
Ria merapikan rambutnya, menyisirnya pelan dengan jejari tangannya lalu mengikatnya dengan karet. Ia diam berdiri menatap wajahnya di cermin yang berada di permukaan pintu lemari bajunya.
Tak berselang lama Ria melangkah ke arah bayi kecilnya yang hari ini telah melewati hari syukuran keluarga dan disambut bahagia oleh semua orang yang berdatangan dari berbagai tempat.
Ria duduk di pinggir kasur sambil tersenyum menatap bayi mungilnya yang malam ini tak menangis sedikit pun.
"Kenapa anak kita tidak pernah menangis?" tanya Sae yang kini sedang menukar bajunya di depan lemari.
Ria berbalik dan berujar, "Mungkin dia sedang lelah setelah melewati hari ini."
Sae tak berkata apa-apa. Ria kembai menatap bayinya. Mungkin, bayinya ini memang sedang lelah hingga tak pernah menangis.
Ria menyentuh pipi bayinya yang terasa dingin membuat kedua mata Ria membulat karena terkejut.
"Hah!!!" Kaget Ria lalu segera menarik tangannya itu.
Ria kini merasa jika jantungnya berhenti berdetak di detik ini juga. Apa yang terjadi pada bayinya itu.
Ria meneguk salivanya dengan bibir yang kini telah bergetar. Ia kembali menggerakkan tangannya dan menyentuh pipi bayinya yang benar saja sensasi yang ia dapat tadi masih ia rasakan.
Kedua mata Ria memburam. Tangannya kini merambah ke arah kaki bayinya yang dibalut dengan kain batik. Kain batik yang sama ia gunakan tadi.
Ria mengguncang tubuh bayinya yang terasa kaku bahkan bayinya tak bergerak atau merespon sebuah sentuhan yang ia berikan.
"Bayiiiiiiikuuuuuuu!!!" teriak Ria yang begitu sangat histeris membuat Sae yang kini sedang duduk di pinggir kasur itu langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya Sae yang begitu sangat terkejut.
"Bayi kitaaaaa, Daeng!!!" teriaknya histeris.
Ria berbalik sambil menggendong bayinya yang kini telah kaku dengan tubuh yang terlihat pucat.
"Jangan asal bicara kau, Ria!!!" geretaknya.
"Aku tidak asal bicara, Daeng. Lihat!!! Bayi kita sudah dingin dan tidak menangis lagi!!!"
"Bayi kita sudah tidak bernafas lagi, daeng!!!" teriaknya dengan air mata yang telah mengalir membasahi pipinya.
Mendengar hal itu membuat Sae dengan cepat menyentuh pipi bayinya yang membuatnya percaya. Apa yang telah dikatakan oleh Ria memanglah benar. Bayinya telah dingin.
Kedua mata Sae yang membulat itu menatap istrinya yang kini sudah menangis sesenggukan. Tak berselang lama Sar kembali menatap bayinya, ia merabah hidung dan lehernya berharap ia mendapatkan tanda-tanda kehidupan di sana.
"Bagaimana, daeng?"
Dada Sae seketika menjadi sesak. Kedua matanya yang sejak tadi menatap bayinya kini kembali menatap istrinya yang sudah sejak tadi menjadi cemas.
"Daeng? Bagaimana?"
Tak ada jawaban, Sae terlihat hanya terdiam dengan wajah yang terlihat datar tanpa ekspresi.
"Daeng!!! Cepat jawab!!!"
"Kenapa kau diam saja, daeng?!!"
__ADS_1
"Cepat jawab pertanyaan aku!!!" teriaknya yang amarahnya sudah di ujung tanduk.
"Bayi kita-"
"Kenapa bayi kita?"
"Bayi kita telah tiada," jawab Sae.
Seketika wanita yang sejak tadi merasa sangat bahagia karena telah mendapat satu anggota kecil baru kini terhenyak.
"Apa?" bisiknya tak percaya.
Sae mengangguk dengan terpaksa dan begitu sangat berat hati.
"Bayi kita, anak kita telah tiada, Ria."
Ria mengigit bibirnya lalu ia menunduk menatap wajah bayi mungilnya yang benar-benar telah pucat.
"Tidak! Tidak! Anakku tidak mungkin mati!!!"
"Anakku tidak mungkin mati!!!"
"Tidak mungkiiiiin!!!" teriak Ria.
"Aaaaaaa!!!"
Ria memeluk tubuh bayi kecilnya yang baru berusia 7 hari itu. Ria tidak pernah menyangka jika bayi yang telah ia harapkan dapat besar dan menjadi jagoan hidupnya akan pergi secepat ini.
"Anakku tidak mungkin mati!!!"
"Tidak mungkin!!!"
"Kenapa cepat sekali kau tinggalkan Indo, Nak?"
"Kenapa cepat sekali?"
"Ini terlalu cepat bagi Indo, Nak!!!" teriak Ria yang kini sudah menangis sesenggukan.
Bakri yang berada di ruangan tamu sambil bermain dengan beberapa mobil mainan kini langsung menghentikan mainnya dan berlari menuju kamar setelah mendengar syara teriakan Indonya.
Bakri menghentikan larinya. Ia berdiri di pintu masuk kamar dengan pipinya yang ia sandarkan di permukaan pinggir pintu masuk.
"Bagaimana bisa bayi kita sampai mati seperti itu?" tanya Sae yang kini terlihat sedang duduk di pinggir ranjang.
"Aku juga tidak tahu, Daeng."
Mendengar hal itu membuat Bakri ikut terkejut. Apa ia tidak salah dengar dengan apa yang kedua orang tuanya katakan. Apa adik barunya itu mati seperti apa yang ia dengar tadi?
"Indo!" ujar Bakri yang langsung berlari menghampiri Ria yang langsung menyambut Bakri dengan tangumisan dan pelukan.
"Bakri, adik kau telah mati, Nak," aduhnya.
"Kenapa dengan adik baru, Indo? Kenapa adik baru bisa mati?"
__ADS_1
Bruak
Kedua orang yang saling bertatapan itu langsung menoleh menatap Sae yang kini telah bangkit dari pinggir kasur setelah memukul ranjang.
"Kenapa anak kita bisa mati?!!"
"Hah?!!"
"Kau tidak memberikannya asi?!!"
Ria menggeleng. "Aku memberikannya, daeng. Bagaimana mungkin aku tidak memberikannya asi."
"Lalu apa yang menyebabkan anakku bisa mati?!!"
Ria kembali menggeleng. Ia juga tidak tahu mengapa bayinya bisa mati.
"Aku juga tidak tahu, daeng!!!" jerit Ria sambil sesekali mengelus kepala bayinya sementara Bakri kini sudah ikut menangis sambi memeluk tubuh Indonya.
Suasana kini menjadi hening. Yang terdengar hanya sebuah isakan tangis dari Ria dan Bakri. Sementara di satu sisi kini Sae menoleh, ia menatap Ria yang masih menangis.
"Apa mungkin bayi kita dimakan Parakang?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Ria menghentikan tangisannya. Kedua matanya yang merah itu menoleh menatap Sae yang nampak menatapnya begitu sangat serius.
"Parakang?" tanya Ria dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Mungkin saja, Kau-kau pasti tahu, kan ada banyak tamu yang datang dan mungkin saja ada tamu yang ternyata adalah mahluk jadi-jadian berupa Parakang."
"Mungkin saja salah satu tamu kita adalah Parakang dan dia telah membawa roh halus bayi kita saat dia melihat bayi kita."
Ria kini hanya terdiam. Pikirannya kini hanya mengingat kejadian saat acara syukuran itu berlangsung. Siapa dan bagaimana rupa para tamu itu datang.
Sae mendekat. Ia berlutut di hadapan istrinya yang terlihat memejamkan kedua matanya dengan dahi yang terlihat berkerut.
"Coba kau ingat-ingat lagi!"
"Mungkin kau mencurigai seseorang yang telah memakan roh halus anak kita."
Ria masih terdiam.
"Kita harus cepat, kita harus cepat mengetahui orang itu kalau perlu kita bakar dia hidup-hidup."
"Aku tidak akan membiarkan orang yang telah mematikan anakku bisa hidup bebas di desa bahkan sampai di dunia ini."
"Cepat Ria!!!" bentak Sae membuat kedua mata Ria terbuka lebar.
"Daeng," ujarnya dengan wajah yang terlihat pucat.
"Ada apa? Kau sudah tahu siapa?"
"Sa-sambe," ujarnya terbata-bata.
"Sambe?"
__ADS_1