
Tuo melangkah keluar dan ia duduk di hadapan Puang Dodi yang kini meletakkan sebuah cincin yang masih berada di dalam kantong hitam.
"Aku sudah membelinya di pasar dan ini aku beli untuk Saoda. Cincin ini yang akan menjadi mahar untuk pernikahan kalian berdua," jelas pulang Dodi membuat Tuo mengangguk.
"Saoda, kemari lah, Nak!" panggil puang Dodi setelah melihat Saoda yang terlihat berada di pintu kamar dengan tatapannya yang menatap ke arah puang Dodi dan Tuo.
Tuo yang mendengar nama itu disebut membuatnya segera menoleh menatap sosok Saoda yang kini terlihat malu. Yah, bayangkan apa yang dilakukan Tuo kepadanya seakan tergiang di dalam benaknya.
"Kemari, Nak!" panggil puang Dodi lagi membuat Saoda kini melangkah dan duduk di samping Tuo yang juga terlihat diam.
Rasanya Tuo juga merasa malu jika is mengingat aps yang telah ia lakukan kepada Saoda tadi di dalam ruangan kamar.
"Kemari, Nak! Dan lihat cincin yang telah aku beli untuk kau," ujar Puang Dodi membuat Saida meraih cincin itu dan menatapnya begitu serius.
Cincin emas yang terlihat indah membuat senyum dari bibir Saoda tercipta.
"Apa kau suka dengan cincin itu atau cincin itu kurang bagus?"
"Cincin ini sudah bagus puang dan aku sangat menyukainya."
Mendengar hal itu membuat puang Dodi tersenyum bahagia.
Tuo yang mendengar hak itu juga ikut melirik menatap Saoda yang sesekali melirik menatap ke arahnya. Saoda hanya bisa mengalihkan perhatiannya. Ia hanya tidak mau jika puang Dodi akan merasa curiga terhadap dirinya dan juga Tuo.
...****************...
Saoda kini terlihat tersenyum ketika ia telah mendengar suara Tuo yang telah melantunkan kalimat sakral untuk meminangnya dan yang membuat Saoda merasa bahagia adalah ia dan Tuk sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Saoda telah sah menjadi milik Tuo dan Saoda juga telah sah menjadi milik Saoda. Yah, Acara akad nikah acara akad nikah hari ini telah berlangsung dengan lancar.
Walaupun tak ada banyak orang dan hanya disaksikan oleh beberapa orang saja namun, bukan sembarang orang yang ada di rumah ini untuk menjadi saksi sahnya pernikahan mereka.
Di rumah ini sudah ada kepala desa dan beberapa orang tua yang begitu sangat dihormati di desa ini guna untuk menjadi saksi pernikahan antara Saoda dan Tuo.
"Bawa mempelai wanitanya ke mari!" pinta kepala desa membuat Puang Dodi mengangguk dan segera bangkit dari duduknya.
Puang Dodi kini melangkah masuk ke dalam kamar menatap Saoda yang terlihat memakai gaun pengantin yang telah disewa. Wajah paras cantik yang telah dibumbui alat makeup seadanya membuat Saoda semakin terlihat cantik.
__ADS_1
Puang Dodi yang melihatnya langsung terkesima. Putri dari almarhum sahabatnya itu memanglah sangat cantik. Kecantikan almarhum Sambe telah menurun ke putrinya itu.
"Bawa dia keluar!" suruh puang Dodi membuat wanita setengah bays yang duduk di samping Saoda langsung mengangguk.
Wanita tua itu juga bertugas untuk memakaikan baju pengantin dan juga memberikan sedikit polesan make up.
"Ayo, Nak! ajak wanita setengah baya itu dan membantu Saoda untuk segera bangkit dari duduknya yang berada di atas kasur itu.
"Dia akan segera keluar," ujar puang Dodi yang kini telah duduk bergabung bersama dengan yang lainnya.
Kain gorden kecil yang sejak tadi menutupi permukaan pintu masuk kini telah terbuka memperlihatkan sosok wanita setengah baya itu yang terlihat menuntun Saoda keluar dari kamar.
Tuo tersenyum menatap Saoda yang begitu sangat indah. Wajah yang cantik jelita itu seakan tak membuatnya heran mengapa ia bisa tergila-gila dengan Saoda.
"Duduk, Nak!" pinta puang Dodi sambil menepuk pelan tempat yang ada di samping Tuo yang masih mematung menatap wajah cantik Saoda.
"Silahkan duduk, Nak!" pinta kepala desa itu.
Saoda yang sejak tadi diam tertunduk itu langsung terkejut setelah mendengar suara yang kembali mengingatkannya pada sosok kepala desa yang telah meninggalkan kedua orang tuanya yang pada saat itu terbakar karena ulah kesalan pahaman.
"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.
"Ya, bakar dia!!!"
"Bakar!!!"
"Bakar!!!"
Saoda meringis kesal. Suara dan bayangan itu terdengar jelas di indra pendengarannya.
"Tidaaaaaaak!!!" teriak Saoda kecil itu juga ikut terdengar seakan ingin menembus gendang telinga milik Saoda.
Boamm!!!
Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.
"Aaaaaa!!!"
__ADS_1
"Aaaaaaa!!!"
"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"
"Tidaaaak!!! Diam!!!" teriak Saoda yang langsung menutup kedua teliganya berusaha untuk tidak mendengar suara jeritan Sambe yang begitu menyayat hatinya.
Para tamu yang hadir kini terlihat begitu kebingungan melihat tingkah aneh Saoda yang kini masih berteriak sambil menutup kedua teliganya.
Tuo yang melihat hal tersebut segera bangkit dan berlari menghampiri Saoda yang masih berteriak dan menjerit begitu histeris.
"Saoda, kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Tuo yang kini memegang kedua bahu Saoda yang masih berteriak.
"Saoda, ada apa? Kau kenapa?"
Bruk!!!
Tubuh Saoda lemas dan hal itu membuat Tuo dengan cepat memegangnya higga Saoda jatuh lemas ke dalam pelukan Tuo.
"Saoda!!!" teriak puang Dodi yang langsung bangkit dan menghampiri Saoda yang sudah terbaring di atas lantai dengan kepalanya yang telihat dipangku oleh Tuo.
Para tamu juga ikut bangkit dari duduknya dengan wajah yang begitu sangat panik.
"Ada apa dengan Saoda?" tanya Puang Dodi.
Tuo kini terdiam dan berpikir sejenak hingga tak berselang lama ia menoleh menatap bapak kepala desa yang kini terlihat ikut khawatir.
"Saoda pingsan pasti karena telah melihat pak kepala desa," bisik Tuo membuat puang Dodi menoleh menoleh menatap pak kepala desa yang sepertinya tidak tahu jika gadis yang sedang pingsan ini adalah Saoda, gadis yang kedua orang tuanya telah ia tinggalkan begitu saja.
"Bukan kah Saoda juga pernah pingsan setelah dia melihat pelaku pembakaran itu saat masih kecil," ujar Tuo mengingatkan membuat puang Dodi segera mengangguk setelah mengingat hal tersebut.
"Bawa dia masuk ke dalam kamar!" pinta Puang Dodi membuat Tuo segera menggendong tubuh Saoda masuk ke dalam kamar.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya pak kepala desa itu.
Puang Dodi kini terlihat tersenyum.
"Dia hanya kelelahan saja dan tidak usah di pikirkan! Mari kita duduk!" ajaknya lalu melangkah membuat para tamu kini mengangguk dan mengikuti langkah puang Dodi.
__ADS_1