
"Kisah ini di mulai 70 tahun yang lalu...."
Suara aliran sungai terdengar begitu merdu dan terasa menangkan jiwa setelah mendengarnya. Aliran sungai yang jernih seakan membawa dengan pelan beberapa helai daun kering berwarna kecoklatan yang mengapung di atas air mirip seperti sebuah perahu yang sedang dibawa arus.
Daun kering itu menabrak bebatuan sungai yang kini tengah diinjak dengan hati-hati oleh sebuah kaki anak perempuan yang menggunakan sarung untuk menutupi dada hingga sebatas betisnya.
Ia berlutut dan memunguti satu persatu daun kering itu dan kembali meletakkannya di atas air yang tak terhalang oleh berbuat sehingga daun kering itu bisa berlayar tanpa ada hambatan dari apa pun itu.
Gadis kecil berusia 7 tahun itu tersenyum. Kedua padang matanya menatap ke arah mana daun kering itu dibawa oleh aliran sungai yang airnya masih sangat jernih.
Pemanngan pengunungan seakan terlukis indah di kedua mata gadis kecil itu. Bibirnya mengembang melukiskan senyuman indah dari bibirnya.
"Dadah, daun!!! Hati-hati, ya!!!" teriaknya seakan ia tak akan pernah bertemu lagi dengan daun itu.
"Saoda!!!"
Suara teriakan itu terdengar. Suara wanita yang sangat gadis itu kenal dan sangat berarti di kehidupannya. Gadis yang sangat ia sayangi dan cintai. Siapa lagi jika bukan Ibunya, Indo Sunge.
Wanita berusia 30 tahun itu nampak sedang mencuci pakaiannya di pinggiran sungai, di saat itu belum ada sabun yang digunakan untuk mencuci pakaian seperti apa yang selalu digunakan di zaman sekarang.
Hanya bermodalkan air sungai dan batu, pakaian sudah bersih tanpa harus menggunakan sabun.
"Iya, Indo," sahutnya. Menyapa dengan senyum wanita itu lalu melangkah pelan mendekatinya.
Ya, dia adalah Saoda, gadis kecil yang berusia 7 tahun itu dan sosok wanita yang masih sedang sibuk membanting kain ke permukaan batu itu adalah Ibu dari Saoda.
"Dimana Bapak?" tanya Saoda.
"Bapak kau pergi mencari ikan," jawabnya.
"Kapan dia akan kembali, Indo?"
"Tidak lama lagi. Dia sudah pergi dari tadi."
"Saoda!"
__ADS_1
Suara teriakan itu terdengar kembali memanggil namanya membuat Saoda menoleh menatap pria perkasa berkulit agak kecoklatan hasil paparan sinar matahari sambil membawa beberapa ikan yang diikat di akar pohon kecil.
Ikan yang tidak terlalu banyak, besar dan berisi. Dulu ikan-ikan itu walaupun masih kecil sudah memiliki ukuran yang besar. Berbeda di zaman sekarang dimana ikan-ikan semakin hari semakin mengecil dan tak sesehat yang dulu.
Ikan-ikan dapat berkembang dengan mudahnya di sungai tanpa ada kata habisnya karena orang penduduk desa tidak mencari ikan dengan menjala atau memasang jebakan panjang yang membelah sungai dari sisi kanan ke sisi kiri.
Di Zaman dulu orang-orang hanya memasang jebakan ikan di pinggir sungai dan hanya mengambil beberapa ikan yang akan dimakan di hari ini sedangkan untuk besok mereka semua tak takut jika tak akan mendapatkan ikan karena hanya menyimpan jebakan ikan di pinggir sungai dan menunggu waktu sekitar dua puluh menit mereka sudah mendapatkan ikan.
"Bapak!!!" teriak Saoda.
Ia berlari menghampiri pria yang akrab dipanggil puang Jamba itu. Pria yang menurut lara warga adalah pria yang santun dan rajin. Setiap kegiatan gotong royong dialah orang pertama yang datang.
Sifat baiknya membuat sangat disenangi oleh orang banyak. Salah satu hal mengapa Saoda bangga dengan sosok Bapaknya itu.
Daoda memeluk tubuh Bapaknya itu yang disambut oleh punggung Bapaknya yang berakhir ia duduk di atasnya. Ia tertawa disaat sosok anak kecil itu seakan telah tumbuh dewasa. Melihat permukaan sungai dengan luas serta melihat sosok Indonya yang terlihat kecil.
Saoda meraih akar kecil pohon yang digunakan untuk mengangkat ikan-ikan yang sebesar telapak tangan orang dewasa. Ia mengankatnya tinggi ke udara seakan ini adalah hasil tangkapannya.
"Indo, lihat!"
"Jangan seperti itu, nanti kau jatuh, Nak!" tegurnya.
Ia terlihat tersenyum sejenak lalu kembali fokus pada pakaian yang sudah tidak terlalu banyak. Beberapa kain sudah masuk ke dalam keranjang yang terbuat oleh rajutan daun kelapa. Ini adalah salah satu rajutan dari tangan suaminya, Jambe.
"Bapak, ayo lari!!!" rengek Saoda yang tak sabar.
"Lari?"
"Iya, Lari yang sekencang-kencangnya!"
Sunge tersenyum. Ia menggeleng melihat dan mendengar kemuan Saoda.
"Nanti kau jatuh, Nak!" tegurnya.
Suaranya indah seperti sebuah seruling yang bernada merdu, ini sebuah teguran manis dari seorang Ibu yang tak ingin anaknya terluka.
__ADS_1
"Baiklah, apa kau siap terbang?" tanya Jambe."
"Siap!!!" teriaknya.
"Kalau begitu pegangan dengan erat!"
"Iya!!!" soraknya lalu ia segera memeluk dahi Bapaknya dengan erat.
Ia tertawa, belum apa-aa ia sudah tertawa. Sensasi berada di atas ketinggian atau di bahu Bapaknya sudah menyerupai wahana baginya. Tak perlu lelah mengeluarkan uang untuk merasakan kebahagian. Bermodalkan punggung Bapak, ia sudah bisa tertawa.
"Sudah?"
"Sudah!!!" teriaknya yang semakin mempererat pegangannya.
"Satu."
"Dua."
"Tiga," hitungan terakhir yang terdengar disusul langkah setengah berlari membuat Saoda menjambak pelan rambut Jambe diiringi suara tawa yang berhasil lolos dari bibir gadis kecil itu.
"Hati-hati!" tegur Sambe yang kini sedang memeras kain hasil cuciannya sambil sesekali ia menoleh ke arah Saoda dan juga suaminya.
Ia tersenyum penuh kebahagiaan menatap pemandangan indah. Sebuah keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan walaupun tak berlinang harta. Tak ada tahta yang bisa mereka banggakan, tapi mereka punya keluarga yang penuh kebahagiaan.
Jika orang mengatakan harta adalah segalanya bagi sebuah kebahagian maka itu adalah salah karena Sambe telah membuktikan jika harta tidak selamanya menjadi janji kebahagiaan.
Hidup di tengah desa terpencil yang belum tergapi oleh tangan pemerintah seperti aliran listrik dan bantuan sebagainya belum penduduk desa ini rasakan.
Saoda kembali tertawa disaat Jambe memegang kedua tangan Saoda dan merentangkan kedua tangannya di kedua sisi lalu ia kembali berlari.
Saoda bisa merasakan udara segar tanpa polusi udara itu seakan masuk ke paru-parunya. Memanglah di desa ini udara masih sangat bersih dan sejuk, tak ada satu pun dari mereka para warga desa yang memiliki motor atau kendaraan lainnya, hanya sebuah sekedar dan gerobak kuda yang dijadikan sebagai alat tranportasi.
"Ayo pulang!" ajak Sambe yang kini mengangkat keranjang yang telah diisi oleh beberapa lembar pakaian yang basah membuat tetesan dari celah kerancang itu berjatuhan membasahi tanah.
Saoda berlari setelah diturunkan oleh Bapaknya. Meraih dan megengan erat jari tangan Indonya sedangkan tangan kanannya memegang erat jari tangan Bapaknya.
__ADS_1
"Kita mau pulang sekarang?"