Parakang

Parakang
87. Kotor


__ADS_3

"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Bahri menghela nafas panjang. Ia menoleh menatap tiga temannya yang juga ikut tersenyum. Yah, senyum mereka terlihat agak aneh.


"Aku masih mencintai kau, yah walaupun kau dan Tuo telah menikah. Aku menawarkan diri untuk melamar kau dan jika kau menolak maka kau akan menerima akibatnya."


"Akibatnya?" tanya Saoda yang begitu tidak mengerti.


Saoda meraih keranjang belanjaannya dan memeluknya untuk menutupi dadanya. Bukan hanya melihat betisnya, tapi mereka juga melihat ke area dada Saoda dan Saoda tak merasa tak nyaman dengan tatapan itu.


"Yah, aku tidak segan-segan melakukan sesuatu hal kepada kau jika kau menolak."


Seketika jantung Saoda berdetak sangat cepat. Apa yang Bahri katakan benar-benar membuatnya merasa takut.


Saoda meneguk salivanya. Harus jawab apa ia sekarang. Saoda juga tidak mungkin lewat jalan lain. Hanya ini jalan satu-satunya yang menjadi jalan menuju rumah.


Jika harus lewat jalan lain maka ia harus berputar dan lewat di pinggiran hutan belantara. Saoda takut Untu lewat di sana. Saoda takut jika ada anjing liar yang akan mengejarnya.


"Ayo jawab!"


Saoda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Ia juga tidak mungkin menerima lamaran Bahri. Pria itu sama sekali tak menarik baginya.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa menerima lamaran kau. Aku tidak bisa meninggalkan suami aku."


Kedua mata Bahri membulat. Ia begitu tak menyangka jika lagi dan lagi Saoda kembali menolaknya.


"Apa kau bilang? Kau menolak aku?"


"Aku minta maaf. Kau bisa mencari gadis desa yang lain yang sudah pasti lebih cantik dan jauh lebih baik dari aku."


"Kau lupakan saja aku dan pinanglah gadis lain."


"Aku tidak mungkin menerima lamaran kau karena aku telah menjadi milik Tuo. Sekali lagi aku minta maaf. Maafkan aku!" ujar Saoda lalu melangkah melintasi Bahri yang kini terlihat mematung dengan tubuh yang gemetar karena marah.


Langkah Saoda terhenti. Kedua matanya terbelalak setelah ia bisa merasakan seseorang yang memegang tangannya.


Saoda menoleh menatap Bahri yang kini sedang menatapnya dengan jari tangannya yang masih memegang erat pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"

__ADS_1


Bahri tak menjawab apa-apa. Ia menoleh menatap Saoda yang masih ia pegang dengan erat pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" pinta Saoda yang kini menggerakkan tangannya berusaha untuk segera lepas dari genggaman Bahri yang seakan mencekik pergelangan tangannya hingga aliran darah itu terasa terhambat.


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan!"


Tak berselang lama suara tawa terdengar membuat Saoda menoleh. Ia merasa ketakutan setelah melihat tiga teman Bahri sekaligus Bahri yang kini tertawa jahat.


"Aku sudah bilang kan kalau kau akan mendapatkan akibat jika kau berani menolak aku."


Seketika nafas Saoda kini menjadi sesak. Entah niat jahat apa yang Bahri dan tiga sahabatnya rencanakan. Saoda bisa melihat niat jahat itu dari sorot mata Bahri yang sejak tadi membuat Saoda merasa takut.


"Tarik dia masuk ke dalam hutan!" pinta Bahri membuat kedua mata Saoda membulat.


Apa yang mereka katakan?


Belum lama Saoda menebak tiba-tiba saja dua teman Bahri memegabg kedua tangan Saoda dan menariknya masuk ke dalam hutan.


"Jangan!!! Jangan sakiti aku!!!" teriak Saoda yang berusaha lepas dari pegangan pria-pria itu.


"Tolooooong!!!" teriak Saoda.


Saoda di tarik masuk ke dalam hutan membuat keranjang belanjaannya jatuh ke tanah dan berhamburan isinya. Kaki Saoda terlihat terseret di atas tanah. Ia berusaha untuk menahan langkahnya, tapi tak semudah yang Saoda pikirkan.


Bruk!!!


Tubuh Saoda terhempas ke atas tanah membuat pria-pria itu tertawa.


"Mau apa kalian? Tolong lepaskan aku!!!"


"Tolonooong!!!" teriak Saoda.


Tak menyangka Saoda. Salah satu teman Bahri malah mengikat mulut Saoda dan menyumbatnya agar Saoda tak bisa berteriak.


Mereka semua tidak mau jika sampai ada yang melihat mereka melakukan hal ini kepada Saoda.


Saoda berusaha untuk melepas penyumbat mulut itu, tapi kedua tangannya dengan cepat ditarik. Mereka menyatukan kedua tangan Saoda dan mengikatnya dengan kuat hingga Saoda tak mampu untuk bergerak.

__ADS_1


Saoda benar-benar takut sekarang. Ia tak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadanya. Saoda ingin berteriak namun, tak bisa. Suaranya tersumbat karena kain yang menyumbat mulutnya.


Suara tawa terdengar begitu jelas. Saoda membuka kedua matanya. Ia bisa melihat Bahri yang kini melepas celananya membuat Saoda merasa takut. Apa yang akan dilakukan Bahri kepadanya?


"Buka kakinya!" pinta Bahri membuat teman-temannya itu menurut dan menarik kedua kaki yang berusaha untuk ditahan oleh Saoda.


Tenaga Saoda yang lemah itu membuat kedua kakinya kini melebar membuat Bahri tersenyum. Ia menatap haus pada area milik Saoda yang kini telah terbuka seakan siap untuk dimasuki.


Bahri merangkak. Ia mendekatkan miliknya itu dan memasukannya dengan sekali hentakan membuat kedua mata Saoda meneteskan air mata.


Rasanya begitu sakit. Bukan hanya di area bagian bawahnya, tapi juga pada hatinya. Bayangan wajah Tuo kini telah memenuhi pikirannya. Entah apa yang akan Tuo katakan jika ia tahu kalau istrinya ini kini telah di nodai oleh pria-pria yang tak bertanggung jawab.


Saoda berusaha untuk berteriak, tapi tak bisa. Tubuh Saoda tersentak-sentak saat Bahri menggerakkan pinggulnya dengan sangat kasar. Tak ada sedikit pun kelembutan yang ia dapatkan.


Rasa sakit dan rasa bersalah kini terasa sedang menghantuinya. Saoda hanya bisa menangis sesegukan di bawah pria yang kini telah mengotori tubuhnya.


"Tuo, maafkan aku! Aku minta maaf karena gagal untuk lari dari masalah ini."


"Andai saja aku mendengar dan menuruti apa yang kau katakan dan membiarkan kau ikut Mungkin kau akan menolong aku dari orang-orang jahat ini. Sekali lagi aku minta maaf."


Air mata Saoda kini kembali menetes mereka. Bukan hanya Bahri yang mengotorinya, tapi ia digilir dan menjadi pemuas nafsu teman-temannya.


Saoda hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasa sangat jijik melihat orang-orang jahat seperti mereka.


Saoda hanya bisa mendengar suara tawa yang begitu bahagia setelah melakukannya. Saoda tak tahu lagi apa yang ada di pikiran mereka semua. Mereka semua bahkan tak punya hati.


Apakah mereka tidak merasa kasihan kepadanya setelah melakukan hal ini. Tak berselang lama mereka kembali merapikan pakaian Saoda.


"Buka talinya!" ujar Bahri membuat teman-temannya itu segera melepas pengikat dari kedua tangan Saoda yang terkulai lemas.


"Aku sudah bilang kan untuk menerima lamaran aku, tapi kau tidak mau."


"Ini akibatnya jika kau menolak aku, cuih."


"Ayo kita pergi sebelum ada yang melihat kita di sini!"


Itu adalah kalimat yang Saoda dengar hingga tak berselang lama suara langkah


terdengar menjauh darinya disusul suara mesin motor yang melaju pergi meninggalkan Saoda yang masih terbaring.

__ADS_1


__ADS_2