Parakang

Parakang
57. Fitnah


__ADS_3

"Sambe?"


"Iya, Daeng. Sa-sambe yang telah menggendong bayi kita tadi dan sekarang lihat bayi kita telah tiada. Bayi kita telah mati."


"Andai saja Sambe tidak mengendong bayi kita mungkin bayi kita masih hidup, daeng."


"Dia! Dia yang telah membuat bayi kita mati. Dia parakang!!!" teriak Ria lalu kembali melepaskan tangisannya yang sudah tak tertahankan lagi.


Di satu sisi kini Sae terlihat diam. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang istrinya itu katakan. Sae sangat kenal dengan Sanbe dan Jambe adalah salah satu teman baiknya. Bagaimana bisa istri sahabatnya itu ada mahluk jadi-jadian yang dinamakan parakang, tapi bagaimana mungkin ini terjadi.


"Daeng!!! Kenapa diam saja?"


Sae melirik menatap istrinya yang sedang menatapnya. Dahi Ria berkerut menatap suaminya yang hanya diam dan membisu.


Ria bangkit dari kasur sambil menggendong bayinya yang telah memucat wajah dan kaku badannya. Ia bangkit meninggalkan Bakri yang sudah menangis sesegukan.


"Kenapa daeng diam saja?"


"Apa daeng tidak percaya? Apa daeng mengira aku berbohong?"


Sae berbalik menatap istrinya.


"Bukan bermaksud tidak percaya hanya saja ini tidak mungkin."


"Tidak mungkin?"


"Ya, aku merasa kalau-"


"Kalau apa daeng? Hah? Kalau apa? Sudah jelas-jelas jika Sambe telah mengendong bayi kita dan sekarang bayi kita telah tiada, daeng!!!"


"Bukan hanya aku yang melihatnya, tapi ada banyak tamu yang melihatnya kalau Sambe telah menggendong bayi kita. Kalau daeng tidak percaya, daeng bisa tanya pada tamu-tamu yang datang. Mereka juga melihatnya tadi, bukan hanya aku," ocehnya.


"Daeng sekarang juga pergi dan berikan dia pelajaran. Dia itu parakang!!!"


"Hari ini bayi kita yang akan dijadikan korban dan mungkin besok bayi-bayi satu desa ini yang bisa dijadikan mangsa berikutnya."


"Dia itu parakang dan mahluk jahanam itu harus kita musnahkan."


Rahang Sae mengeras serta tubuhnya yang kini menjadi gemetar karena amarah. Kedua sorot matanya menjadi tajam. Dengan langkah cepat ia pergi meninggalkan Ria yang kini menoleh menatap kepergian suaminya.


Langkah Sae begitu cepat menuruni anakan tangga dan ia segera berlari ke bawah rumahnya. Ia membuka pintu bawah rumahnya dimana ruangan itu merupakan tempat dimana ia menyimpan peralatan bekerja.


Sae menyalakan obor membuat suasana ruangan itu menjadi terang. Dengan cepat ia meraih jeriken minyak tanah dan sebuah tali yang tak pernah ia pakai lalu dengan langkah cepat ia melangkah keluar rumah dan kembali berlari menembus kegelapan.


"Puang!!!" teriak Sae ketika ia masih jauh dari pos ronda membuat beberapa pria yang tengah bersantai itu langsung menoleh.

__ADS_1


"Mengapa puang Sae berteriak seperti itu?" tanya salah satu pria yang kini sedang menatap Sae.


"Puang, bantu aku!!!" teriak Sae setibanya ia di pos ronda itu.


"Ada apa puang?"


"Iya, kenapa kau lari-lari seperti itu? Apa kau dikejar anjing?"


"Puang, Bayi aku mati!!!" jawab Sae yang masih ngos-ngosan itu.


"Hah? Mati?"


"Mati?"


Sae mengangguk menyahuti pertanyaan dari para warga desa yang kini saling bertatapan dengan wajah kagetnya.


"Kenapa bisa bayi kau mati? Bukankah tadi bayi kau baik-baik saja dan bukanya tadi acara syukuran atas kelahiran bayi kau baru saja selesai?"


"Iya bayi aku mati dan ini karena ulah parakang dan parakang itu adalah Sambe, istri dari Jambe."


"Hah? Parakang?"


"Parakang?"


"Iya, mana mungkin. Bukannya istri Jambe itu adalah wanita yang baik."


"Bagaimana mungkin ada parakang?"


Sae mendengus kesal. Para warga desa bahkan tidak percaya kepadanya.


"Bapak-bapak semuanya tolong percaya dengan aku! Sambe itu Parakang. Dia yang telah memakan roh halus bayi aku dan sekarang bayi aku sudah tiada."


Ujaran Sae itu terdengar membuat Lao, pria yang merupakan Bapak dari Bapak Erni kini terdiam dengan wajah yang bimbang.


"Maaf, puang Sae bukannya aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, tapi Sambe itu adalah wanita yang baik. Bukan begitu bapak-bapak?"


"Iya betul."


"Betul," jawab para warga desa bergantian.


"Bagaimana pun baiknya seseorang, parakang, yah tetap saja parakang. Mau dia baik seperti apa pun kalau dia sudah terkena ilmu sihir maka dia akan tetap menjadi Parakang."


"Mana mungkin ada parakang yang mau menunjukkan sisi buruknya pada orang lain. Sudah jelas jika dia akan bersikap sok baik agar tidak ada orang yang curiga kepadanya," jelas Sae.


"Maaf, Puang. Tapi kita tidak boleh menuduh seseorang kalau kita tidak punya bukti. Kalau kita tidak punya bukti maka itu adalah fitnah."

__ADS_1


"Tapi ini bukan fitnah, puang. Ini adalah kenyataan dan kebenarannya adalah istri dari Jambe itu adalah Parakang."


"Aku juga tidak asal menuduh. Buktinya sebelum bayi aku mati Sambe lah yang telah menggendongnya tak berselang lama bayi aku langsung mati. Apa itu bukanlah bukti yang kuat yang bisa membuktikan jika Sambe adalah Parakang?"


"Sekarang begini saja. Mari kita sama-sama menemui Sambe dan memberinya pelajaran. Ini tidak boleh kita biarkan."


Di satu sisi kini Lao menoleh menatap jeriken dan tali yang Sae pegang.


"Apa yang puang Sae ingin lakukan?"


"Aku ingin menghabiskannya."


"Maksud kau, kau ingin membakarnya?"


"Iya."


Kedua mata Sae membulat dengan tatapannya yang tak menyangka. Bagaimana bisa ada orang yang tidak punya hati seperti ini.


"Maaf, puang. Bukan aku ingin menghalangi, tapi bukanya ini adalah sebuah dosa besar jika membunuh seseorang dengan cara membakarnya. Tuhan akan membencinya."


"Tidak ada bosar jika membunuh Parakang. Bapak-bapak semuanya dengar, kan aku!!!" teriak Sae sambil menatap ke segala arah dimana para warga yang kini saling menatapnya.


"Mari kita sama-sama bunuh Parakang itu. Coba kalian semua pikir! Mungkin hari ini bayi aku yang telah menjadi korban, tapi nanti kita tidak akan tahu bisa saja parakang itu akan menjadikan ansk-anak kita sasarannya dan bahkan juga kita."


"Apakah bapak-bapak semua rela jika ada Parakang di desa ini. Desa kita tidak akan menjadi tentram dan damai jika seperti ini."


Mendengar hal itu membuat para warga desa kini saling mengangguk seakan sudah termakan dan setuju dengan apa yang Sae katakan.


"Sekarang apalagi yang bapak-bapak tunggu, Ayo kita ke rumah Sambe dan bakar dia!!!" teriaknya sambil mengangkat obornya ke atas.


"Ya, bakar dia!!!"


"Bakar!!!"


"Kita tidak boleh membiarkan Parakang itu hidup bebas di desa ini!!!"


"Hancurkan dia!!!"


"Bakar!!!"


Suara teriakan para warga desa terdengar begitu keras sambil melangkah pergi meninggalkan puang Lao yang kini terdiam dengan wajah cemasnya.


"Astagfirullah, mereka sudah salah mengambil keputusan."


Puang Lao menghela nafas panjang. Ia kini teringat dengan satu hal yakni puang Ambo yang merupakan Bapak kepala desa, ya mungkin saja ia bisa membantu mengatasi masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2