Parakang

Parakang
51. Pulang


__ADS_3

Saoda melangkah menginjakkan kakinya melewati pematangan sawah diiringi suara jengrik dan kodok sawah yang bergantian berbunyi.


Ia terlihat melangkah mengikuti ke arah mana Jambe melangkah sambil menjinjing sebuah ember yang penuh dengan keong sementara tangan yang satu terlihat memegang ganggang obor bambu yang menjadi penerang malam hari ini.


Sesekali Jambe ikut berteriak saat seseorang menyapanya selama perjalanan. Bukan hanya sekali tapi berkali. Saoda baru tahu kalau ternyata bukan hanya dia dan Bapaknya yang mencari keong tapi ada banyak.


Saoda sempat mengernyit bingung dan berubah kesal saat ia berpapasan dengan bocah nakal yang bernama Tuo itu. Anak laki-laki yang telah berani menjulurkan lidah ke arahnya.


Anak kecil yang tubuhnya lebih tinggi dari Saoda kini terlihat ikut mencari keong bersama dengan Bapaknya, pria yang sore tadi Jambe temui di pinggir sawah.


Saoda sedikit heran, mengapa anak laki-laki itu selalu saja ada dimana pun Saoda berada dan entah mengapa anak laki-laki itu tak memakai baju.


"Ada banyak, puang?"


"Iya, sudah banyak. Ini aku juga pulang," jawabnya.


Sementara mereka berdua sedang berbincang masalah air sawah kini di satu sisi Saoda lebih tertarik menatap Tuo yang tak memakai baju dan hanya menggunakan celana pendek, itu pun sepertinya celana yang sama yang ia pakai tadi saat sore.


Terlintas di pikiran Saoda, apa anak laki-laki tidak kedinginan saat kulitnya disentuh oleh angin malam. Saoda saja yang memakai jaket milik Indonya merasa dingin apalagi dia yang hanya menggunakan celana pendek.


Saoda kembali melangkah ketika Jambe telah usai dengan pembahasan mengenai air sawah yang ada di sebrang sana.


"Bapak."


"Ada apa?"


"Mengapa anak laki-laki itu tidak pakai baju?"


"Anak laki-laki yang mana?"


"Yang mencari keong bersama dengan Bapaknya. Sahabat Bapak."


"Oh, namanya Tuo."


Saoda menghela nafas. Rasanya ia tak suka mendengar nama bocah itu.


"Memangnya kenapa, Nak?"


"Kenapa dia tidak memakai baju?"

__ADS_1


"Loh, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, tapi, kan malam ini sangat dingin tapi dia tidak memakai jaket tebal seperti aku."


"Dia sudah terbiasa lagipula dia berumur sembilan tahun jadi dia sudah cukup besar dan Saoda perempuan jadi harus pakai baju."


Saoda mengangguk.


Perlahan Saoda menoleh menatap anak laki-laki itu yang terlihat masih sibuk mencari keong di sawah yang hanya mengandalkan cahaya api dari obor.


...****************...


Saoda terdiam menanti Bapaknya yang kini sedang mencuci kaki dan tangannya dari air yang ia ambil dari kendi. Kendi air yang selalu ada di anakan tangga untuk mencuci kaki sebelum naik ke rumah.


Pintu terbuka membuat Saoda mendongak menatap wanita yang sangat ia rindui bahkan sempat terpikirkan saat ia berada di sawah.


"Sudah pulang?" tanya Sambe.


"Iya, Indo. Indo, Saoda punya banyak keong. Ada banyak keong di sawah," jelas Saoda sambil menggerakkan tangannya membuat Jambe sedikit terkejut menatap jaket yang putrinya kenakan nampak sangat kotor.


Jambe melanngkah turun menuruni anakan tangga dan mendekati Saoda yang tak henti-hentinya tersenyum.


Jambe menyentuh pipi yang terlihat sedikit kotor dan menyentuh jaket hitam yang juga terlihat kotor.


Saoda yang mendengar pertanyaan itu langsung mendongak menatap Bapaknya yang kini ikut menatapnya.


Sambe ikut menoleh menatap suaminya yang dengan cepat kembali berpura-pura mencuci kedua kakinya.


"Apa kau terjatuh? Indo, kan sudah bilang untuk tidak ikut dan Indo juga sudah bilang untuk hati-hati. Lihatlah sekarang! Jaket dan wajah kau sudah kotor," ujarnya dengan nada yang begitu sangat lembut sambil membelai mesra kepala Saoda.


"Indo, aku sudah hati-hati."


"Lalu mengapa kau bisa kotor seperti ini?"


"Waktu di jalan tadi aku melihat langit."


"Langit? Untuk apa melihat langit?"


"Aku melihat bintang dan bulan. Mereka sangat cantik. Saoda suka."

__ADS_1


Mendengar hal itu Sambe menarik Saoda agar bisa dekat dengan kendi berisi air itu dan mengusap wajah Saoda agar bersih dari lumpur yang telah nyaris mengering.


"Yah, kau suka melihat bintang dan bulan, tapi lihatlah sekarang kau sangat kotor maka dari itu jangan mengeluh di tengah malam kalau kau merasa gatal."


"Baik, Indo," jawab Saoda sambil tersenyum.


Tak ada rasa penyesalan pada sorot mata gadis berusia lima tahun itu. Ia suka melihat Sambe berbicara panjang lebar dengan nada suaranya yang lemah lembut.


Tak seperti orang tua teman-temannya yang jahatnya minta ampun. Saoda lihat sendiri jika beberapa dari teman-temannya ada yang sampai dipukul dengan kayu karena bermain hujan-hujan. Dikejar seperti pencuri lalu dipukul habis-habisan tanpa ada rasa ampun.


Pernah suatu kejadian Saoda pergi bermain bersama dengan tiga temannya ke sungai. Tak banyak yang ia lakukan di sana, hanya main air itu pun mereka tak basah sepenuhnya.


Mereka bermain air, membuat kapal kecil dari kulit kelapa dan diberikan bendera berupa daun kecil yang ditempel menggunakan getah pohon.


Baru saja mereka asik menatap ke arah mana perginya perahu buatan itu tak berselang lama suara teriakan terdengar membuat semuanya menoleh.


Saoda pikir suara itu adalah suara seseorang yang kehilangan kerbaunya karena pada saat itu banyak kerbau yang diikat di padang rumput yang tak jauh dari sungai.


Namun tak berselang lama salah satu teman Saoda langsung berlari menyebrangi sungai.


"Jangan beritahu kalau aku ada di sini," ujarnya sebelum ia memanjat pohon jambu biji yang ada di pinggir sungai.


Saoda tak mengerti mengapa dia berlari ke atas sana. Dan tak lama kemudian seorang wanita datang dan Saoda kenal dengan wanita itu, dia adalah Indo dari temannya yang masih berada di atas pohon sambil menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Wanita itu berhenti setelah ia mondar-mandir tak jelas.


"Cari apa, Tante?" tanya Saoda membuat dua temannya langsung terbelalak menatap ke arah Saoda.


"Apa kau melihat Buli?" tanya wanita itu sambil menopang pinggang yang tangannya itu terlihat memegang sebuah pelepah bambu.


"Iya, itu di atas," ujar Saoda yang langsung menunjuk ke atas pohon.


Saoda menoleh menatap dua temannya yang terlihat menunjuk ke arah lain dengan kedua matanya yang membulat kaget setelah Saoda memberitahu wanita itu.


Setelah itu tanpa Saoda duga wanita itu malah memukul temannya sampai menangis seperti kerbau yang kehilangan induknya.


Dan setelah itu Saoda tidak punya teman.


Saoda tidak tahu jika ada orang tua yang memukul anaknya sekasar itu sampai pelepah itu patah patah berhamburan.

__ADS_1


Dan kini Saoda sadar jika kedua orang tuanya berbeda dengan kedua orang tua seperti yang teman-temannya miliki.


Indo dan Bapaknya adalah orang yang baik dan Saoda bersyukur memiliki orang tua seperti mereka.


__ADS_2