Saoda.

__ADS_1


__ADS_2