
"Apa dia menangis?"
"Ah, tidak. Aku hanya takut jika dia menangis nanti jika terlalu lama aku gendong."
Ria mengangguk lalu kembali menimang buah hatinya. Saoda hanya bisa tersenyum. Memang sudah lama ia tak lagi menggendong bayi kecil. Sekarang Saoda sudah berusia lima tahun dan rasanya Saoda sudah bisa memilik adik.
Acara syukuran kini berjalan dengan lancar. Setelah acara pemotongan rambut dan acara makan bersama kini para tamu berangsur berkurang dan kembali ke rumah masing-masing.
Sambe melangkah menuruni anakan tangga. Ia memakai alas kaki setelah cukup lama mencari sendal miliknya yang terpisah dari pasangannya setelah bercampur dengan sendal-sendal para tamu yang sempat hadir di acara syukuran ini.
Tak berselang lama Sambe melangkah dengan tatapannya yang kini merambah mencari sosok Saoda yang telah ia beri sepiring nasi dengan lauk pauk hidangan di acara syukuran ini.
"Saoda!!!" teriak Sambe yang membuat Bakri menghentikan larinya.
Ia menyentuh bahu Saoda yang kini sedang asik berlari-larian saat ia bermain kejar-kejaran.
"Saoda!"
"Kenapa?"
"Indo kau memanggil engkau. Sepertinya dia sudah mau pulang," ujarnya membuat Saoda menoleh menatap Indonya yang kini melambaikan tangannya ke arah Saoda.
"Ayo!"
"Iya, Indo!!!" teriak Saoda lalu ia menoleh menatap Bakri.
"Aku pulang dulu, ya! Salam untuk adik baru kau!!!" teriak Saoda yang kini langsung berlari meninggalkan Bakri yang kini ikut melambaikan tangannya ke arah Saoda yang kini masih berlari menghampiri Sambe.
Sesampainya Sambe langsung memegang bahu Saoda dan menyentuh pipinya.
"Apa makanan tadi kau habiskan?"
"Iya, Indo."
"Bagus. Kau tidak boleh membuang-buang makanan."
"Tapi, teman-teman aku banyak yang tidak menghabiskan makanannya."
"Mereka melakukannya karena mereka tidak tahu kalau makanan itu susah dicari. Kau tidak boleh membuang-buang makanan karena Indo sudah memberitahu kau."
Saoda mengangguk ditambah lagi ia tertunduk disaat Sambe menyentuh dan mengenggam jari-jari tangannya.
"Ayo kita pulang dan masak keong yang kau dan bapak kau cari semalam!" ajak Sambe sambil lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Apa Indo akan memasak keong itu untuk aku?"
"Iya, Nak. Bukan hanya untuk aku tapi untuk kau juga."
Saoda mengangguk. Ia tersenyum bahagia. Rasanya ia sangat memiliki sosok Indo seperti Sambe yang begitu pintar, baik dan lemah lembut tutur katanya.
Saoda kecil kini berharap agar ia bisa tumbuh besar menjadi sosok wanita pintar baik dan lemah lembut seperti Sambe.
Bagi Saoda menjadi putri dari Sambe adalah anugrah terindah yang paling indah dalam hidupnya. Banyak teman-temannya yang mengatakan jika ia ingin punya sosok Indo seperti Sambe.
Jujur Saoda bangga memiliki Indo seperti Sambe.
Daoda yang sejak tadi terdiam kini teringat akan sesuatu yaitu tentang Parakang yang telah diceritakan oleh Bakri.
"Indo!"
"Iya, ada apa?"
"Emm, kata Bakri katanya adiknya hampir dimakan oleh Parakang."
"Siapa yang bilang?"
"Bakri, Indo. Bakri sendiri yang bilang ke aku. Dia juga mengatakan kalau orang tua terkadang berbohong dan mengatakan, jika Parakang itu tidak ada agar anaknya tidak menjadi anak yang penakut," jelas Saoda.
"Apa kau percaya?"
"Aku juga tidak tahu, Indo."
"Jangan terlalu percaya kepada seseorang, Nak. Terkadang banyak orang yang pandai dalam berbohong dan membuat cerita yang tidak benar hanya untuk memancing pendengar."
Saoda mengangguk. Sudah jelas jika Bakri sudah berbohong kepadanya. Yah, tak mungkin ada Parakang.
...****************...
Saoda berlari ke arah rumah melewati halaman rumah yang terlihat berserakan dedaunan kering yang berjatuhan dari pepohonan yang tumbuh di halaman rumah dan pepohonan milik tetangga.
Saoda menyirami kakinya dengan air yang ia ambil dari kendi yang ada di anakan tangga paling bawah dan Saoda kembali berlari menaiki anakan tangga.
Sesampainya di atas ia menoleh menatap Sambe yang kini juga terlihat menyirami kakinya dan melangkah menaiki anakan tangga.
Lima belas menit kemudian kini Saoda terlihat sedang jongkok di depan Indonya yang terlihat sedang memisahkan tempat kotoran keong dari daging keong yang masih berada di cangkangnya menggunakan pisau dapur yang sudah berkarat.
Memang jika hanya memisahkan cangkang tempat kotoran dan dagingnya hanya menggunakan pisau berkarat dan tidak menggunakan pisau yang tajam.
__ADS_1
Setelah memisahkan cangkang kotoran keong dari dagingnya yang masih melekat dengan cangkangnya, Sambe kini meletakkanya ke dalam ember berisi air.
Saoda ikut membantu walau keong yang ia kerjakan tidak terlalu banyak tapi ini sudah cukup membantu bagi Sambe. Tak ada kebahagiaan yang indah bagi seorang anak selain membantu Indonya dan inilah yang dirasakan oleh Saoda sekarang.
Setelah selesai, Saoda kemudian mencucinya dengan air bersih yang berada di pinggir sumur dekat rumahnya. Air yang selalu sediakan oleh Bapaknya agar Saoda dan Sambe tidak perlu menimba jika ingin mandi atau ingin mencuci perlengkapan makan.
Sementara Saoda mencuci keong, Sambe sudah menyalakan api dan bumbu untuk keong.
"Ini, Indo," ujar Saoda yang kini meletakkan ember berisi keong itu ke samping Sambe.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Indo."
Sambe memasukkan keong-keong itu ke dalam panci yang telah diisi dengan air dan menutupnya dengan rapat.
Ia mendorong kayu agar tak mati apinya saat memasak keong. Saoda hanya terdiam, mengamati setiap apa yang dilakukan oleh Indonya.
Cukup lama menanti air itu mendidih dan setelah itu Sambe mengangkat panci berisi keong itu dan menumpahkannya ke dalam wadah lebar yang terbuat dari bambu hingga asap dan hawa panas itu terlihat membumbung menyentuh langit-langit rumah.
"Apa ini sudah masak?"
Dambe menoleh menatap Saoda yang terlihat sudah menegang piringnya membuat Sambe tertawa.
"Apa aku sudah boleh memakannya, Indo?"
"Belum, Nak! Ini masih mentah."
"Tapi Indo sudah memasaknya."
"Ini belum diberi bumbu."
Saoda langsung mengangguk. Ia pikir jika itu adalah tahap terakhir dari penantiannya tapi ternyata itu belum tahap terakhir.
Saoda meraih keong dan mengeluarkan keong dengan bambu kecil yang telah ia runcinkan ujungnya. Saoda ikut membantu dan tujuannya adalah agar keong ini cepat ia makan. Rasanya tak sabar untuk memakan keong hasil carinya semalam.
Setelah selesai Sambe kemudian memanaskan minyak yang terbuat dari kepala asli dan memasukkan bumbu halus seperti bawang merah, bawang putih, marica, garam dan sedikit lada merah ke dalam minyak panas lalu mengaduknya dengan begitu lihai membuat Saoda terlihat terkagum dengan sosok Indonya.
Pandai memasak, ya Saoda ingin jadi seperti itu.
Bau wangi menyerbak ke segala arah dan berhasil menghantam indra pembauan Saoda.
Saoda mengusap perutnya yang terasa kelaparan itu dan berbunyi. Entah mengapa ia menjadi merasa sangat kelaparan.
__ADS_1
"Ada apa?"