
Bunga-bunga kamboja putih dan merah itu berjatuhan menghiasi kuburan yang tanahnya masih basah itu setelah diguyur dengan sebotol air.
Hari ini adalah hari penguburan dua orang sekaligus tanpa ada campur tangan dari warga desa. Puang Dodi yang senang tiasa membantu proses penguburan dari penggalian liang kubur sampai dengan bagian mengkafani.
Saoda duduk terdiam dengan wajah pucat serta lesuh. Kedua matanya membengkak dengan bibir kering. Sudah seharian gadis kecil berusia lima tahun itu tidak pernah minum. Entah mengapa ia tak ada selera bahkan rasa haus pun sudah tak mampu lagi ia rasakan. Rasa sakit di hatinya telah meraih semua perhatiannya.
Tuo yang sejak tadi menabur bunga kamboja di atas makam itu kini melirik menatap Saoda. Sudah sejak tadi gadis kecil itu hanya terdiam dengan tatapan kosongnya. Tuo tak tahu apa yang Saoda pikirkan tapi Tuo yakin jika gadis itu hanya memikirkan kedua orang tuanya dan nasibnya yang akan terjadi padanya nanti.
Tuo tahu bagaimana rasanya jika kehilangan orang yang disayangi dan hal itu juga yang dirasakan Tuo saat ia kehilangan sosok Indonya dua tahun yang lalu karena sakit.
Disaat itu hati Tuo benar-benar sakit. Sebelum meninggal Indonya Tuo adalah anak yang manja dan lebih menghabiskan waktunya untuk bermain, tapi setelah kematian Indonya Tuo pun kini menjadi anak yang rajin dalam bekerja dan memilih untuk berhenti bermain bersama dengan teman-teman sebayanya.
Menurut Tuo kematian Indonya adalah kematian pula rasa manjanya. Tak ada lagi tempatnya untuk bermanja hingga ia memutuskan untuk menjadi anak yang rajin bekerja, seperti ikut menanam padi, memotong padi, mengembala kerbau milk Bapaknya dan ikut menjual kayu bakar di perbatasan kota.
Walau tak setiap hari ia mendapatkan uang, tapi setidaknya ia bisa meringankan beban Bapaknya.
Bagi Tuo, tak apa masa kecilnya yang penuh dengan permainan itu hilang begitu saja. Yang terpenting bagi Tuo adalah ia tidak menyusahkan Bapaknya.
Hidup di tengah orang baru yang bahkan hubungan keluarga pun tak ada memanglah tidak mengenakkan dan itu juga pastinya akan menjadikan tekanan serta beban bagi Saoda.
Tuo menoleh menatap Puang Dodi yang menyikut pelan lengan Tuo.
"Ada apa dengannya?" bisik Puang Dodi membuat Tuo menoleh menatap Saoda yang terlihat diam.
Tuo menoleh kembali menatap Bapaknya yang terlihat memperhatikan sosok Saoda.
"Aku juga tidak tahu."
"Coba kau tanya!"
Tuo menoleh menatap gadis kecil itu yang hanya diam seperti patung.
"Aku tidak mau nanti dia marah," tolaknya.
__ADS_1
"Kenapa harus marah? Kita kan sekarang sudah resmi menjadi keluarga barunya."
"Kalau begitu Bapak saja yang bertanya."
Puang Dodi menghela nafas. Baru saja ia ingin mendorong putranya agar dapat lebih dekat dengan Saoda, Tuo malah bangkit dan duduk di samping makam Indonya.
Puang Dodi kini terdiam sejenak. Ia melirik menatap Saoda dan bergeser agar semakin dekat dengan gadis kecil itu.
"Em, Saoda!"
Tak ada jawaban. Saoda masih terdiam dengan berbagai pikiran yang memenuhi otaknya.
"Saoda!" panggil Puang Dodi sambil menyentuh bahu Saoda yang kini menoleh.
Kedua mata yang terlihat memerah itu mendongak menatap Puang Dodi yang kini terlihat tersenyum. Ia berusaha untuk mencoba untuk mencairkan suasana tapi Saoda malah diam seperti patung.
Saoda kembali tertunduk. Ia lebih memilih untuk menyentuh lembut kelompok bunga kamboja itu dengan ujung jari tangannya. Ia diam menikmati sentuhan lembut dari permukaan kelopak bunga yang terasa lembut itu.
Puang Dodi mendecapkan bibirnya. Ia menoleh menatap Tuo yang kini terlihat menahan tawanya sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Puang Dodi menghela nafas. Ia meraih bunga kamboja yang sejak tadi disentuh oleh Saoda membuat gadis kecil itu menoleh menatap ke arah mana bunga kamboja itu dibawa oleh Puang Dodi.
"Aku tahu, Nak. Aku tahu bagaimana perasaan kau sekarang."
"Aku juga tidak bisa melarang kau untuk tidak bersedih seperti ini."
"Indo dan Bapak aku juga sudah mati bahkan disaat aku masih bayi dan aku hanya dirawat oleh Nenekku yang juga telah meninggal sepuluh tahun yang lalu."
"Aku tahu rasanya, Nak. Sakit, ya sudah pasti itu yang kai rasakan. Dan air mata tak mungkin lagi ditahan."
"Dulu aku juga seperti kau saat Nenekku meninggal. Aku larut dalam kesedihan hingga tak memperdulikan semua orang."
"Aku membenci semua orang yang ada di dunia ini dan berharap aku juga bisa mati menyusul kepergian kedua orang tua dan Nenekku."
__ADS_1
"Yang aku pikirkan hanya lah satu. Untuk apa aku hidup jika semua orang yang dulunya selalu bersama aku telah pergi."
"Aku hanya sendiri di sini. Walaupun saat itu usia aku sudah dewasa tapi aku tidak bisa hidup jika tidak ada Nenek."
"Hanya Nenek yang aku punya sedangkan kedua orang tua aku bahkan wajahnya sudah lupa."
"Aku merasa jika aku adalah orang yang paling terpuruk di dunia."
"Aku memilih untuk mati saja, tapi tak tahu harus mati bagaimana."
Puang Dodi kini menghela nafas. Ia melirik menatap Saoda yang terlihat menatapnya seakan begitu sangat serius mendengar kisahnya.
"Aku berniat untuk bunuh diri dengan cara melompat di atas ketinggian tapi aku takut ketinggian."
"Aku berniat bunuh diri dengan cara menusuk perutku dengan pisau, tapi sayangnya aku takut dengan darah."
"Akhirnya aku memituskannya untuk bunuh diri dengan cara meminum racun, tapi sayangnya aku tidak punya uang untuk membeli racun."
Tuo tertawa cekikikan setelah mendengar kisah dari Bapaknya itu. Baginya kisah yang telah ia dengar sebanyak sepuluh kali itu selalu saja membuatnya tertawa.
Saoda ikut tertawa tapi tak berselang lama suara tawa itu terganti menjadi sebuah suara tangisan. Bahkan sekarang tertawa pun ia tidak bisa. Puang Dodi menghela nafas panjang. la meraih pundak Saoda dan mengelusnya dengan lembut.
"Menangis saja, Nak! Setelah menangis maka kau akan merasa lebih baik."
"Kau tahu, Nak. Aku akhirnya memutuskan untuk hidup seperti biasanya. Jika aku rindu maka aku akan datang menemui makam kedua orang tua dan juga Nenekku."
"Aku menjalani hidupku dengan apa adanya dan akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita. Akhirnya kami menikah dan aku punya satu anak laki-laki."
"Yah, itu dia!" Tunjuk Puang Dodi ke arah Tuo yang kini tersenyum.
"Dulu dia putih waktu masih bayi, tapi semenjak dia mengembala kerbau sekarang dia sudah nyaris hitam seperti kerbau."
Saoda tertawa cekikikan. Ia menoleh menatap Tuo yang kini malah diam cemberut.
__ADS_1
Puan Dodi ikut tertawa.
"Lihat dia sekarang cemberut seperti kerbau!" Tunjuk Puang Dodi.