Parakang

Parakang
68. Tidur Di Dalam kesunyian


__ADS_3

Saoda tidak mungkin akan seperti ini terus menerus dimana selalu merasa sedih dan alhasil membuat Tuo salah paham.


Ia tak mungkin selalu larut dalam kesedihan dan membiarkan kesedihan itu menyelimuti dirinya sepanjang hari.


Saoda akan menghadapi dunia dan kehidupan yang baru dan juga ia tak mungkin akan terus-terusan merasa lemah. Ia harus ingat jika ia punya banyak musuh yang harus ia hancurkan. Ya, siapa lagi jika bukan mereka semua. Pelaku pembakaran orang tuanya yang begitu teganya melakukan hal keji itu.


Saoda mengusap rambutnya. Ia meletakkan punggung tangannya di bawah pipinya dengan kedua sorot matanya yang menatap ke permukaan dinding rumah.


Suasana malam yang hening membuat Saoda diam dalam kesejukan malam yang membawanya pada satu hal. Kenangan Indonya. Jika malam seperti ini biasanya Indonya akan menepuk-nepek bokongnya agar bisa tidur dengan cepat sementara Bapaknya akan mengipasnya agar tak ada nyamuk yang mengganggunya.


Saoda memejamkan kedua matanya. Cukup! Saoda tak ingin mengingat itu lagi. Saoda menghela nafas panjang dan mengelokkan posisi tidurnya. Ia ingin tidur sekarang.


Saoda mengernyitkan dahinya ia mendengar suara teriakan orang banyak yang tak tahu betapa jumlah orang itu.


Kedua mata Saoda terbuka dan kedua matanya itu membulat menatap banyaknya orang yang ada di hadapannya.


Saoda mengernyit bingung. Ia melirik menatap telapak tangannya yang menyentuh permukaan tanah yang kotor. Kepalanya juga menyentuh permukaan tanah.


Dimana ia sekarang? Dan apa yang ia lakukan di tempat ini.


"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.


"Ya, bakar dia!!!"


"Bakar!!!"


"Bakar!!!"


Mendengar hal itu membuat kedua mata Saoda membulat. Apa yang mereka katakan? Siapa yang ingin mereka bakar?


Kedua mata Saoda kini menyipit menatap satu persatu orang yang ada di depannya. Mereka semua adalah orang yang telah membakar Indo dan Bapaknya.


Saoda menoleh menatap sosok Indonya yang kini telah terbaring bersimpa darah di atas tanah. Ada banyak batu di sana.


"Indo," ujar Saoda.


Puang Sae melangkah melintasi Saoda yang kini menoleh menatap Puang Sae langsung menyirami tubuh Sambe dengan minyak tanah yang berasal dari jerkin itu.


"Jangan!!!" teriak Saoda yang langsung berlari berniat untuk meraih jerkin minyak tanah itu berusaha untuk mencegahnya.


Saoda terkejut bukan main saat jari-jari tangannya berhasil menembus jerkin minyak tanah itu.


Ada apa ini?


Saoda mengangkat kedua tangannya dan menatapnya dengan wajah heran. Apa yang sedang terjadi kepadanya.


"Tidaaaaaaak!!!"

__ADS_1


Suara teriakan gadis kecil terdengar membuat Saoda langsung menoleh menatap gadis kecil yang berwajah mirip dengannya nampak berteriak sambil merentangkan jari-jari tangannya ke arah Saoda yang begitu sangat jauh untuk ia gapai.


Boamm!!!


Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.


Saoda memejamkan kedua matanya dan kedua telinganya dengan tangan. Suara keras itu bahkan terdengar jelas dan ini semua terasa nyata.


"Aaaaaa!!!"


"Aaaaaaa!!!"


"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"


Suara jeritan itu terdengar diiringi gerakan Sambe yang menggeliat di atas tanah berusaha untuk menghindar dari api yang telah membakar seluruh tubuhnya.


"Indooo!!!" teriak Saoda.


Saoda berlari berusaha untuk menghampiri Indonyam. Ia berusaha untuk menolongnya, tapi jari tangannya bahkan tak mampu untuk menyentuh tubuh Sambe yang terbakar.


Saoda menoleh menatap para warga desa yang kini hanya diam.


"Kenapa kalian semua diam saja? Ayo tolong Indoku! Ayo tolong Indoku!!!" teriak Saoda yang berteriak di hadapan para warga desa yang sama sekali tak melihatnya.


Saoda tak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Ia benar-benar tak mengerti.


"Indooooo!!!" jerit Saoda.


Saoda bangkit dari tidurnya dengan kedua mata membulat serta bibir yang kini nampak terbuka. Nafasnya ngos-ngosan seakan telah lelah berlari dengan suhu tubuhnya yang kini meningkat. Tubuhnya panas dengan cucuran keringat yang membasahi tubuhnya yang gemetar itu.


Saoda mengusap dahinya yang basah lalu menyentuh dadanya yang berdebar itu.


"Apa terjadi?" tanya Tuo yang langsung berlari masuk ke dalam kamar.


Saoda menoleh menatap Tuo yang terlihat begitu panik dan juga nampak cemas. Ia menatap Saoda dengan serius. Gadis kecil itu hanya diam dengan wajah yang pucat.


"Ada apa?" tanya Puang Dodi yang juga ikut melangkah masuk ke dalam kamar.


"Aku juga tidak tahu, pak. Aku sedang memotong kayu di bawa dan aku mendengar dia berteriak," jelas Tuo.


Puang Dodi kini mendekat lalu duduk di pinggir kasurm tepat di hadapan Saoda. Ia menyentuh kening Saoda yang terasa panas, tak seperti biasanya.


"Kau sepertinya demam, Nak. Kau sakit. Tuo!"


"Iya, pak," sahut Tuo.


"Ambilkan aku air panas dan kain kecil di dalam! Aku ingin mengompres Saoda agar demamnya segera turun," jelasnya.

__ADS_1


Tuo mengangguk lalu segera melangkah keluar dari kamar.


Puang Dodi kini menoleh menatap Saoda yang sejak tadi hanya diam membisu.


"Berbaring lah, Nak!" pintahnya membuat Saoda segera membaringkan tubuhnya ke atas permukaan kasur.


Puang Dodi merapikan sarung yang berantakan itu. Sepertinya beban yang di hadapi Saoda sangat berat hingga membuatnya sampai seperti ini. Tak perlu juga diragukan bagaimana kondisi gadis kecil ini.


Di umurnya yang masih sangat muda is harus menghadapi masalah seperti ini. Dia masih terbilang sangat muda tapi ia sudah menjadi saksi kematian Indo dan Bapaknya yang begitu sangat tragis kematiannya.


Siapa yang bisa menghadapi masalah seperti ini? Bukan hanya hati seseorang yang tersakiti, tapu juga batin serta mental seseorang.


Ini terlalu menyedihkan untuk selalu diungkit dan tak mudah juga untuk membuat seseorang bisa lupa dengan hal tersebut.


"Bapak, ini airnya," ujar Tuo yang kini meletakkan air hangat di dalam sebuah wadah berisi kain.


Puang Dodi memeras kain yang sudah menghangat itu dan meletakkannya di atas kening Saoda. Wajahnya pucat dengan bibir yang telihat kering.


"Apa sakitnya sangat parah?" tanya Tuo yang ikut duduk.


"Ia hanya sedikit syok. Sepertinya ia telah melewati mimpi buruk."


"Atau mungkin ia sakit karena mengingat Indonya," tebak Tuo.


"Dari mana kau tahu?"


"Entahlah, tapi aku mendengar kalau Saoda bertetoaj memanggil Indonya."


Puang Dodi menghela nafas panjang.


"Ya, Nak. Sepertinya kau benar."


"Apakah dia akan seperti ini untuk selamanya?"


"Tidak. Tidak selamanya, hanya saja tidak mudah untuk dia melupakan kejadian itu."


Tuo mengangguk. Ia diam menatap puang Dodi yang kini begitu perhatian merapikan kain basah yang ada di kening Saoda.


"Tuo!"


"Iya, Pak!"


"Jaga kompresinya! Kalau airnya dingin kau ganti dengan yang air yang hangat. Bapak ingin ke bawah sebentar."


"Baik, Pak," jawab Tuo yang langsung mengambil alih pekerjaan Puang Dodi.


Saoda membuka kedua matanya yang terasa hangat. Kedua sorot matanya menatap sosok Tuo yang kini sedang menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2