
"Apa ini pohon yang dimaksud Puang Banga?"
Saoda menoleh menatap satu persatu pepohonan yang ada di sekitarnya. Sepertinya ini benar dugaannya. Dari sekian banyak pohon yang tumbuh di hutan yang sempat ia lihat, hanya pohon beringin ini yang paling besar.
Saoda meneguk salivanya. Ia mengerakkan tangan gemetarnya dan menyentuh permukaan batang pohon beringin yang teraba kasar.
Ia memejamkan kedua matanya dengan satu tarikan nafas yang dalam dan cukup panjang.
"Puang Banga!!!" teriak Saoda dengan nada suaranya yang cukup keras.
Suaranya terdengar seakan menggema di dalam hutan belantara melewati beberapa pepohonan yang ada.
Saoda tersentak kaget setelah mendengar suara riuh dari burung-burung yang berterbangan pergi menjauh dari pepohonan.
Ia mendongak menatap takut pada reaksi burung-burung yang seakan takut setelah mendengar nama Puang Banga yang telah Saoda sebutkan dengan teriakan.
"Puang Banga!!!"
"Puang Banga!!!"
Gruak!!!"
"Hah!!!" teriaknya kaget.
Saoda terhempas ke permukaan tanah setelah Saoda merasakan jika tanah yang ia pinjam bergetar.
Kedua matanya yang begitu sangat khawatir itu menoleh ke segala arah. Entah apa yang terjadi pada hutan ini yang bergetar cukup hebat.
"Apa yang terjadi dengan hutan ini? Kenapa-ke-kenapa tanah hutan ini bergetar?"
Tanah itu bergetar, yah Saoda bisa merasakan jika tanah itu bergetar saat kedua tangganya yang menyentuh permukaan tanah.
Kedua mata Saoda membulat takut menatap pepohonan yang bergeser diiringi suara keras. Nafas Saoda dibuat sesak saat menatapnya. Saoda tak pernah melihat kejadian yang seperti ini.
Suara gemuruh itu terhenti dan di kedua mata Saoda bisa melihat jalanan panjang yang membentang.
Saoda tak menyangka jika geseran pohon yang bergerak itu dapat membuka jalan di sana. Tubuh Saoda dibuat jadi gemetar karena takut.
Dada Saoda kembang kempis tak karuan. Kedua matanya membulat takut menatap bayangan hitam yang terlihat melangkah menembus kegelapan malam. Saoda menyipitkan kedua matanya berusaha untuk menatap sosok hitam yang sedang melangkah itu.
"Siapa itu?!!" teriak Saoda yang begitu ketakutan.
Jantungnya berdetak sangat kencang menpegaruhi nafasnya yang terasa sesak seakan tak mampu lagi untuk mengaturnya.
__ADS_1
Sosok hitam itu terhenti tepat di bawah terpaan cahaya rembulan malam. Saoda menyipitkan kedua matanya berusaha untuk menatap wajah sosok itu hingga ia mulai bernafas lega setelah mengetahui jika orang itu adalah Puang Banga.
Puang Banga menghentikan langkahnya dengan kedua tangannya yang diletakkan di belakangnya. Kedua matanya yang sayup tapi menyimpan tatapan yang penuh ketajaman menatap Saoda dengan penuh serius.
"Puang Banga?" bisik Saoda.
"Yah, selamat datang Saoda. Kedatangan kau telah menjadi jawaban bahwa kau telah setuju untuk menjadi Parakang, bukan kah seperti itu?"
Saoda terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan dari Puang Banga.
"Sekarang keputusan kau untuk menjadi Parakang telah bulat bukan?" tanya puang Banga lagi.
Saoda kini mendongak menatap Puang Banga.
"Iya, puang. Ini telah menjadi keputusan aku, puang."
"Aku ingin membalaskan dendam ku kepada mereka semua. Aku ingin mereka semua hancur dan juga merasakan apa yang aku rasakan."
"Puang Banga, aku ingin mereka menderita. Ini tidak adil jika aku saja yang merasakan rasa sakit itu. Aku ingin mereka semua lenyap dari dunia ini."
"Puang, bantu aku untuk menghancurkan mereka. Aku bersedia untuk menjadi Parakang dengan tujuan untuk menghancurkan para musuh yang telah lama aku incar."
Puang Banga tersenyum sinis lalu ia mengangguk.
"Ritual?"
"Yah." Puang Banga mengangguk.
"Menjadi Parakang bukan lah hal yang mudah, Nak dan ini bukanlah sebuah permainan, tapi ini adalah hal yang cukup berbahaya."
"Sebelum kau melaksanakan semua ritual itu maka kau harus tahu terlebih dahulu beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan."
"Sekarang bangkit lah, Nak! Aku akan mengajarkan dan memberikan kau sedikit informasi sebelum kau melewati ritual yang nantinya akan kau lalui."
"Berdirilah!"
Saoda mengangguk dan segera bangkit dari rerumputan dan di waktu yang bersamaan Puang Banga memejamkan kedua matanya dengan tarikan nafas seakan ia sedang merasakan sesuatu dari indra pembauannya.
Kedua matanya yang terpejam itu kini terbuka secara tiba-tiba. Wajahnya terlihat terkejut. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Saoda yang nampak melangkah itu. Ia menatap dengan tatapan yang begitu serius ke arah tubuh Saoda.
"Hentikan langkah kau!" pinta puang Banga.
Saoda yang terkejut itu segera menghentikan langkahnya dan menoleh menatap puang Banga yang terlihat perubahan dari wajahnya.
__ADS_1
Tatapan itu dan raut wajahnya terlihat ada perbedaan.
"Ada apa puang?"
"Aku-"
Ujarannya terhenti. Ia kembali menutup kedua matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu mengenedus-ngendus pelan membuat Saoda kebingungan. Entah apa yang membuat Puang Banga menjadi seperti itu.
"Ada ap-"
Ujaran Saoda terhenti. Ia sangat terkejut setelah melihat kedua mata Puang Banga yang langsung terbuka secara tiba-tiba. Ia kembali mengulang hal yang sama, menatap Saoda dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ada apa Puang? Apa yang puang rasakan?"
"Kau sepertinya sedang mengandung, Nak."
"Apa?"
"Yah, kau mengandung."
"Me-me-mengandung?" tanya Saoda dengan wajahnya yang begitu tak percaya.
"Iya, Nak. Apa kau tidak tahu?"
Masih dengan wajah bingungnya kini Saoda menggeleng.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kau ini sedang mengandung. Aku bisa mencium aroma janin pada diri kau."
Saoda hanya bisa terdiam dengan wajah yang sudah tak jelas lagi ingin berekspresi seperti apa. Saoda harus senang atau bahkan ia harus sedih karena kehamilan ini.
Saoda menunduk dan menyentuh perutnya yang belum membesar itu. Apakah ia benar-benar hamil lalu jika ia benar-benar hamil maka entah siapa anak yang ia kandung.
Apakah ini anak dari Tuo, Bahri atau bahkan tiga sahabat dari Bahri. Saoda menyentuh kepalanya yang tiba-tiba saja merasa pusing.
Kedua kakinya tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya membuat Saoda menghempaskan tubuhnya ke rerumputan dengan wajah pucat.
Ada rasa sedih, takut dan cemas dari wajah Saoda. Kedua matanya yang tak menentu menatap ke arah mana menjadi berair hingga pipinya basah setelah kedua mata itu berhasil menangis.
Saoda takut jika janin yang ia kandung ini bukanlah anak dari Tuo, tapi anak dari orang-orang jahat itu.
Saoda senang karena ia bisa mengandung dan berita ini pasti akan membuat Tuo merasa bahagia, tapi ia sedih karena ia tak tahu siapa pemilik janin ini.
Saoda meremas perutnya itu dengan keras. Ia ingin berteriak dengan keras akan tetapi, ia malu untuk melakukannya di depan Puang Banga yang kini sedang menatapnya.
__ADS_1