Parakang

Parakang
89. Kembali


__ADS_3

Saoda mengernyitkan dahinya ia mendengar suara teriakan orang banyak yang tak tahu berapa jumlah orang itu hingga berhasil membuat ia terbangun.


"Aduh."


Saoda menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut hebat dan berhasil membuatnya meringis merasakan sakit.


Saoda masih mengingat kejadian kotor dan memalukan yang telah terjadi menimpanya, tapi dimana ia sekarang?


Kedua mata Saoda terbuka dan kedua matanya itu membulat menatap banyaknya orang yang ada di hadapannya.


Saoda mengernyit bingung. Ia melirik menatap telapak tangannya yang menyentuh permukaan tanah yang kotor. Kepalanya juga masih menyentuh permukaan tanah.


Dimana ia sekarang? Dan apa yang ia lakukan di tempat ini. Saoda yang menoleh ke kiri dan kanan itu kembali mengingatkan pada kejadian pembakaran itu.


Apa ia kembali bermimpi atau waktu yang malah mundur?


"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.


"Ya, bakar dia!!!"


"Bakar!!!"


"Bakar!!!"


Mendengar hal itu membuat kedua mata Saoda membulat. Apa yang mereka katakan? Siapa yang ingin mereka bakar?


Kedua mata Saoda kini menyipit menatap satu persatu orang yang ada di depannya. Mereka semua adalah orang yang telah membakar Indo dan Bapaknya.


Saoda menoleh menatap sosok Indonya yang kini telah terbaring bersimpa darah di atas tanah. Ada banyak batu di sana.


"Indo," ujar Saoda.


Puang Sae melangkah melintasi Saoda yang kini menoleh menatap Puang Sae langsung menyirami tubuh Sambe dengan minyak tanah yang berasal dari jerkin itu.


"Jangan!!!" teriak Saoda yang langsung berlari berniat untuk meraih jerkin minyak tanah itu berusaha untuk mencegahnya.


Saoda terkejut bukan main saat jari-jari tangannya berhasil menembus jerkin minyak tanah itu.


Ada apa ini?


Saoda mengangkat kedua tangannya dan menatapnya dengan wajah heran. Apa yang sedang terjadi kepadanya.


"Tidaaaaaaak!!!"

__ADS_1


Suara teriakan gadis kecil terdengar membuat Saoda langsung menoleh menatap gadis kecil yang berwajah mirip dengannya nampak berteriak sambil merentangkan jari-jari tangannya ke arah Saoda yang begitu sangat jauh untuk ia gapai.


Boamm!!!


Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.


Saoda memejamkan kedua matanya dan kedua telinganya dengan tangan. Suara keras itu bahkan terdengar jelas dan ini semua terasa nyata.


"Aaaaaa!!!"


"Aaaaaaa!!!"


"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"


Suara jeritan itu terdengar diiringi gerakan Sambe yang menggeliat di atas tanah berusaha untuk menghindar dari api yang telah membakar seluruh tubuhnya.


"Indooo!!!" teriak Saoda.


Saoda berlari berusaha untuk menghampiri Indonya. Ia berusaha untuk menolongnya, tapi jari tangannya bahkan tak mampu untuk menyentuh tubuh Sambe yang terbakar.


Ini, ini telah terjadi padanya. Ia kembali mendapatkan mimpi yang sama dan apa yang ia lakukan sama dengan mimpi yang telah ia lakukan.


Saoda menoleh menatap para warga desa yang kini hanya diam.


"Kenapa kalian semua diam saja? Ayo tolong Indokku! Ayo tolong Indokku!!!" teriak Saoda yang berteriak di hadapan para warga desa yang sama sekali tak melihatnya.


Suara teriakan Sambe kembali terdengar membuat Saoda menoleh menatap nanar pada tubuh terbakar Indonya.


"Indooooo!!!" jerit Saoda.


Saoda bangkit dari tidurnya dengan nafas yang ngos-ngosan. Kedua mulutnya terbuka dengan cucuran keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Saoda menoleh menatap ke segala arah dan membuatnya menghela nafas panjang.


Ia menyentuh kepalanya yang berkeringat itu. Rupanya ini hanya lah sebuah mimpi. Bukan hanya sekali Saoda mendapatkan mimpi ini, tapi ini adalah mimpi yang sudah ke ratusan kalinya.


Saoda mendongak menatap ke segala arah. Malam ini ia tak melihat ruangan tempat tidurnya tapi di sini ia bisa melihat penampakan kegelapan hutan lebat.


Saoda tersentak kaget setelah mendengar suara gonggongan anjing yang berhasil membuat bulu kuduk Saoda merinding.


Ada apa ini? Apa yang ia lakukan di hutan lebat dan gelap seperti ini.


Kini nafas Saoda tertahan di dadanya. Ia baru ingat jika Bahar dan ketiga temannya itu telah melakukan hal yang menjijikan kepadanya.


Saoda mengusap rambutnya dengan kedua mata yang terpejam. Bayangan dan suara tawa mereka seakan tergiang-ngiang di dalam ingatannya.

__ADS_1


"Aaaaaa!!!" teriak Saoda yang langsung memukuli tubuhnya sendiri dengan perasaan hancur.


Saoda merasa jika ia lah wanita yang paling kotor di dunia ini. Entah apa yang akan Tuo katakan kepadanya jika ia sampai tahu kalau istrinya ini telah dikotori oleh empat lelaki.


Kecewa, sudah pasti kecewa. Saoda kini takut jjka Tuo marah dan tidak mau lagi melihatnya. Harus apa Saoda sekarang.


"Aaaaa!!! Bodoh!!!" teriak Saoda lalu memukul kepalanya dengan keras dan melayangkan tamparan ke kedua pipinya yang kini sudah memerah.


Sakit? Ini tidak akan bisa menggantikan rasa sakit hati Tuo jika dia sampai mengetahuinya. Dimana ia harus pergi jika Tuo marah kepadanya. Ia tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ia merasa jika ia telah menghancurkan semuanya.


"Aaaaa!!!"


"Kenapa harus seperti ini?!!"


"Harusnya kau juga membunuh aku agar aku tidak menanggung beban seberat ini?!!"


"Aaaaa!!!"


Saoda memukul keras permukaan tanah yang ditumbuhi dengan rerumputan hijau. Saoda memukulnya dengan keras lalu ia juga membenturkan kepalanya hingga tubuh Saoda terjatuh ke tanah karena merasa pusing. Kepalanya terasa berdenyut di dalam sana.


Saoda yang masih terbaring itu kini bangkit dan berdiri tegak. Ia meringis menahan rasa sakit di bagian bawahnya setelah ia berhasil bangkit dari tanah.


Saoda berpegangan di batang pohon besar berusaha untuk mencegah agar ia tidak kembali jatuh ke tanah.


Pandagan Saoda terlihat memburam. Ia mendongak menatap langit serta pepohonan yang terlihat berputar membuat Saoda segera memejamkan kedua matanya.


Saoda melangkahkan kakinya dan ketika ia menjauhkan tangannya dari batang pohon dan disaat itu juga Saoda terjatuh ke tanah.


Tak menunggu waktu lama kini Saoda kembali bangkit dan berusaha untuk melangkah keluar dari hutan.


Saoda menoleh ke kiri dan kanan. Kali ini ia berharap agar tak ada satu pun orang yang melihatnya seperti ini.


"Aduh," adu Saoda.


Ia menghentikan langkahnya lalu menekan bagian bawahnya yang begitu sakit dan terasa perih. Tapi Saoda tak mau menyerah. Ia tetap memaksakan diri untuk melangkah agar bisa sampai di rumah.


Sesekali ia jatuh tersungkur ke jalan setelah tanpa sengaja kakinya terhalang oleh bebatuan kecil.


Saoda yang masih melangkah itu kini menghentikan langkahnya ketika ia bisa melihat pintu rumah yang masih terbuka.


Saoda tersenyum. Tuo pasti sedang menunggunya di dalam sana.


Saoda kini melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga dengan susah payah.

__ADS_1


Bruk!!!


Tubuh Saoda kembali terhempas ke anakan tangga setelah ia berusaha untuk merangkak naik ke atas rumah.


__ADS_2