
"Di sini aku hanya ingin membantu kau agar bisa keluar dari masalah ini."
"Aku bernama Banga, dukun hebat yang sama sekali tak memiliki tandingan."
"Dukun?"
"Yah."
Saoda menatap dari ujung kaki kepala sampa ujung kaki pria berpakaian serba hitam itu membuat pria itu ikut menatap ke arah tubuhnya.
"Ada apa! Apa kau tidak percaya?"
"Bukan tidak percaya, hanya saja aku merasa ragu. Sepertinya aku tidak pernah melihat kau di desa ini."
Puang Banga tersenyum lalu ia mengangguk.
"Yah, kau benar. Dulu aku tinggal di desa ini, tapi para warga desa selalu berpikir jika ada salah satu keluarga atau warga desa yang sakit maka mereka akan mengira jika aku yang telah mengirim guna-guna."
"Padahal aku tidak pernah melakukannya dan setelah hari itu aku berjanji untuk tidak akan datang lagi ke desa ini."
"Jika kamu berjanji untuk tidak datang ke desa ini lalu mengapa kau bisa datang ke tempat ini?"
"Bukan aku yang datang, tapi kau yang memanggil aku."
"Aku yang memanggil kau? Jangan main-main! Bagaimana caranya aku memanggil kau sedangkan aku tidak mengenal kau."
"Aku tahu apa tujuan dan rencana kau anak muda dan aku juga tahu fakta tentang diri kau."
Puang Banga melangkah melintasi Saoda yang kini mengernyit bingung dan terdiam membelakangi Saoda.
"Apa maksud kau? Apa yang kau tahu tentang aku?"
Puang Banga menoleh. Ia tersenyum dan kembali membelakangi Saoda.
"Kau adalah anak dari Jambe dan Sambe."
Saoda terkejut. Bagaimana bisa pria ini mengetahui nama kedua orang tuanya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku sudah bilang kan kalau aku itu tahu semuanya. Aku ini orang sakti dan aku tahu semuanya."
"Aku tahu bagaimana mereka melempar batu dan membakar kedua orang tua kau dengan sangat kejam."
"Dan-"
Puang Banga menoleh menatap Saoda yang terlihat sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu serius.
__ADS_1
"Dan aku juga tahu apa yang telah Bahri lakukan kepada kau di dalam hutan bersama dengan teman-temannya.
Saoda menelan salivanya dengan bibir yang langsung bergetar. Bagaimana bisa pria ini tahu dengan apa yang telah Bahri lakukan kepadanya di dalam hutan itu.
Sepertinya pria ini benar-benar orang yang sakti. Dia tahu semuanya tanpa ada yang memberitahunya padahal Saoda tahu kalau kejadian itu tidak ada yang mengetahuinya.
Saoda melangkah mendekati Puang Banga yang kini menoleh dan menatapnya begitu serius sambil tersenyum. Puang Banga sepertinya sudah tahu jika Saoda telah menyadari kesaktiannya.
"Ba-ba-bagaimana kau bisa tahu semuanya?"
"Aku tahu, Nak."
"Jadi to-to-tolong jangan bocorkan rahasia ini kepada siapa pun! Aku mohon!"
Puang Banga mengangguk lalu ia menepuk bahu Saoda sejenak sambil tersenyum.
"Tidak udah khawatir, Nak. Aku juga membenci para warga desa yang tinggal di dalam desa ini."
"Setelah warga desa ini mengusir aku maka aku telah membenci mereka semua."
"Aku berjanji tidak akan membiarkan orang tahu rahasia ini."
"Apa itu berarti aku juga salah satu dari orang yang kau benci karena aku tinggal di dalam desa ini?"
Puang Banga tersenyum lalu menggeleng.
"Kau adalah orang yang menderita karena ulah para warga yang tinggal di desa."
"Nak, di sini aku hanya ingin membantu kau. Membantu kau untuk membalaskan dendam kau."
"Membantu? Bagaimana caranya kau membantu aku?"
"Kau ingin menjadi Parakang bukan?"
Saoda sedikit terkejut. Seketika jantungnya berdetak sangat cepat setelah ia mendengar ujaran Puang Banga. Ia yang baru saja ingin berpikir bagaimana pria ini bisa tahu dengan niatnya membuatnya kini menghela nafas.
Saoda baru sadar dan ingat jika pria yang sedang berdiri di depannya ini bukanlah orang biasa.
"Aku ingin, ta-tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."
"Ini lah mengapa aku datang ke tempat ini dan melanggar janji aku yang telah lama aku simpan. Aku melanggar janji aku untuk tidak menginjakkan kaki aku ke tanah desa ini, tapi karena kau maka aku datang dan melanggar janji itu."
"Aku datang ke desa ini untuk menemui kau."
"Aku yang akan membantu kau menjadi Parakang."
"Sosok mahluk jadi-jadian yang akan membantu kau untuk membalaskan dendam kau yang selama kau simpan."
__ADS_1
"Aku yang akan membawa kau di jalan pembalasan dendam. Apa kau ingin menjadi parakang?"
Saoda kini diam. Bibirnya seakan tak sanggup untuk menjawab.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau meragukan hal ini karena suami kau?"
Saoda mendongak menatap Puang Banga yang kini sedang menatapnya.
"Aku takut jika dia marah."
"Yah." Puang Banga mengangguk.
"Suami kau adalah orang yang baik. Dia yang akan menjadi penghalang dalam pembalasan dendam kau. Kau tidak bisa membalaskan dendam jika suami kau ada di samping kau."
"Lalu apa jalan keluarnya?"
"Tak perlu beri tahu suami kau itu."
"Aku takut suami aku tahu, puang."
"Dia tidak akan tahu jika dia tidak memiliki ilmu sakit dan begitu juga dengan sebaliknya. Kalau suami kau memiliki kesaktian dan pengetahuan tentang orang yang menjadi parakang maka dia akan tahu sosok parakang itu hanya dari mata dan bau tubuh kau."
Saoda kini terdiam. Saoda benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kau boleh berpikir terlebih dahulu. Jika kau ingin menjadi parakang maka datang lah kau ke rumah aku yang ada di tengah hutan belantara."
"Hutan belantara?" tanya Saoda yang begitu terkejut.
Saoda tahu kalau tempat itu sangat jauh dari desa ini. Jika ingin ke sana maka harus melewati sawah, desa seberang dan dua sungai yang konon katanya dipenuhi dengan buaya.
Yang lebih menakutkan lagi hutan itu dipenuhi dengan hewan buas yang bisa saja menyerangnya jika dia datang ke sana.
"Jika kau telah menemui hutan belantara maka cari lah pohon yang yang paling besar dan sebut nama aku tiga kali maka kau akan mendapat jalan menuju rumahku."
Saoda kini tetap terdiam. Ia masih ragu.
"Aku memberi kau kesempatan untuk berpikir, jika kau sudah mengambil keputusan maka datanglah kepada aku di malam Jum'at depan."
"Kau masih punya kesempatan untuk berpikir selama lima hari maka pikirkan hal ini secara matang-matang."
Puang Banga kini melangkah membuat Saoda kini menoleh menatap setiap langkahnya. Tak berselang lama langkah pria itu terhenti.
"Jika kau tidak datang maka kau tidak ingin membalaskan dendam kau kepada mereka dan itu berarti kau telah memutuskan untuk hidup tersiksa melihat kebahagiaan mereka."
"Tapi jika kau datang maka kau siap untuk membalaskan dendam."
"Ingat, Nak! Malam Jumat nanti, aku menunggu kau" ujar puang Banga lalu melangkah pergi.
__ADS_1