Parakang

Parakang
59. Perkelahian


__ADS_3

Suara keributan dan teriakan itu terhenti ketika pintu dibuka oleh puang Dodi disusul puang Jambe yang ikut melangkah keluar dengan tatapannya yang kini merambah ke segala arah menatap para warga yang kini sedang menatapnya.


"Ada apa ini?" tanya puang Dodi.


"Kami sedang mencari Sambe!!!" teriak Puang Sae.


Mendengar hal itu membuat Jambe menoleh menatap Sambe yang kini mengerutkan dahinya kebingungan sambil mengelus rambut Saoda yang kini masih memeluknya.


Jambe kembali menoleh para warga yang kini masih berkumpul di depan rumahnya. Ia melangkah maju dengan wajah yang kebingungan.


"Ada apa dan apa tujuan anda semua mencari istri aku?"


"Aku ingin meminta pertanggung jawaban!!!"


"Pertanggungan jawaban?"


"Iya."


"Apa maksud kau? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan."


Puanh Sae tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat.


"Cuih, jangan berpura-pura kau, puang Jambe. Aku tahu kalau kau ini sedang bersandiwara dan menyembuyikan identitas yang sebenarnya tentang istri kau itu."


"Iya, jujur saja kau, puang Jambe!!!"


"Iya, katakan saja yang sebenarnya!!!"


Puang Jambe menatap ke segala arah memperhatikan semua para warga yang terlihat begitu marah. Mereka sepertinya tidak sedang main-main.


"Hentikan!!!" teriak puang Jambe membuat semua warga desa menghentikan teriakannya.


"Aku bukan sedang bersandiwara. Aku memang tidak mengerti dengan apa yang kau katakan."


"Hah, dasar pembohong. Asal kau tahu istri kau itu adalah mahluk jadi-jadian. Dia adalah Parakang!!!" Tunjuknya.


Kedua mata Sambe membulat. Ia begitu sangat sangat terkejut setelah mendengar hal tersebut. Entah apa yang mendasari sehingga mereka bisa mengatakan hal tersebut. Ini seperti saja dengan sebuah fitnah.


Tak banyak pikir Sambe segera melepas pelukan dari Saoda dan ikut melangkah keluar.


"Apa yang kau katakan? Siapa yang parakang?!!" teriak Sambe.


"Nah, itu dia Parakangnya!!!" teriak salah satu warga.


"Ayo kita tangkap dia!!!" teriak Puang Sae lalu segera berlari berniat untuk menghampiri Sambe yang kini terkejut bukan main.


Kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai hal ini bisa terjadi kepadanya.


"Hentikan!!!"


Langkah lari itu terhenti setelah suara teriakan seseorang terdengar membuat semuanya menoleh ke satu arah.


"Hentikan semua ini!!!" teriak Puang Ambo yang kini berlari menghampiri kerumunan dan berdiri di antara mereka.


Semuanya kini saling bertatapan entah mengapa puang Ambo, pria kepala desa itu bisa berada di tempat ini. Melihat sosok puang Lao membuat mereka semua sadar jika Puang Lao lah yang membuat kepala desa itu bisa berada di tempat ini.

__ADS_1


"Ada apa ini saudara-saudara?!!!" teriak Puang Ambo. Ia menatap para gerombolan warga desa lalu menatap ke arah rumah dimana Sambe, Jambe dan Dodi tengah berdiri dengan wajah yang masih kebingungan.


"Mengapa bisa ada keributan di sini?"


"Tanyakan pada istri Sambe! Dia yang memulai semuanya!!!" Tunjuk Puang Sae dengan wajah marahnya.


Matanya memerah dengan tatapan yang begitu menikam.


"Aku tidak tahu apa-apa dan aku juga tidak mengerti dengan apa yang puang katakan," bela Sambe dengan sejujurnya.


"Alah, kau hanya berpura-pura tidak tahu. Kau mengaku saja kalau kau ini adalah Parakang, iya kan?"


"Parakang? Kau mengira aku parakang?"


"Bukan hanya aku tapi semua warga desa," potong Puang Sae.


"Aku bahkan tidak percaya jika Parakang itu ada lalu bagaimana bisa aku yang menjadi Parakang."


"Mana ada Parakang yang akan mengaku Parakang. Kau jujur saja! Bukan begitu bapak-bapak?"


"Iya, betul!!!"


Sambe menoleh menatap ke segala arah dimana semua warga desa kini kembali saling berteriak sambil mengangkat obor yang menyala itu ke atas.


"Aku bukan Parakang!!!" teriak Sambe.


"Indo!" panggil Saoda yang langsung berlari dan memeluk tubuh Sambe.


Sambe menunduk sejenak lalu kembali menatap ke arah gerombolan warga desa.


"Kau mau bukti? Buktinya adalah kematian bayiku yang telah kau bunuh!!!"


"Bunuh?" bisik Sambe.


Kedua matanya bergerak memikirkan sesuatu. Ia teringat pada sosok bayi kecil yang ia gedong tadi.


"Apa bayi kau meninggal? Dan apa yang menyebabkan-"


"Ah, tidak usah sok tidak tahu. Kau yang telah membunuhnya."


"Aku tidak membunuhnya!!!" teriak Sambe.


"Pembunuh kau, Parakang!!!" teriak Ria yang kini berlari.


Ia ingin menghampiri Sambe, tapi dengan cepat dicegah oleh puang Ambo yang langsung menariknya.


"Kau pembunuh!!! Kau yang telah membuat anakku mati!!!" Tunjuk dan teriak Ria yang menangis begitu histeris.


Sambe terbelalak kaget. Ia terdiam dengan wajah yang begitu sangat terkejut. Kedua matanya itu kini menatap ke arah bayi pucat yang sedang digendong oleh Ria. Apa benar bayinya itu telah mati?


"Lihat semua!!! Lihat!!! Bayiku telah mati dan ini semua karena ulah Parakang. Dia Parakang!!!"


"Aku bukan Parakang!!!" bantah Sambe.


"Kalian semua tidak boleh asal menuduh, jika ini tidak benar maka ini adalah fitnah, ini adalah sebuah dosa!!!" teriak puang Dodi yang ikut membela.

__ADS_1


"Ini bukan fitnah atau pun omong kosong. Setelah Sambe mengendong bayiku, bayiku sekarang sudah mati. Apa itu tidak bhsa menjadi bukti?!!"


"Ya, betul!!!"


"Apa lagi yang engkau semua tunggu? Bakar saja dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat obor yang menyala itu ke atas.


"Ya, bakar!!!"


"Bakar!!!"


"Bakar!!!"


Suara teriakan para warga desa bergantian bersahutan lalu semuanya berlari mendekati Sambe namun dengan cepat dicegah oleh puang Dodi dan puang Jambe.


Sambe yang melihat itu membuatnya langsung memeluk erat tubuh Saoda yang terlihat ikut ketakutan. Usianya yang masih berusia lima tahun itu sudah mampu memahami apa yang mereka semua katakan.


"Aku tidak akan membiarkan kalian semua menyakiti istriku," ujar Jambe.


Jambe berlari turun menuruni anakan tangga sambil mendorong beberapa warga desa yang berniat untuk mendekati istrinya.


"Enyah kau dari hadapanku!!!" teriak puang Jambe.


Buk


Satu pukulan keras itu berhasil mendatar menghantam pria yang telah berani mendorongnya dengan niatnya yang ingin menarik istrinya.


Perkelahian itu kini terjadi dan bukan hanya melibatkan Puang Jambe dan para warga saja tapi Puang Dodi juga.


Suara pukulan terdengar dimana-mana diiringi suara teriakan dan erangan saat pukulan itu mendarat.


"Bapak!!!" teriak Tuo yang begitu sangat ketakutan.


Puang Dodi menoleh menatap ke arah sumber suara. Puang Dodi takut jika mereka semua ikut menyerang putranya itu.


Buk


Hantaman balok kayu menghantam keras mengenai kepala Puang Dodi yang langsung dibuat tersungkur di atas tanah.


"Bapaaaaak!!!" teriak Tuo yang begitu histeris melihat Bapaknya yang kini sudah terbaring di atas tanah dan sudah tak sadarkan diri.


"Bapak!!!" teriak Tuo yang berniat untuk berlari turun menghampiri Bapaknya, tapi dengan cepat dicegah oleh Sambe.


Ya, Sambe hanya tidak mau jika ada yang ikut memukul Tuo seperti apa yang mereka lakukan kepada Puang Dodi.


"Bapak!!!" terikat Tuo lagi.


Sambe memeluk tubuh Tuo dengan erat agar tidak lepas darinya.


"Puang Dodi!!!" teriak Puang Jambe setelah melihat keadaan puang Dodi yang sudah lemas tak berdaya.


Dengan cepat puang Jambe berlari berniat untuk menolong puang Dodi namun sayangnya ia tersentak setelah alat keras menghantam kepalanya.


Buk


"Bapak!!!" teriak Saoda.

__ADS_1


__ADS_2