Parakang

Parakang
97. Kabar Mengenai Parakang


__ADS_3

Mendengar hal itu membuat Tuo kini tersenyum. Ia memeluk tubuh istrinya. Rasanya ia telah salah karena telah salah paham kepada istrinya.


"Kalau begitu aku minta maaf, yah karena telah salah paham dan malah curiga kepada kau."


"Iya, tidak apa-apa," jawab Saoda sambil mengelus lengan tangan Tuo yang ia jadikan sandaran pada pipinya.


Tatapan Saoda kini menatap ke arah dinding kamar. Sekarang keputusan apa yang harus ia ambil sekarang?


Bingung. Kini perasaan itu yang menjalar dan memenuhi pikirannya.


...****************...


Malam menjelang. Suara jangkrik terdengar menghiasi malam yang penuh dengan kesunyian. Suara binatang penghuni hutan terdengar seakan sedang diabsen oleh akan hingga berbunyi satu persatu.


Hawa dingin bahkan sudah terasa walau malam belum terlalu larut.


Setelah ia menyiapkan makanan untuk Tuo dan puang Dodi kini Saoda memutuskan untuk berada di dalam kamar dengan kesunyian malam yang sekarang telah menjadi suasana kesunyian.


Malam ini Saoda memutuskan untuk makan. Rasanya ia tak nafsu makan karena terlalu banyak pikiran.


Tuo sempat memaksanya untuk makan walah hanya sedikit, tapi Saoda tetap menolak.


Saoda berada di atas ranjang tua dengan kelambu yang telah ia pasang sambil memeluk kedua lututnya dan meletakkan dagunya di atas kedua lututnya.


Tatapannya kini Kosong. Pikirannya hanya tertuju pada ujaran Puang Banga saat sore tadi.


"Kau ingin menjadi Parakang bukan?"


"Aku ingin, ta-tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."


"Ini lah mengapa aku datang ke tempat ini dan melanggar janji aku yang telah lama aku simpan. Aku melanggar janji aku untuk tidak menginjakkan kaki aku ke tanah desa ini, tapi karena kau maka aku datang dan melanggar janji itu."


"Aku datang ke desa ini untuk menemui kau."


"Aku yang akan membantu kau menjadi Parakang."


"Sosok mahluk jadi-jadian yang akan membantu kau untuk membalaskan dendam kau yang selama kau simpan."


"Aku yang akan membawa kau di jalan pembalasan dendam. Apa kau ingin menjadi parakang?"


Saoda menghela nafas panjang. Ia memejamkan kedua matanya dan mengusap kepalanya lalu menekannya dengan kuat.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau meragukan hal ini karena suami kau?"


Saoda mendongak menatap Puang Banga yang kini sedang menatapnya.


"Aku takut jika dia marah."

__ADS_1


"Yah." Puang Banga mengangguk.


"Suami kau adalah orang yang baik. Dia yang akan menjadi penghalang dalam pembalasan dendam kau. Kau tidak bisa membalaskan dendam jika suami kau ada di samping kau."


"Lalu apa jalan keluarnya?"


"Tak perlu beri tahu suami kau itu."


"Aku takut suami aku tahu, puang."


"Dia tidak akan tahu jika dia tidak memiliki ilmu sakit dan begitu juga dengan sebaliknya. Kalau suami kau memiliki kesaktian dan pengetahuan tentang orang yang menjadi parakang maka dia akan tahu sosok parakang itu hanya dari mata dan bau tubuh kau."


Saoda menoleh menatap ke arah pintu luar menatap suaminya yang masih asik dengan makan malam yang ia buat.


"Apa aku menjadi Parakang tanpa perlu bertanya kepada Tuo?"


"Tuo mungkin saja akan mendukung aku untuk membalaskan dendam, tapi apa dia mau jika aku menjadi Parakang?"


Saoda kini terdiam. Saoda benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Kau boleh berpikir terlebih dahulu. Jika kau ingin menjadi parakang maka datang lah kau ke rumah aku yang ada di tengah hutan belantara."


"Jika kau telah menemui hutan belantara maka cari lah pohon yang yang paling besar dan sebut nama aku tiga kali maka kau akan mendapat jalan menuju rumahku."


"Aku memberi kau kesempatan untuk berpikir, jika kau sudah mengambil keputusan maka datanglah kepada aku di malam Jum'at depan."


Puang Banga kini melangkah membuat Saoda kini menoleh menatap setiap langkahnya. Tak berselang lama langkah pria itu terhenti.


"Jika kau tidak datang maka kau tidak ingin membalaskan dendam kau kepada mereka dan itu berarti kau telah memutuskan untuk hidup tersiksa melihat kebahagiaan mereka."


"Tapi jika kau datang maka kau siap untuk membalaskan dendam."


"Ingat, Nak! Malam Jumat nanti, aku menunggu kau" ujar puang Banga lalu melangkah pergi.


Saoda membaringkan tubuhnya ke atas kasur diiringi hembusan nafas yang cukup panjang. Hembusan nafas ini seakan menggambarkan bagaimana beratnya beban pikiran yang menjalar di pikirannya.


"Lima hari, itu bukan waktu yang banyak. Aku tidak mungkin mendapatkan keputusan di waktu yang cepat."


"Jika aku menerima maka aku bis membalaskan dendam ini, tapi Tuo mungkin akan sangat marah kepada aku."


"Aku tidak mah jika Tuo marah kepada aku."


"Tapi aku juga tidak bisa membiarkan orang-orang seperti mereka yang memiliki hati seperti iblis hidup dengan santainya di desa ini seakan tak memiliki dosa atau pun kesalahan sedikit pun."


"Saoda!"


Saoda menoleh menatap suaminya yang kini sedang menatapnya.

__ADS_1


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


"Lalu apa yang membuat kau jadi diam seperti ini?"


Saoda menggeleng sambil tersenyum. Ia mengalihkan pertanyaan Tuo dengan cara menarik Tuo agar segera berbaring di sampingnya.


"Aku sangat merindukan kau," bisik Saoda membuat suaminya itu ikut tersenyum.


Tuo mengelus rambut Saoda sambil menatapnya begitu perhatian.


"Aku juga sangat merindukan kau."


Saoda tersenyum. Ia menyandarkan pipinya di dada suaminya itu dan merasakan suara suara detak jantung Tuo serta kehangatan yang ia dapatkan.


Saoda sangat nyaman berada di tempat ini, tak ada lagi tempat seindah ini selain dada dan pelukan suaminya yang begitu sangat ia rindukan.


Buk!!!


Buk!!!


Buk!!!


"Tolong ada Parakang!!!"


"Parakang, tooooong!!!"


Kedua mata Saoda dan Tuo kini saling bertatapan karena terkejut setelah mendengar suara teriakan tersebut yang sepertinya begitu dekat.


Tuo segera bangkit dari ranjang dan melangkah ke arah jendela dan membukanya meninggalkan Saoda yang sekarang telah duduk di pinggir kasur menatap suaminya yang kini telah berdiri menatap kerumunan lara warga yang terlihat sedang melintas di depan rumah sambil membawa obor dan gentongan.


"Ada apa ini Bapak-bapak?!!" teriak Tuo.


Salah satu dari mereka terhenti.


"Ada Parakang."


"Hah! Parakang?" kaget Tuo begitu juga dengan Saoda yang masih berada di pinggir kasurnya.


"Iya. Dia berniat untuk memakan ari-ari anaknya puang Toto, tapi untung kami melihatnya, jadi kami ingin mengejarnya," jelasnya.


"Ayo, Tuo! Kita kejar parakang itu sampai dapat!" ajak salah satu dari mereka yang ikut bicara.


"Baiklah tunggu sebentar!"


Tuo melangkah dan meraih baju dari dinding kamar membuat Saoda ikut bangkit dari kasurnya.

__ADS_1


"Tuo! Kau ingin kemana?"


__ADS_2