Parakang

Parakang
78. Sebuah Rasa


__ADS_3

Saoda membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam. Dia duduk di atas tanah dan ia mengernyit bingung menatap permukaan telapak tangannya yang kotor.


Dimana ia sekarang? Saoda tak mengerti dengan hal ini.


"Berhenti!!!"


Suara teriakan gadis kecil itu terdengar membuat Saoda menoleh menatap dirinya sendiri yang sedang berada di atas rumah sambil menangis dan sosok Tuo yang terlihat berdiri sambil memegang salah satu tangannya.


Apa itu dia? Tapi mengapa tubuhnya bisa menjadi dua seperti ini?


"Jangan pergi!!!"


"Tolong jangan pergi!!!"


"To-to-tolong, Indokuuuuu!!!"


"Bagaimana bisa kau pergi meninggalkan Indoku dalam keadaan seperti ini!!!"


Saoda menoleh menatap puang Sae dan puang Lao yang terlihat melangkah pergi. Dua pria itu, Saoda ingat dengan mereka berdua. Dia yang telah pergi dan mengabaikan kedua orang tuanya.


"Aku mohon tolong Indokuuuu!!!" teriak Saoda yang terdengar menjerit.


Saoda yang masih duduk di atas tanah itu mendongak menatap Saoda yang berada di atas rumah itu berusaha untuk menggerakkan tangannya yang masih dipegang oleh Tuo yang sudah menangis sesenggukan.


"Lepaskan aku, Tuo!!! Lepaskan!!!"


"Tidak, Indo kah telah menyuruh aku untuk menjaga kau. A-aku-aku tidak akan melepaskan kau!!!"


"Lepaskan dia Tuo!!!" teriak Saoda.


"Kau tidak mau melepaskan aku lalu siapa yang akan menolong Indo aku di sana? Di sana dia dilempari dengan batu!!!"


"Apa kau tidak memikirkan bagaimana rasa sakitnya? Apa kau tidak tahu?!!" gertak Saoda.


"Tapi aku juga telah diperintahkan untuk menjaga kau."


"Jika aku melepaskan kau sekarang dan membiarkan kau pergi ke sana lalu apa yang akan kau lakukan? Apa? Hah?!!"


Saoda menekan kepalanya yang terasa sakit itu. Kalimat ini adalah kalimat percakapan saat peristiwa pembakaran itu. Jadi apa ini adalah sebuah mimpi lagi? Apa ia sedang bermimpi? Mimpi yang sama yang selalu ia rasakan di setiap malam?


"Kau tidak akan bisa menolongnya!!? Kau dengar?!! Kau tidak akan bisa menolongnya?!!" Tunjuknya membuat Saoda tersentak kaget.


Saoda menoleh menatap dua bocah di atas sana yang masih beradu mulut.


"Mengapa kau masih bertanya? Lepaskan aku dan biarkan aku menolong Indo aku!!!"


"Dengan cara apa kau menolongnya?"


"Aku akan menjelaskan semuanya!!!"

__ADS_1


"Tidak ada yang akan mendengar kau. Bagi mereka kau hanya seorang anak kecil yang hanya bisa menangis!!!" teriak Tuo membuat Saoda kini terdiam.


"Hentikan! Sudah cukup kita semua melemparnya!!!" teriak puang Sae membuat semua orang menghentikan lemparannya.


Saoda menoleh menatap pria itu. Bahkan ia pun telah muak melihat wajah pria yang tak punya hati itu.


"Kenapa dihentikan? Ini belum cukup untuk menghukum dan membalaskan perbuatannya."


"Ya, benar. Melempar dan membuatnya berdarah tidak lah cukup dan sekarang mari kita buat dia jauh lebih tersiksa," ujar puang Sae dengan senyum liciknya.


Para warga kini saling berbisik dengan wajahnya yang terlihat tak mengerti.


"Apa yang kau katakan puang?"


"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.


"Ya, bakar dia!!!"


"Bakar!!!"


"Bakar!!!"


Kedua mata Saoda membulat menatap puang Sae yang terlihat memutar penutup jerkin minyak tanah.


Saoda menggeleng. "Tidak, jangan lakukan itu!!!" teriak Saoda lalu segera berlari dan tangannya yang berusaha untuk menyingkirkan jerkin minyak tanah itu tapi apalah daya jari tangannya malah menembus permukaan jerkin dan tepat dihadapan kedua matanya Puang Sae langsung menyirami tubuh Sambe dengan minyak tanah yang berasal dari jerkin itu.


Boamm!!!


Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.


"Aaaaaa!!!"


"Aaaaaaa!!!"


"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"


Suara jeritan itu terdengar diiringi gerakan Sambe yang menggeliat di atas tanah berusaha untuk menghindar dari api yang telah membakar seluruh tubuhnya.


"Indooooo!!!" jerit Saoda.


Saoda menutup telinganya rapat-rapat seakan tak tega mendengar suara jeritan Indonya. Tubuh Saoda bergetar hebat. Ia benar-benar takut.


"Keluarkan aku dari mimpi ini!!!"


"Keluarkan!!!"


"Keluarkan aku!!! Aku sudah tidak tahan. Aku mohon tolong keluarkan aku!!!"


"Saoda bangun! Bangun Saoda!"

__ADS_1


"Hah!!!"


Kedua mata Saoda membulat. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan takut.


"Saoda!"


Suara berat seorang pria terdengar membuat Saoda menoleh menatap pria gagah berkulit kuning langsat kini sedang menatapnya dengan wajah yang begitu sangat khawatir.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu lagi sambil membantu Saoda untuk duduk di atas kasur.


"Aku tidak apa-apa," jawab Saoda.


Ia menoleh menatap pria berparas tampan itu. Tubuhnya tinggi dan terlihat berotot, ya ini semua karena ia rajin bekerja.


"Apa kau yakin?" tanya pria itu sekali lagi.


"Aku tidak apa-apa tuo," jawab Saoda.


Yah, setelah melewati dua belas tahun lamanya kini Tuo si bocah kecil pekerja keras itu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang rajin dalam bekerja.


Tuo menatap gadis berkulit putih bersih dengan rambut yang dibiarkan terurai serta paras cantik yang tiada tanding di desa ini. Sudah banyak pria lajang yang berniat untuk meminang Saoda namun, puang Dodi secara terang-terangan menolak.


Yah, puang Dodi masih ingat dengan kalimat yang dilontarkan saat Jambe masih hidup jika mereka akan menjodohkan anak mereka walaupun sejujurnya Saoda dan Tuo belum mengetahui perjodohan ini.


Puang Dodi berniat untuk menikahkan kan mereka diusia Saoda yang empat belas tahun, tapi terjadi peristiwa kematian ibu yang masih muda saat menjalani proses melahirkan dan usianya yang masih empat belas tahun.


Puang Dodi takut jika kejadian itu juga akan menimpa Saoda. Puang Dodi sudah berjanji untuk menjaga Saoda. Tak ada seorang pun yang bisa puang Saoda percayai selain putranya sendiri.


Puang Dodi lihat betul bagaimana perhatian Tuo kepada Saoda yang begitu sangat menyayanginya.


Tuo mengangguk lalu tak berselang lama ia segera bangkit dari tempat tidur Saoda. Ia yang sedang melangkah keluar itu kembali menoleh.


"Apa kau yakin?" tanya Tuo.


Saoda melirik membuat matanya yang begitu indah itu membuat Tuo terpesona dalam waktu sekejap sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya.


"Yah, sepertinya kau baik-baik saja," ujar Tuo lalu segera melangkah keluar.


Tuo menghentikan langkahnya yang sangat cepat itu beralih untuk duduk di anakan tangga. Ia menyentuh dadanya yang tiba-tuba saja berdebar setelah bertatapan dengan Saoda.


Sejujurnya ia menyimpan rasa kepada Saoda, tapi tak mungkin ia ungkapkan yang sejujurnya kepada Saoda. Tuo takut Saoda akan marah kepadanya apalagi mereka berdua dibesarkan bersama-sama.


Sudah jelas jika Saoda hanya menganggapnya sebagai sahabatnya saja, tak lebih.


"Ada apa, Nak?"


Suara itu terdengar membuat Tuo menoleh menatap puang Dodi yang kini tengah berdiri di anakan tangga sambil mendongak menatapnya.


"Bapak."

__ADS_1


__ADS_2