Parakang

Parakang
35. Lari!!!


__ADS_3

"Dia kabur!!!"


"Kejar dia!!!"


"Cepat!!!"


Raina terbelalak setelah mendengar suara teriakan para warga yang saling bersahutan di dalam sana membuatnya jadi kesulitan bernafas karena takut.


Apa mereka telah bertemu dengan sosok Saoda yang telah berbuah wujud menjadi sosok Parakang? Yah, itu yang ada di pikirannya saat ini.


Bruak


Suara keras itu terdengar disusul suara lari yang mirip dengan lari hewan berkaki empat yang berlari di samping rumah membuat Raina bisa melihat semak-semak itu bergoyang diiringi suara ranting kayu yang terdengar bergesekan.


"Apa kah itu-"


Suara Raina terhenti setelah tak berselang lama kedua mata Raina menoleh menatap para warga yang berlarian menuruni anakan tangga dengan berdesak-desakan dan berlari mengikuti ke arah mana Parakang itu berlari.


"Kejar dia!!!"


"Kejar Parakang itu!!!"


"Iya cepat!!! Jangan biarkan dia lepas!!!"


*Tong!!!


Tong!!!


Tong*!!!


"Ada Parakang!!!"


"Tolong ada Parakang!!!"

__ADS_1


Suara pukulan bambu yang dipukul dengan kayu itu terdengar begitu keras membuat Raina untuk sesaat terhenyak merasakan kepanikan pada dirinya.


Para warga telah melihat dan sekarang malah mengejar sosok Parakang itu. Jika andai kata mereka semua mendapati Parakang itu maka itu mungkin saja hari terakhirnya ia bisa melihat sosok Indok yang sangat ia sayangi. Sosok wanita tua yang selalu ada untuk dirinya, tak kenal jahat yang telah ia lakukan.


Mungkin para warga akan mengenal sisi buruknya saja dan mengingat kejahatan yang telah ia lakukan tapi tidak akan pernah sosok kebaikannya terlupa begitu saja di benak Raina.


Dahi Raina mengekerut. Ia kembali berlutut di hadapan Puang Tuo yang nampak masih ikut terdiam dengan tatapannya yang masih menatap serius ke arah cahaya obor api yang menyala itu bergerak menjauh seiring waktu berjalan.


"Puang Tuo, aku mohon tolong bantu aku kali ini!"


"Aku mohon Puang. Aku tak tahu kemana lagi harus meminta tolong jika bukan kepada engkau!"


"Aku tak tahu harus meninta bantu kepada siapa lagi jika bukan kepada engkau."


"Aku sudah beberapa kali merepotkan engkau dan kali ini aku ingin meminta agar aku kembali merepotkan engkau."


"Tolong lah Indok aku, Puang!"


"Aku mohon!"


Raina memohon sambil mengangkat kedua tangannya di hadapan Puang Tuo yang nampak terdiam.


"Nak, ketahui lah! Aku juga ingin membantu kau tapi satu orang tidak bisa melawan puluhan orang."


"Aku hanya sendiri sedangkan mereka ada banyak."


"Nak, mengertilah. Bukan maksud aku tidak ingin membantu kau tapi ini juga bukan membela siapa yang salah dan siapa yang benar."


"Satu orang tidak akan bisa mengalahkan puluhan orang selagi satu orang itu benar."


"Puang Tuo aku mohon!"


"Puang Tuo tidak sendiri. Aku ada dan juga Erni. Kita bertiga akan ada untuk bersama menolong Indok ku. Ini bukan permasalahan menolong orang yang jahat tapi ini menyangkut tentang nyawa seorang wanita tua yang telah memiliki banyak kebaikan kepada Raina."

__ADS_1


"Harus bagaimana aku sekarang, Nak?"


"Harus bagamana?"


"Aku tidak bisa apa-apa lagi sekarang."


Raina terdiam tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Ia tertunduk sejenak untuk berusaha mencerna apa yang baru saja diujarkan oleh Puang Tuo lalu tak berselang lama ia menoleh menatap cahaya obor yang menyala itu terlihat sudah agak menjauh.


"Baiklah, aku akan mencoba untuk menyelamatkan nyawa Indok ku bagaimana pun caranya."


Raina bangkit dari tanah lalu segera berlari memasuki area pepohonan yang gelap gulita mengikuti ke arah mana cahaya obor itu terlihat menyinari pohon-pohon tinggi dan besar masuk ke area kebun para warga.


"Raina!!!" teriak Erni yang melihat kepergian Raina.


"Erni!"


Suara rintihan Puang Tuo terdengar membuat Erni menoleh menatap Puang Tuo yang terlihat mendongak menatapnya.


"Pergi lah, Nak!"


"Aku mungkin tidak bisa menolongnya tapi kau bisa."


"Aku?" tanya Erni sambil menyentuh dadanya.


"Yah, Nak."


"Tapi bagaimana bisa aku menyelamatkan nyawa Parakang itu?"


"Ada Raina di sana."


"Tapi aku juga tidak mungkin bisa meninggalkan engkau, Puang di sini sendiri sementara kaki engkau sedang sakit."


"Pergilah, Nak! Aku tidak apa-apa. Cepat lari dan kejar dia!"

__ADS_1


"Tapi-"


"Lari!!!" teriak Puang Tuo.


__ADS_2