Parakang

Parakang
31. Perdebatan


__ADS_3

"Ada apa ini?" tanya Puang Tuo yang kini sedang menatap Puang Edi beserta para warga desa lainnya.


Puang Tuo kini menatap Puang Edi dan para warga yang kini masih terlihat begitu keherangan menatapnya.


"Aku bertanya dengan kalian apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Puang Tuo lagi dan kali ini berhasil membuat semua orang yang ada di hadapannya saling berbisik.


Puang Edi membuang nafasnya. Ia ikut menoleh menatap para warga yang kini sedang menatapnya, yah sejujurnya kedatangan mereka semua bukanlah karena kemauannya tapi ini semua karena bujukan dan rayuan Puang Edi.


"Ini pertanyaan yang salah Puang Tuo. Seharusnya aku yang bertanya apa yang Puang Tuo lakukan di sini," ujar Puang Edi membuat para warga saling mengangguk tanda setuju dengan pertanyaan itu.


"Katakan, Puang!"


"Ya, katakan!"


"Katakan!" sorak mereka yang begitu berisik sambil menatap Puang Tuo yang kini masih terdiam.


"Diam lah semuanya para warga!" ujar Puang Tuo sambil mengangkat tangannya membuat para warga terdiam.


"Apa yang engkau lakukan di sini? Harusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan di sini apalagi di jam yang sudah larut malam seperti ini?" tanya Puang Tuo membuat Puang Edi kini menoleh menatap para warga.


"Siapa yang menyuruh kalian semua berkumpul di sini?"


Para warga kini saling bertatapan. Mereka ingin menjawab tapi tidak berani untuk menyebut nama Puang Edi. Puang Edi menoleh menatap ke sekeliling warga yang sedang menatapnya. Tak berselang lama Puang Edi kembali menatap Puang Tuo.


"Aku yang mengumpulkan dan membawanya ke tempat ini."


Kedua mata Puang Tuo melirik menatap Puang Edi yang akhirnya angkat bicara.


"Kau?"


Tatapnya tak percaya.


"Iya, Puang."


"Tapi untuk apa kau mengumpulkan semua para warga desa? Ini sudah jam tidur dan ini adalah waktunya untuk tidur dan beristirahat."


"Semua yang ada di sini adalah para pekerja. Esok pagi ia akan kembali bekerja. Bagaimana bisa kau mengumpulkan mereka di sini?"


"Bapak-bapak dan anak-anakku sekalian untuk saat ini kalian pulanglah dan kembali beristirahat. Ingat! Besok kalian akan bekerja lagi."


"Simpanlah tenaga kalian!"

__ADS_1


"Pulang lah sekarang!"


Para warga kini saling berbisik seakan telah termakan oleh ujaran Puang Tuo. Puang Edi menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Sepertinya ia tak boleh tinggal diam. Ia tak boleh membiarkan para warga yang telah ia kumpulkan dengan susah payah malah pergi dari tempat ini karena hanya omongan dari Puang Tuo.


"Maaf Puang Tuo jika jawaban aku ini agak kurang masuk akal tapi aku mendapat kabar kalau di sini ada Parakang. Bukan begitu Bapak-bapak?"


"Iya betul!!!"


"Betul itu!!!"


"Batul!!!" sahut para warga membuat Puang Tuo melirik menatap Raina dan dan Erni yang kini terlihat sangat tegang dan ketakutan.


Wajah keduanya terlihat begitu takut serta terlihat pucat.


"Apa itu betul kalian semua datang ke sini hanya karena itu?" tanya Puang Tuo kepada semua orang yang ada di depannya.


"Iya aku mendengar ada Parakang di rumah ini."


"Betul itu."


"Ya, itu betul."


"Benar kami mendengarnya jika di sini ada Parakang!!!!"


"Hust! Tenang saudara-saudara, tenang! Jangan terlalu emosi!"


"Selesaikan dengan kepala dingin!"


"Bagaimana caranya kita bisa menyelesaikan masalah dengan dingin jika Parakang yang telah membunuh Istri dan Anakku ada di dalam rumah ini."


"Ya, dia juga yang telah membunuh Puang Bakri!!!"


"Dia yang telah meresahkan para warga!!!" teriak yang lainnya.


"Sudah hentikan! Jangan berteriak! Di mana ada Parakang? Hah? Dimana? Di sini tidak ada yang namanya Parakang."


"Bagaimana bisa kau mengatakan jika Parakang itu tidak ada, Puang Tuo?" tanya Puang Edi.


Puang Tuo kini terdiam.


"Bagaimana bisa anda mengatakan jika tidak ada yang namanya Parakang? Bagaimana bisa anda mengatakan jika Parakang itu tidak ada sementara Parakang itu ada."

__ADS_1


"Mengapa anda mengatakan hal tersebut? Bukankah engkau adalah mantan pemburu Parakang dan itu berarti engkau sudah melihat sosok Parakang dan bahkan memburunya lantas apa yang membuat anda bisa mengatakan jika Parakang itu tidak ada, Puang Tuo?"


Puang Tuo tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat. Puang Tuo tertunduk sejenak lalu kembali menatap Puang Edi dan beberapa para warga lainnya yang sepertinya sedang menunggu jawaban darinya.


"Aku tahu dan kau benar, jika aku adalah mantan pemburu Parakang dan kalian juga sudah tahu jika aku telah berhenti memburu Parakang."


"Kalian semua ingin tahu alasannya kan? Iya bukan?" tanya Puang Tuo dengan kedua tatapannya yang menatap ke seluruh warga yang ada.


"Itu semua karena aku punya alasan tersendiri dan alasannya karena aku baru sadar jika memburu Parakang itu tidaklah mudah."


"Aku tidak pernah menemukan sosok Parakang yang konon katanya selalu memangsa dan menganggu semua orang-orang tapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung."


"Bagaimana caranya aku bisa menangkapnya jika dia memang tidak ada."


"Apakah aku hanya tetap mencari sesuatu yang tidak pernah aku lihat secara langsung?"


"Jadi aku putuskan untuk berhenti untuk mencarinya atau bahkan menangkapnya, itu sama saja mencari harimau di dalam tanah."


"Yang dalam artian tidak ada maka pergilah dari sini!" ujarnya dengan penuh ketegasan membuat semua warga kini kembali berbisik.


Puang Edi menghela nafas berat.


"Baiklah Puang Tuo tapi sekarang biarkan aku yang bicara," ujar Puang Edi.


Puang Tuo menelan salivanya. Ia berusaha tenang agar ia tak terlihat ketakutan di hadapan semuanya.


Puang Tuo melirik menatap Raina dan Erni secara bergantian. Puang Tuo mengangguk pelan seakan ia berusaha memberitahu kepada mereka jika ini akan baik-baik saja.


"Jawab pertanyaan aku ini Puang Tuo!"


Puang Tuo menoleh menatap Puang Edi yang nampaknya siap untuk memberi pertanyaan.


"Apa yang kau lakukan di sini, Puang Tuo? Dan-" tanya Puang Edi yang kini menatap Puang Edi lalu melirik Raina dan Erni secara bergantian.


"Apa yang kau lakukan di rumah ini bersama dengan dua gadis ini? Kalian tidak punya hubungan darah hingga mustahil kalian bisa satu rumah."


"Sekarang jawab pertanyaan aku Puang! Apa yang kau lakukan di sini bersama dengan mereka berdua!" Tunjuknya ke arah Raina dan Erni yang kini saling bertatapan.


Puang Tuo tersenyum.


"Ya, kami memang tidak punya hubungan darah tapi sudah semestinya kita saling membantu."

__ADS_1


"Kau tahu Erni, dia adalah cucu dari Mayang. Dia sekarang tinggal sendirian di rumah ini."


"Kau tahu kalau Raina dan Erni merupakan seorang sahabat yang sudah cukup lama dimana mereka selalu bersama."


__ADS_2