Parakang

Parakang
60. Lemparan Batu


__ADS_3

"Bapak!!!" teriak Saoda.


Tubuh Puang Jambe terhempas ke atas tanah. Pandangannya memburam dan tak mampu melihat jelas orang-orang yang ada disekitarnya yang kini kembali berteriak.


Pandangsnnya kini menatap ke arah Sambe dan juga Saoda. Tangannya merentang berusaha untuk menyuruh Sambe dan Saoda. segera pergi dari sini.


Pandangan Jambe kini semakin memburam dan entah bagaimana rupa mereka sekarang yang jelas pandangan Jambe tak terlihat jelas lagi.


"Bakar!!!"


"Bakar!!!"


Suara itu yang Jambe dengar bergantian berteriak seakan menusuk gendang telinganya.


"Cepat tarik dia!!!" teriak puang Sae membuat kedua mata Sambe terbelalak kaget.


Para warga desa kini nampak berlari ke arah rumah membuatnya dengan cepat mendorong dan melepas pelukan Saoda yang sejak tadi menjeratnya.


"Tuo! Lindungi Saoda!!!" teriak Sambe membuat bocah laki-laki itu segera berlari dan memegang erat pergelangan tangan Saoda yang terlihat sangat cemas.


"Indo!" ujar Saoda yang begitu sangat takut.


Sambe sempat tersenyum sejenak. Bibirnya terlihat tersenyum tapi kedua matanya sangat jelas terlihat jika ada rasa takut di sana.


"Indo, Indo mau kemana?"


Sambe menggeleng sambil mengelus kepala Saoda.


"Indo mau menyelamatkan Bapak dan mejelaskan kebenaran ini kepada warga desa kalau Indo ini bukan Parakang. Kau percaya dengan Indo, kan?"


"Tapi indo mereka sepertinya sangat jahat."


Sambe menggeleng. Ia kembali membelai rambut anaknya itu berusaha untuk menenangkannya.


"Mereka tidak jahat, Nak! Mereka hanya salah paham."


Saoda tak mengatakan apa-apa. Entah mengapa rasanya ia berfirasat buruk. Tak tahu apa yang akan terjadi nantinya.


Tak kuasa, Sambe segera memeluk tubuh Saoda yang langsung saja menangis di pelukan Indonya.


"Indo sangat sayang kepada kau, Nak," bisik Sambe tepat di telinga Saoda.


Sambe menangkup kedua pipi Saodayang wajahnya telah memerah karena takut serta cemas. Sambe kembali tersenyum lalu segera mendekatkan ujung bibirnya berniat untuk mengecup kening putrinya itu, Sambe hanya berniat untuk menenangkan putrinya itu.


Bruak


Tubuh Sambe terhemas ke atas lantai yang terbuat dari bambu itu setelah ditarik oleh beberapa warga desa dan menyeretnya menuruni anakan tangga yang juga terbuat dari bambu itu.

__ADS_1


"Indo!!!" teriak Saoda yang langsung merentang tangannya.


Tangannya itu masih merentang memegang jari-jari tangan Indonya yang masih memegang erat jari-jari tangan Saoda.


"Cepat turun!!!" teriak salah dari mereka.


"Tarik saja! Paksa dia!!!" teriak puang Sae tanpa belas kasihan.


Para warga desa itu langsung menarik dengan paksa membuat pegangan tangan Saoda dan Sambe itu langsung terlepas.


"Indoooo!!!" teriak Saoda.


Saoda ingin berlari untuk kembali memegang tangan Indonya, tapi Tuo lebih kuat memegangnya dari belakang. Bukan bermaksud jahat, tapi ia hanya melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Jambe kepadanya.


"Sambe," ujar Jambe dengan nada suara yang sudah tak terdengar jelas.


Kedua matanya yang sayup itu menatap istrinya yang diseret menuruni anakan tangga membuat Sambe meringis kesakitan. Bagaimana ini tidak sakit jika kedua kakinya terseret di permukaan bambu yang begitu tajam rasanya.


Buk


Tubuh Sambe dilempar begitu saja di atas permukaan tanah membuat dagu Sambe terhemas ke atas tanah.


Saoda meringis kesakitan. Ia yang sedang bertiarap itu berusaha untuk bangkit membuatnya terlihat hanya bisa merangkak.


"Dasar binatang kau!!!" teriak puang Sae yang langsung mendorong kepala Sambe membuat Sambe kembali terhempas ke atas tanah.


"Apa salah aku?"


"Aku tidak tahu apa-apa tentang masalah ini!!!" teriak Sambe yang benar-benar ingin menangis.


Tak ada yang pernah memukulnya seperti itu. Ia diperlakukan seakan ia adalah mahluk yang sangat hina.


"Kau berbohong, Sambe!!!" teriak Ria yang melangkah keluar setelah membela kerumunan membuat Sambe menoleh.


"Dasar kau mahluk tidak tahu malu!!!"


"Setelah kau memakan arwah halus bayiku dan kau sekarang tidak mengakui apa yang telah kau lakukan kepada bayiku ini. Dasar kau mahluk jahanam!!!"


"Tidak!!!" teriak Saoda.


"Aku tidak pernah melakukan hal itu. Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukannya."


"Apa keuntungan yang aku dapatkan jika aku melakukan hal itu."


"Lalu mengapa bayi aku mati setelah kau menggendongnya? Hah? Apa bukti itu masih kurang untuk membuktikan jika kau ini adalah parakang?"


"Demi Tuhan, demi Tuhan! Aku juga tidak tahu dengan apa yang telah terjadi dengan bayi kau dan mengapa bayi kau bisa mati, aku juga tidak tahu."

__ADS_1


"Aku tidak pernah berniat untuk merugikan seseorang atau berniat jahat kepada siapa pun, lalu bagaimana bisa aku menjadi Parakang dan membunuh bayi kau."


"Aku bahkan tak percaya dengan sosok Parakang lalu bagaimana bisa aku yang menjadi Parakang."


"Aku mohon! Tolong percayalah dengan aku. Aku tidak pernah melakukannya dan aku ini bukan Parakang! Aku bukan Parakang!!!"


"Diam!!!" teriak Ria yang suaranya terdengar begitu sangat nyaring membuat Saoda tersentak kaget.


Ia mendongak menatap Ria yang kedua matanya yang telah memerah. Ria terlihat sedang menangis di sana sambil menggendong bayinya yang telah mati itu.


"Kau itu usah mengelak dan banyak alasan. Seribu kata pun yang kau katakan aku tidak akan pernah percaya dengan apa yang kau katakan."


"Parakang tidak akan mengaku parakang."


"Seorang pencuri tidak akan pernah mau mencuri."


"Aku tidak akan pernah percaya dengan apa yang kau katakan."


Ria menarik nafasnya yang sesak itu. Tenggorokannya kini telah terasa sakit setelah banyak berteriak.


"Sekarang, kau harus merasakan apa rasa apa yang aku rasakan. Rasa sakit di hati aku ini akan digantikan dengan rasa fisik kau," ujarnya lalu segera meraih batu sebesar genggaman membuat kedua mata Sambe membulat.


Untuk apa batu itu dan mau diapakan batu itu? Pertanyaan itu yang langsung menghampiri pikiran Sambe.


Sambe menggeleng pelan menatap baru yang diarahkan Ria ke arahnya.


"Tolong jan-"


Buk!!!


"Aaaaa!!!"


"Indo!!!" teriak Saoda setelah ia melihat Ria yang melempar tubuh Indonya itu dengan sebuah batu membuat Indonya itu meringis kesakitan.


Sambe mengerang kesakitan itu sambil memegang dahinya yang telah mengeluarkan darah. Ya lemparan batu itu berhasil mengenai dahinya.


Sambe kembali menoleh menatap Ria yang terlihat tersenyum puas. Sambe menggerakkan tangannya seakan sedang meminta maaf.


Sambe mengerjapkan sebelah matanya beberapa kali saat darah segar yang mengalir dari dahinya itu berhasil masuk ke dalam matanya.


"Aku mohon, Ria! Percayalah kepada aku!"


"Aku-aku tidak berkata bohong. Aku berkata jujur kepada kau, Ria. Tolong percayalah kepada ak-"


Buk!!!


Belum selesai penjelasan maaf Sambe, Ria kembali melemparnya dengan batu yang jauh lebih besar dari sebelumnya membuat Sambe terhempas ke atat tanah. Batu itu tepat mengenai kepalanya.

__ADS_1


"Jangan lempar Indokuuuuu!!!" teriak Saoda yang masih berusaha lepas dari pegangan Tuo yang juga ikut gemetar ketakutan.


__ADS_2