
Kedua mata Saoda terbuka dan kedua matanya yang menyipit. Matanya tak bengkak seperti apa yang terakhir kali terjadi kepadanya.
Saoda mendengar suara keributan membuat Saoda mengernyit bingung. Ia melirik menatap telapak tangannya yang menyentuh permukaan tanah. Kepalanya juga masih menyentuh permukaan tanah. Apakah ia tidur di tempat ini?
Dimana ia sekarang? Dan apa yang ia lakukan di tempat ini. Saoda yang menoleh ke kiri dan kanan itu kembali mengingatkan pada kejadian pembakaran itu.
Saoda menghela nafas. Ia duduk sambil memegang lututnya dengan wajah datar. Ia sudah lelah berada di dalam mimpi ini.
Entah mengapa mimpi ini selalu saja datang dan masuk ke dalam tidurnya, namun satu hal yang membuat Saoda sedih adalah mimpi selalu menyakitkan hatinya.
Saoda sudah lelah melihat kejadian pembakaran itu. Ini sangat kejam.
Entah mengapa Tuhan seakan ingin melihat Saoda menjadi teriakan seperti ini.
"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.
"Ya, bakar dia!!!"
"Bakar!!!"
"Bakar!!!"
Mendengar hal itu membuat kedua mata Saoda melirik menatap semua orang yang masih berteriak.
Kedua mata Saoda kini menyipit menatap satu persatu orang yang ada di depannya. Mereka semua adalah orang yang telah membakar Indo dan Bapaknya.
Saoda menoleh menatap sosok Indonya yang kini telah terbaring bersimpa darah di atas tanah dan Saoda juga bisa melihat ada banyak batu di sana.
Saoda masih diam sambil memeluk kedua lututnya.
Puang Sae melangkah melintasi Saoda yang kini menoleh menatap Puang Sae yang langsung menyirami tubuh Sambe dengan minyak tanah yang berasal dari jerkin itu.
"Tidaaaaaaak!!!"
Suara teriakan gadis kecil terdengar membuat Saoda langsung menoleh menatap gadis kecil yang berwajah mirip dengannya nampak berteriak sambil merentangkan jari-jari tangannya ke arah Saoda yang begitu sangat jauh untuk ia gapai.
Boamm!!!
Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.
Kedua mata Saoda kini sedikit berkedip setelah mendengar suara keras itu. Tak ada lagi teriakan dan tangisan yang Saoda lakukan.
Jujur saja Saoda sudah bosan untuk melakukan hal itu. Ia juga benar-benar telah lelah. Percuma is berteriak dan mensngis karena itu semua tidak mempengaruhi apa yang akan terjadi.
Berteriak sekencang apa pun itu kejadiannya akan tetap sama. Peristiwa kebakaran itu tetap akan terjadi.
"Aaaaaa!!!"
"Aaaaaaa!!!"
"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"
Suara jeritan itu terdengar diiringi gerakan Sambe yang menggeliat di atas tanah berusaha untuk menghindar dari api yang telah membakar seluruh tubuhnya.
"Indooooo!!!" jerit Saoda.
Saoda menghela nafas setelah melihat Saoda kecil itu menangis membuat Saoda kini membaringkan tubuhnya di atas tanah tempat di mana ia telah terbangun.
Saoda memejamkan kedua matanya berharap ia bisa kembali di dunia nyatanya.
"Yah, aku tidak segan-segan melakukan sesuatu hal kepada kau jika kau menolak."
Seketika jantung Saoda berdetak sangat cepat. Apa yang orang itu katakan. Saoda membuka kedua matanya. Sepanjang mimpi buruk yang selama ini ia rasakan ia tak pernah mendengar suara itu.
__ADS_1
Setelah mendengar suara ini tiba-tiba saja ia teringat dengan sosok Bahri, ya suara itu persis dengan suara Bahri dan ini benar-benar membuatnya merasa takut.
Saoda membuka kedua matanya dan terkejut menatap sosok Bahri bersama dengan tiga temannya itu.
Mengapa ia bisa ada di sini dan apa yang ia lakukan di sini. Apa ini adalah bagian dari mimpinya juga. Tapi kenapa harus kejadian ini juga? Saoda tak sanggup jika harus melihat kejadian ini.
"Ayo jawab!"
Saoda tersentak kaget. Sekujur tubuhnya kini menjadi gemetar. Arah sorot mata mereka itu tertuju kepadanya. Apa ini mimpi? Tapi mengapa mereka bisa melihatnya. Yang Saoda tahu jika ini adalah sebuah mimpi maka tak ada yang bisa melihatnya tapi kini tidak seperti itu.
Apa ini nyata?
"Aku minta maaf. Aku tidak bisa menerima lamaran kau. Aku tidak bisa meninggalkan suami aku."
Kedua mata Bahri membulat. Ia begitu tak menyangka jika lagi dan lagi Saoda kembali menolaknya.
Bukan hanya Bahri yang terkejut tapi dia juga. Suara itu adalah suaranya. Tak berselang lama Saoda menoleh menatap kaget pada sosok wanita yang berwajah mirip dengannya sedang berdiri sambil memeluk keranjangnya.
Gadis itu adalah dia. Dan alasan mengapa Bahri dan teman-temannya itu melihatnya itu karena ia yang berdiri di depan Saoda yang berada di dalam mimpi itu.
"Apa kau bilang? Kau menolak aku?"
Saoda menoleh menatap Bahri yang kini kembali bicara.
"Aku minta maaf. Kau bisa mencari gadis desa yang lain yang sudah pasti lebih cantik dan jauh lebih baik dari aku."
"Kau lupakan saja aku dan pinanglah gadis lain."
"Aku tidak mungkin menerima lamaran kau karena aku telah menjadi milik Tuo. Sekali lagi aku minta maaf. Maafkan aku!" ujar Saoda lalu melangkah melintasi Bahri yang kini terlihat mematung dengan tubuh yang gemetar karena marah.
Langkah Saoda di dalam mimpi itu terlihat terhenti. Kedua matanya terbelalak setelah ia bisa merasakan seseorang yang memegang tangannya.
Saoda menoleh menatap Bahri yang kini sedang menatapnya dengan jari tangannya yang masih memegang erat pergelangan tangannya.
Saoda yang melihat dirinya di dalam mimpi itu sedang di pegang oleh Bahri membuatnya menutup mulut.
Bahri tak menjawab apa-apa. Ia menoleh menatap Saoda yang masih ia pegang dengan erat pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" pinta Saoda yang kini menggerakkan tangannya berusaha untuk segera lepas dari genggaman Bahri yang seakan mencekik pergelangan tangan Saoda di dalam mimpi.
Yah Saoda ingat bahkan rasanya itu seakan berhasil menyumbat darahnya.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan!"
Tak berselang lama suara tawa terdengar membuat Saoda di dalam mimpi itu menoleh. Ia merasa ketakutan setelah melihat tiga teman Bahri sekaligus Bahri yang kini tertawa jahat.
"Diaaaam!!! Jangan kau berani-beraninya tertawa!!!" teriak Saoda sambil menutup kedua telinganya yang sudah musk melihat mereka.
"Aku sudah bilang kan kalau kau akan mendapatkan akibat jika kau berani menolak aku."
Saoda menggeleng.
"Jangaaaa!!! Jangan lakukan itu!!" teriak Saoda yang langsung berlari berusaha untuk mencegah mereka tapi sayangnya mereka malah berhasil menembus tubuh Saoda yang kini terdiam.
"Tarik dia masuk ke dalam hutan!" pinta Bahri membuat kedua mata Saoda membulat.
Apa yang mereka katakan?
Belum lama Saoda di dalan mimpi itu terlihat menebak tiba-tiba saja dua teman Bahri memegang kedua tangan Saoda dan menariknya masuk ke dalam hutan.
"Jangan!!! Jangan sakiti aku!!!" teriak Saoda yang berusaha lepas dari pegangan pria-pria itu.
__ADS_1
Saoda memberontak dengan kuat, tapi tenaga dua pria itu lebih kuat darinya hingga membuat Saoda tak bisa lepas dari pegangan orang-orang ini yang masih menariknya.
"Tolooooong!!!" teriak Saoda.
Saoda di tarik masuk ke dalam hutan membuat keranjang belanjaannya jatuh ke tanah dan berhamburan isinya. Kaki Saoda terlihat terseret di atas tanah. Ia berusaha untuk menahan langkahnya, tapi tak semudah yang Saoda pikirkan.
Saoda yang melihat hal itu juga ikut berlari mengikuti ke arah mana pria-pria itu membawa Saoda di dalam mimpi itu masuk ke dalam mimpi.
Bruk!!!
Tubuh Saoda terhempas ke atas tanah membuat pria-pria itu tertawa.
"Mau apa kalian? Tolong lepaskan aku!!!"
"Tolonooong!!!" teriak Saoda.
Tak menyangka Saoda. Salah satu teman Bahri malah mengikat mulut Saoda dan menyumbatnya agar Saoda tak bisa berteriak.
Mereka semua tidak mau jika sampai ada yang melihat mereka melakukan hal ini kepada Saoda.
Saoda menutup mulutnya ketika melihat tubuhnya yang diperlakukan seperti itu.
Di sini ia bisa melihat jika Saoda berusaha untuk melepas penyumbat mulut itu, tapi kedua tangannya dengan cepat ditarik. Mereka menyatukan kedua tangan Saoda dan mengikatnya dengan kuat hingga Saoda tak mampu untuk bergerak.
Saat itu Saoda ingat jika ia benar-benar takut. Ia tak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadanya. Saoda ingin berteriak namun, tak bisa. Suaranya tersumbat karena kain yang menyumbat mulutnya.
Suara tawa terdengar begitu jelas. Saoda membuka kedua matanya. Ia bisa melihat Bahri yang kini melepas celananya membuat Saoda merasa takut. Apa yang akan dilakukan Bahri kepadanya?
"Diaaaam!!! Jangan tertawa!!!"
"Buka kakinya!" pinta Bahri membuat teman-temannya itu menurut dan menarik kedua kaki yang berusaha untuk ditahan oleh Saoda.
Tenaga Saoda yang lemah itu membuat kedua kakinya kini melebar membuat Bahri tersenyum. Ia menatap haus pada area milik Saoda yang kini telah terbuka seakan siap untuk dimasuki.
Bahri merangkak. Ia mendekatkan miliknya itu dan memasukannya dengan sekali hentakan membuat kedua mata Saoda meneteskan air mata.
"Tidaaaak!!!" teriak Saoda.
"Pria iblis!!!" teriak Saoda yang berusaha untuk mendorong mereka tapi tangannya malah menembus tubuh mereka.
Air mata Saoda kini kembali menetes mereka. Bukan hanya Bahri yang mengotorinya, tapi ia digilir dan menjadi pemuas nafsu teman-temannya.
"Aaaaaa!!!" teriak Saoda sambil menarik rambutnya.
Saoda hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasa sangat jijik melihat orang-orang jahat seperti mereka.
Saoda hanya bisa mendengar suara tawa yang begitu bahagia setelah melakukannya. Saoda tak tahu lagi apa yang ada di pikiran mereka semua. Mereka semua bahkan tak punya hati.
Apakah mereka tidak merasa kasihan kepadanya setelah melakukan hal ini. Tak berselang lama mereka kembali merapikan pakaian Saoda.
"Buka talinya!" ujar Bahri membuat teman-temannya itu segera melepas pengikat dari kedua tangan Saoda yang terkulai lemas.
"Aku sudah bilang kan untuk menerima lamaran aku, tapi kau tidak mau."
"Ini akibatnya jika kau menolak aku, cuih."
"Ayo kita pergi sebelum ada yang melihat kita di sini!"
Itu adalah kalimat yang Saoda dengar hingga tak berselang lama suara langkah
terdengar menjauh.
"Jangan!!! Jangan pergi!!!" teriak Saoda sambil mengejar kepergian mereka.
__ADS_1
Mereka terlihat tertawa lalu menaiki motor miliknya dan melangkah disusul suara mesin motor yang melaju pergi meninggalkan Saoda yang kini masih berdiri.
"Tidaaaak!!!" teriak Saoda.