
"Tuo! Kau ingin kemana?"
Saoda melangkah mendekati suaminya yang kini sedang mengenakan pakaiannya. Tuo menoleh sejenak.
"Aku ingin membantu para warga desa untuk menangkap Parakang," jawabnya.
"Parakang? Untuk apa menangkap Parakang?"
"Karena dia telah menggangu warga desa. Lagipula ini desa kita juga, jika ada Parakang di desa ini maka desa kita ini tidak akan aman dan akan terganggu dengan bayangan Parakang."
Saoda menghela nafas.
"Aku ikut," ujarnya membuat Tuo yang sedang menutup jendela kamar menoleh dengan tatapan terkejutnya.
"Apa? Kau ingin ikut?"
"Iya, aku ingin ikut bersama kau."
Tuo menghela nafas. Ia melangkah mendekati istrinya dan menyentuh kedua bahu istrinya.
"Saoda, kau di sini saja. Aku hanya sebentar."
"Tapi-"
"Hust! Aku mohon! Untuk malam ini tolong dengarkan dan turuti aku."
"Parakang itu adalah mahluk yang berbahaya dan bisa saja mengancam nyawa seseorang. Tolong dengarkan dab turuti permintaan aku!"
Saoda menghela nafas panjang. Ia menoleh ke arah lain berusaha untuk memberitahu Tuo jika ia tak suka dengan keputusan suaminya.
Tuo tak bicara apa-apa membuat Tuo berpaling dan melangkah pergi meninggalkan kamar beserta Saoda yang kini menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Apa ini berarti Tuo sangat membenci sosok Parakang?"
"Lalu bagaimana dengan aku yang memiliki niat untuk menjadi Parakang?"
"Apa Tuo akan marah atau malah mendukung aku?"
Saoda mendengus kesal. Ia mengusap kepalanya yang terasa pening itu.
Saoda bangkit dan menghampiri jendela. Ia mengintip di celah jendela. Saoda tidak mau jika Tuo melihatnya membuka jendela.
Sebenarnya Saoda juga penasaran bagamana bentuk dan wujud dari Parakang itu. Apa mahluk itu menyeramkan?
Saoda membaringkan tubuhnya ke kasur. Kedua pasang matanya kini menatap ke permukaan dinding kamar. Rasanya ia takut berada di dalam rumah sendiri. Susana dan sepi membuat Saoda merasa takut.
Suara jengkrik di luar sana seakan mendominasi di malam yang begitu sunyi ini. Kali ini tak ada seorang pun selain ia di dalam rumah ini.
Dek!!!
Jantung Saoda mendadak kencang diiringi tubuhnya yang terasa dingin. Rasanya ia sangat takut jika kondisi seperti ini.
__ADS_1
Saoda meneguk salivanya dengan bibir yang bergetar. Entah mengapa ia bisa takut seperti ini.
Kedua mata Saoda membulat terkejut setelah ia mendengar suara papan yang berbunyi seakan-akan ada yang sedang berjalan namun, langkahnya terdengar begitu pelan.
Tubuh Saoda bergetar hebat. Suara langkah itu membuat Saoda ketakutan. Siapa itu dan mengapa ada orang yang melangkah sedangkan tidak ada di dalam rumah ini.
Seketika Saoda merasakan bagian tubuhnya di belakang merasa dingin dan menjalar hingga terasa ke kakinya. Saoda menggerakkan jari-jari tangannya dan berpegangan erat pada permukaan bantal yang mengalas kepalanya yang terasa mendingin karena terlalu takut.
Apa mungkin suara langkah itu adalah suara langkah yang dihasilkan dari suara langkah sosok mahluk jadi-jadian bernama Parakang itu.
Saoda menjilat lidahnya yang terasa kering. Apa yang harus ia lakukan jika Parakang itu benar-benar ada di dalam rumahnya lalu siapa yang akan menolongnya sedangkan di rumah ini tak ada seorang pun.
Saoda benar-benar sangat takut sekarang. Saoda menggerakkan tubuhnya dengan pelan membuat kayu ranjang itu berdecit ngilu membuat nafas Saoda tertahan.
Saoda berusaha untuk mengumpulkan semua keberaniannya untuk melihat apakah ada orang di belakangnya atau tidak.
Saoda menoleh membuatnya terkejut dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"Aaaa!!!" jerit Saoda yang langsung bangkit dari ranjang.
Tak berselang lama suara tawa terdengar membuat Saoda yang sedang bernafas cepat itu sambil mengelus dadanya yang berdebar setelah melihat wajah Tuo yang begitu sangat dekat dengan kedua mata Saoda.
"Tuo!" marah Saoda yang dengan cepat bangkit dari ranjang dan memukul tubuh Tuo yang masih juga tertawa.
"Kau jahat!"
"Jahat? Siapa yang jahat?"
Tuo tersenyum. Ia melangkah menghampiri Saoda dan berlutut di hadapan Saoda.
"Aku? Apa aku jahat?"
"Tentu saja kau jahat. Aku hampir menangis karena terkejut."
"Mengapa kau terkejut? Hem?"
Saoda melirik menatap suaminya dan memukulnya.
"Aku pikir kau adalah Parakang. Aku takut karena kau hanya meninggalkan aku sendiri saja di rumah ini."
"Kau pikir aku tidak takut, jika aku hanya sendiri di rumah ini? Aku takut, aku sangat takut."
"Bagaimana jika ada Parakang yang datang ke rumah ini dan menggangu aku di sini? Apa kau tidak khawatir kepada aku?" oceh Saoda sambil memukul tubuh Tuo yang hanya tersenyum tanpa menolak pukulan dari suaminya.
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf istriku. Aku minta maaf. Mulai hari ini aku tidak akan meninggalkan kau dan aku akan terus memeluk kau seperti ini."
Saoda tertawa kecil saat Tuo membaringkan tubuhnya ke kasur dan memeluknya dengan penuh kasih. Saoda menatap ke arah wajah suaminya setelah memberikan satu kecupan mesra ke keningnya.
"Ada apa?"
"Tidak."
__ADS_1
"Lalu? Apa yang membuat kau jadi diam seperti ini?"
"Apa Parakangnya sudah tertangkap?" tanya Saoda dengan nada bicaranya yang berusaha untuk dipelangkan.
"Tak usah dibahas!"
Saoda mengerutkan dahinya saat Tuo mengeratkan pelukannya sambil memejamkan kedua mata.
"Ada apa? Apa Parakang itu dibakar seperti yang telah dilakukan para warga desa kepada Indo dan Bapakku?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Parakangnya tidak ditemukan."
"Kenapa? Kenapa Parakang itu tidak ditemukan?"
"Dia lari pergi ke tengah hutan. Para warga desa juga telah lelah lelah dan kehilangan jejak. Di dalam hutan itu begitu sangat gelap bahkan bantuan cahaya dari api di obor pun tidak berpengaruh."
"Hutan?"
Tuo mengangguk dengan kedua matanya yang masih tertutup.
"Kau boleh berpikir terlebih dahulu. Jika kau ingin menjadi parakang maka datang lah kau ke rumah aku yang ada di tengah hutan belantara."
"Jika kau telah menemui hutan belantara maka cari lah pohon yang yang paling besar dan sebut nama aku tiga kali maka kau akan mendapat jalan menuju rumahku."
Seketika ujaran Puang Banga teringat. Apa hutan itu yang dimaksud adalah hutan belantara.
"Apa hutan itu adalah hutan belantara yang ada di sebelah desa tetangga?"
"Iya, tapi kenapa kau bisa tahu tentang hutan itu? Apa kau pernah ke sana?"
"A-a-aku pernah mendengar beberapa warga di pasar."
Tuo mengangguk.
"Yah, sepertinya hutan itu sangat berbahaya. Aku mohon kau jangan ke sana, ya!"
Seketika Saoda dibuat terkejut setelah mendengar ujaran Tuo.
"Memangnya ada ala di hutan itu sampai berbahaya?"
"Aku juga tidak terlalu percaya, tapi kata warga desa ada salah satu dukun yang lari dan tinggal di dalam hutan itu walau sampai sekarang tidak ada yang pernah melihat rumahnya."
Saoda meneguk salivanya. Yang Tuo bahas sudah jelas adalah Puang Banga. Saoda kini kembali menatap suaminya.
"Tuo!"
"Em?"
__ADS_1
"Bagaimana jika aku adalah Parakang?"