Parakang

Parakang
93. Menenangkan Diri


__ADS_3

"Tidaaaak!!!" teriak Saoda.


Saoda bangkit dari tempat tidurnya dengan kedua mata yang terlihat telah membengkak karena tangisan.


Saoda menoleh ke segala arah menatap ke area kamar yang begitu sangat sunyi. Saoda menghela nafas panjang. Ia merasa bersyukur karena tak ada orang yang mendengar suara teriakannya.


Saoda mengusap kepalanya yang berkeringat itu. Detak jantungnya juga jadi meningkat setelah melewati mimpi itu.


Saoda bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah keluar dari kamar mendapati Tuo yang kini sedang duduk di kursi dapur.


Saoda tersenyum tipis membalas senyum Tuo yang begitu tulus.


"Kau sudah bangun?" tanya Tuo.


Saoda menarik nafas dan mengangguk pelan.


"Em, kau mau minum?"


Saoda kembali menggeleng tanpa menghilangkan senyumnya.


"Aku ingin keluar sebentar."


Mendengar hal itu membuat Tuo sedikit terkejut. Bibirnya terbuka hendak bicara namun, terhenti saat Saoda memotongnya.


"Aku hanya ingin ke rumah dan ke makam Indo dan Bapakku," potongnya.


Tuo kini terdiam. Ia masih ragu dan takut untuk membiarkan Saoda pergi.


"Hanya sebentar saja. Aku sangat rindu dengan mereka."


"Mau aku temani?"


"Tidak perlu."


Tuo menghela nafas panjang dan mengangguk membuat Saoda kini melangkah pergi.


"Hati-hati!" ujar Tuo yang kini berdiri di pintu membuat Saoda yang melangkah menuruni anakan tangga itu mendongak.


"Aku menunggu kau di rumah."


Saoda tersenyum lalu mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.


...****************...


Rambut Saoda bergerak saat ditiup oleh hembusan angin saat ia tengah duduk di pinggiran sungai.


Suara aliran sungai terdengar begitu merdu dan terasa menangkan jiwa setelah mendengarnya. Aliran sungai yang jernih seakan membawa dengan pelan beberapa helai daun kering berwarna kecoklatan yang mengapung di atas air mirip seperti sebuah perahu yang sedang dibawa arus.


Kedua mata Saoda kini menoleh ke arah bebatuan dimana ia sering bermain air di sana dan kenangan masa kecilnya itu membuatnya tersenyum.


Saoda kecil itu terlihat berlutut dan memunguti satu persatu daun kering itu dan kembali meletakkannya di atas air yang tak terhalang oleh berbuat sehingga daun kering itu bisa berlayar tanpa ada hambatan dari apa pun itu.


Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia.


"Dadah, daun!!! Hati-hati, ya!!!" teriaknya seakan ia tak akan pernah bertemu lagi dengan daun itu.


"Saoda!!!"


Suara teriakan itu terdengar membuat Saoda dewasa itu menoleh. Suara wanita yang sangat Saoda kecil itu kenal dan sangat berarti di kehidupannya. Gadis yang sangat ia sayangi dan cintai. Siapa lagi jika bukan Ibunya, Indo Sunge.


"Iya, Indo," sahutnya. Menyapa dengan senyum wanita itu lalu melangkah pelan mendekatinya.


"Dimana Bapak?" tanya Saoda.


"Bapak kau pergi mencari ikan," jawabnya.


"Kapan dia akan kembali, Indo?"


"Tidak lama lagi. Dia sudah pergi dari tadi."


"Saoda!"


Suara teriakan itu terdengar kembali memanggil namanya membuat Saoda menoleh menatap Jambe.


Saoda tersenyum. Dari sini ia bisa melihat bayangan kedua orang tuanya dan juga dirinya.


"Bapak!!!" teriak Saoda.


Saoda kecil itu terlihat berlari dan memeluk tubuh Bapaknya itu yang disambut oleh punggung Bapaknya yang berakhir duduk di atasnya. Ia tertawa disaat sosok anak kecil itu seakan telah tumbuh dewasa. Melihat permukaan sungai dengan luas serta melihat sosok Indonya yang terlihat kecil.


Saoda meraih akar kecil pohon yang digunakan untuk mengangkat ikan-ikan yang sebesar telapak tangan orang dewasa. Ia mengankatnya tinggi ke udara seakan ini adalah hasil tangkapannya.


"Indo, lihat!"


Sambe menoleh, ia mendongak menatap anak satu-satunya yang kini sedang tersenyum dengan gigi yang sudah tanggal di depan hingga memberi kesan jendela di barisan gigi yang rapi itu.


"Jangan seperti itu, nanti kau jatuh, Nak!" tegurnya.


Ia terlihat tersenyum sejenak lalu kembali fokus pada pakaian yang sudah tidak terlalu banyak. Beberapa kain sudah masuk ke dalam keranjang yang terbuat oleh rajutan daun kelapa. Ini adalah salah satu rajutan dari tangan suaminya, Jambe.


"Bapak, ayo lari!!!" rengek Saoda yang tak sabar.


"Lari?"


"Iya, Lari yang sekencang-kencangnya!"


Sambe tersenyum. Ia menggeleng melihat dan mendengar kemuan Saoda.


"Nanti kau jatuh, Nak!" tegurnya.

__ADS_1


Suaranya indah seperti sebuah seruling yang bernada merdu, ini sebuah teguran manis dari seorang Ibu yang tak ingin anaknya terluka.


"Baiklah, apa kau siap terbang?" tanya Jambe."


"Siap!!!" teriaknya.


"Kalau begitu pegangan dengan erat!"


"Iya!!!" soraknya lalu ia segera memeluk dahi Bapaknya dengan erat.


Ia tertawa, belum apa-aa ia sudah tertawa. Sensasi berada di atas ketinggian atau di bahu Bapaknya sudah menyerupai wahana baginya. Tak perlu lelah mengeluarkan uang untuk merasakan kebahagian. Bermodalkan punggung Bapak, ia sudah bisa tertawa.


"Sudah?"


"Sudah!!!" teriaknya yang semakin mempererat pegangannya.


"Satu."


"Dua."


"Tiga," hitungan terakhir yang terdengar disusul langkah setengah berlari membuat Saoda menjambak pelan rambut Jambe diiringi suara tawa yang berhasil lolos dari bibir gadis kecil itu.


"Hati-hati!" tegur Sambe yang kini sedang memeras kain hasil cuciannya sambil sesekali ia menoleh ke arah Saoda dan juga suaminya.


Ia tersenyum penuh kebahagiaan menatap pemandangan indah. Sebuah keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan walaupun tak berlinang harta. Tak ada tahta yang bisa mereka banggakan, tapi mereka punya keluarga yang penuh kebahagiaan.


Saoda yang kini berada di pinggir sungai juga ikut tertawa membayangkan hal indah itu. Hingga tangisannya itu pecah. Saoda sadar jika hal itu hanyalah sebuah kenangan yang tak akan pernah ia dapatkan lagi.


Saoda kini sadar dan percaya jika hal yang orang katakan bahwa harta adalah segalanya bagi sebuah kebahagian maka itu adalah salah karena Saoda telah membuktikan jika harta tidak selamanya menjadi janji kebahagiaan.


Saoda kembali tertawa disaat Jambe memegang kedua tangan Saoda dan merentangkan kedua tangannya di kedua sisi lalu ia kembali berlari.


Saoda bisa merasakan udara segar tanpa polusi udara itu seakan masuk ke paru-parunya.


"Ayo pulang!"


Saoda berlari setelah diturunkan oleh Bapaknya. Meraih dan megengan erat jari tangan Indonya sedangkan tangan kanannya memegang erat jari tangan Bapaknya.


"Kita mau pulang sekarang?"


"Iya, Nak. Apa kau masih ingin bermain air?" tanya Sambe membuat Saoda kini mengangguk.


"Hari sudah ingin gelap dan sebaiknya kita pulang."


Satu elusan dari tangan lembut itu berhasil mendarat di rambut sebahu Saoda membuat gadis kecil itu tersenyum.


"Bocah keras kepala," ujar Saoda yang mengomentari dirinya sendiri.


...****************...


Saoda kini melangkah melintasi sungai kecil yang tidak dalam. Ada beberapa batu lapang yang menjadi jembatan untuk bisa sampai ke seberang.


"Banyak ikan hari ini, puang Jambe?"


Saoda menoleh menatap ke arah sawah dimana dulu pertama kalinya Saoda melihat sosok puang Dodi.


"Iya, puang," ujar Jambe.


Pria itu mengangguk, menatap Saoda sejenak.


"Sudah besar anak kau, puang."


Jambe menunduk menatap Saoda yang mendongak menatapnya.


"Iya, Alhamdulillah."


"Baru satu, puang anak kau?"


"Iya, baru satu mungkin Tuhan hanya memberi satu saja. Ini pun sudah cukup yang penting bahagia," jelasnya.


Pria itu mengangguk.


"Bapak!!!"


Suara teriakan bocah laki-laki terdengar membuat mereka yang sedang asik berbincang itu menoleh menatap bocah yang hanya memakai celana coklat berlumpur itu sedang berlari melewati tanah berlumpur.


"Anak kau itu, puang Dodi?"


Puang Dodi tersenyum sejenak. Ia yang tengah duduk di pinggir sawah itu kini mendongak menatap puang Jambe.


"Iya dia anakku," jawabnya.


"Lalu mengapa dia berlari?"


Puang Dodi bangkit dari pinggiran sawah, menopang pinggang sambil menatap anaknya yang kini berlarian dengan wajah setengah menangis.


Saoda mengernyitkan dahinya. Aneh sekali pria itu. Bagaimana bisa ada anak laki-laki yang menangis, seperti anak perempuan saja.


Saoda kini menggeleng setelah mengingat kejadian itu. Ia duduk di pinggiran sawah dan kembali mengingat kisah dulu itu.


Anak laki-laki itu menangis menghampiri puang Dodi sambil melompat-lompat.


"Kau kenapa?"


"Ada linta, Pak," adunya sambil menunjukkan kaki kananya dengan kedua mata yang ia tutup.


Pria itu menghela nafas.


"Kau ini mencari belut atau mencari linta."

__ADS_1


"Aku mencari belut, tapi lintanya juga ikut, Bapak," jawabnya sambil menangis sesenggukan.


Jambe dan Sambe tertawa. Lucu sekali jawaban anak laki-laki ini ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang begitu sangat lucu.


"Hanya dia gigit linta kau menangis? Kenapa kau cengeng sekali?" tanya Saoda yang membuat kedua orang tuanya ikut terkejut.


"Saoda, tidak boleh bicara seperti itu!" tegur Sambe sambil mengelus bahu Saoda dengan lembut.


Saoda kini menopang dagunya sambil tersenyum Saoda sadar jika dulu dia adalah gadis yang periang dan banyak bicara.


Puang Dodi yang mendengar hal itu langsung ikut tertawa sementara anak laki-laki itu langsung membuka kedua matanya. Tangisannya terhenti. Ia menatap gadis dengan rambut sebahu itu sedang menatapnya.


"Kau benar, Nak. Anak puang ini memang sangat cengeng dan suka menangis, iya, kan, Nak?" tanya Puang Dodi sambil menepuk bahu anaknya itu.


"Tidak, aku tidak cengeng."


"Tapi kau menangis," sahut Saoda.


"Aku anak laki-laki jadi anak laki-laki tidak akan menangis dan kau anak perempuan. Anak perempuan lah yang suka menangis."


"Lalu mengapa kau menangis?" Tunjuk Saoda.


"Aku tidak menangis."


"Tapi pipi kau basah."


Mendengar hal itu membuat anak laki-lki itu langsung meraba pipinya.


"Ini air lumpur."


"Oh, aku baru tahu kalau mata bisa mengeluarkan air lumpur. Mengaku saja kalau kau itu memang telah menangis."


Anak laki-laki itu mendengus kesal. Gadis kecil itu terlalu banyak bicara.


"Memangnya kenapa kalau aku menangis? Kau juga akan menangis sepeti aku jika kau yang digigit oleh linta dan mungkin saja kau akan menangis dengan suara yang paling kencang."


Anak laki-laki itu tertawa membuat Saoda cemberut dengan wajah yang nampak ditekuk.


"Aku tidak takut," jawab Saoda lalu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan anak laki-laki yang telah meremehkannya.


Ia menarik sangat keras linta yang menempel di permukaan kulit membuat anak laki-laki itu berteriak.


Saoda bangkit lalu melangkah mundur.


"Lihat kau menangis lagi!"


Anak laki-laki itu menghentikan tangisannya. Ia terkejut menatap linta hitam yang menggeliat geli di jari tangan Saoda.


"Lihat kaki kau!"


Tunjuk Saoda membuat pria itu segera menunduk dan menatap terkuat pada darah yang mengalir dari betisnya. Lihatlah sekarang betisnya telah berdarah.


"Kau membuat kaki aku berdarah."


"Aku hanya membantu kau, dasar cengeng."


"Aku tidak cengeng," belanya.


Sambe, Jambe dan Dodi kini tertawa setelah melihat dan mendengar perdebatan anak mereka.


Saoda mengeleng pelan. Seakan tak menyangka jika awal pertemuannya seperti itu.


Saoda bangkit dari pinggiran sawah dan melangkah pergi menuju rumahnya. Tak jauh dari sawah ini namun, Saoda berusaha untuk memelankan langkahnya.


Saoda ingin menikmati udara sejuk untuk menangkan pikirannya.


Saoda menghentikan langkahnya ketika ia telah berada di halaman rumah. Di halaman rumah itu masih terdapat batu-batu bekas lemparan warga desa.


Halaman rumah yang dulunya selalu bersih itu kini telah kotor dan ditumbuhi rerumputan hijau. Saoda berlutut dan menyentuh permukaan rumput. Di tempat ini kedua orang tuanya dibakar hidup-hidup.


Saoda terdiam sejenak lalu ia bangkit dari rerumputan itu dan mendongak menatap ke arah rumah yang sudah semakin tak terurus.


Saoda melangkahkan kakinya menaiki rumah yang tangganya yang telah dikelilingi oleh tanaman rambat.


Saoda mendorong permukaan pintu lalu kedua matanya kini menoleh ke segala arah menatap seisi rumahnya yang kini kotor dan berdebu bahkan ada banyak kotoran hewan.


Sepertinya rumah ini telah menjadi sarang untuk para burung-burung.


Saoda menoleh menatap ruang tamu. Saoda masih ingat jika mereka dulu pernah makan bersama dan makan bersama itu adalah makan malam terakhirnya bersama dengan kedua orang tuanya.


Suara dentingan sendok yang bergesekan terdengar ketika acara makan malam sedang berlangsung. Sepiring keong tumis, belut goreng menjadi lauk di malam ini.


"Makan yang banyak, Nak!" ujar Sambe yang kini meletakan sesendok keong tumis ke atas piring milik Tuo yang kini terlihat tersenyum.


"Terima kasih."


Sambe mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Saoda yang sejak tadi mengunyah nasi yang ada di dalam rongga mulutnya kini dengan perlahan ikut mengembangkan senyum di bibirnya.


Ternyata Saoda baru sadar jika makan bersama-sama seperti ini begitu sangat menyenangkan dan membuat suasana menjadi lebih indah. Rasanya ada yang berbeda.


Suara tawa terdengar membuat suasana kini menjadi sangat terasa hangat sambil sesekali Jambe melemparkan sebuah candaan kepada puang Dodi yang kini ikut tertawa.


Saoda ikut tersenyum hingga tatapannya berpusat menatap Tuo yang kini terlihat ikut tersenyum sambil sesekali menatap ke arah puang Dodi.


Dari sini Saoda bisa melihat jika anak kecil laki-laki bernama Tuo itu tidak terlalu buruk dan ia juga terlihat bahagia.


Terkadang menilai seseorang tidak bisa dilihat dari bentuk fisiknya saja, tapi dari bagaimana ia berprilaku. Karena perilaku seseorang dipegaruhi oleh hati orang itu sendiri.


Bahagia, ya itu yang Saoda rasakan hari ini dan benar yang dikatakan oleh Indonya jika kebahagiaan itu tidaklah mahal hanya saja orang yang mempersulit untuk mendapatkannya

__ADS_1


Saoda kini beranjak menuju dapur tempat dimana ia selalu melihat Indonya memasak.


__ADS_2