Parakang

Parakang
102. Malam Jumat


__ADS_3

Saoda menutup pintu jendela rapat-rapat setelah waktu telah menggelap di langit yang luas. Ia menggerakkan kain jendela kamar dan menutup permukaan jendela.


Saoda menoleh menatap Tuo yang melangkah masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah dupa yang menyala bara apinya hingga menghasilkan asap kecil.


Saoda duduk di pinggir kasur menatap perilaku suaminya yang aneh.


"Untuk apa dupa itu?" tanya Saoda membuat Tuo yang sedang duduk di atas papan tepat di hadapan dupa sambil menaburkan bubuk kemenyan ke atas bara api itu.


"Ini untuk penangkal Parakang. Takut ada Parakang yang dekat di rumah ini."


"Parakang?"


"Iya. Kata Bapak kalau malam jumat kadang Parakang akan keluar dan berkeliaran di desa dan mencium bau-bau yang mungkin saja bisa menarik perhatiannya."


"Aku tidak mau kalau ada Parakang yang datang ke rumah ini."


Saoda hanya bisa mengangguk sambil tertunduk hingga tak berselang lama ia berpikir ia dibuat terkejut setelah mengingat sesuatu. Jika malam ini malam jumat maka itu berarti ia sudah harus memberikan sebuah keputusan kepada Puang Banga.


Tapi sejujurnya Saoda belum memiliki sebuah keputusan apa pun.


Tuo meletakan dupa itu di pintu masuk kamar sambil tersenyum. Sebenarnya dupa ini untuk keselamatan dan keamanan janin yang dikandung oleh istrinya.


Tuo ingin jika janin yang di kandung Saoda bisa lahir dengan selamat nantinya.


Tuo berpaling mendapati istrinya yang terlihat diam seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?" tanya Tuo yang melangkah mendekati Saoda dan berlutut di depannya.


Saoda hanya bisa tersenyum. Ia menggeleng pelan dan menyentuh lembut kepala suaminya seakan ia berusaha untuk menunjukkan jika ia sedang tidak apa-apa.


"Lalu?"


"Tidak. Sepertinya aku akan tidur lebih awal malam ini. Kau tahu tubuhku rasanya sangat lelah walau pun sepanjang hari aku tidak melakukan apa-apa."


"Yah, tidurlah! Biar aku bantu."

__ADS_1


Saoda membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dibantu oleh sang suami yang sepertinya jauh lebih perhatian dari hari-hari kemarin.


"Apa kau ingin makan sesuatu?"


"Tidak, aku hanya ingin tidur."


Saoda berpaling membelakangi suaminya setelah Tuo mengangguk. Kedua mata Saoda kini dipaksa untuk terpejam. Ia ingin jika Tuo mengira jika ia sedang tidur.


Kedua mata Saoda memang terpejam, tapi pikirannya kini terus berpikir tentang keputusannya. Apa yang harus ia pilih?


Jika ia memutuskan untuk menjadi Parakang maka ia akan kehilangan cinta dari Tuo, sang suami yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya, tapi ia tak bisa jika harus melihat para orang-orang jahat yang telah menghancurkan kehidupannya itu hidup bahagia, baik orang yang telah membakar Indo dan Bapaknya mau pun kepada orang-orang yang telah memperkos*nya di hari itu.


Saoda tahu semua keputusan pasti memiliki sebuah dampak dan resiko yang dihasilkan yang akan menpegaruhi masa depannya.


Harus apa Saoda sekarang? Mungkin saat ini puang Banga sedang menantinya.


Sudah cukup! Saoda tak sanggup berpikir lagi. Sejak tadi ia mencoba untuk mencari keputusan tapi hal itu hanya membuat bayangan dan wajah-wajah mereka bermunculan membuat tubuh Saoda terasa memanas dan rasanya tubuh ini seakan ingin terbakar.


Suhu tubuh yang meningkat membuat keringat bercucuran membasahi tubuhnya di malam yang bisa dikatakan tidak panas ini.


Saoda membalikkan badannya mendapati sosok suaminya yang kini sedang terlihat tertidur lelap dengan punggung tangannya yang berada di bawah pipi.


Saoda beralih menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Mungkin ini saatnya.


Saoda bangkit dari tempat tidurnya dengan pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia harus berhati-hati agar Tuo tidak bangun dari tidurnya karena hanya sebuah kesalahan yang telah ia perbuat.


Saoda melangkah turun dari tempat tidurnya sambil melipat bibirnya ke dalam. Ia turun dengan pelan dan nyaris tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Saoda menghela nafasnya yang sesak itu sambil terus melangkah mendekati pintu kamar. Ia menoleh menatap Tuo sejenak yang terlihat masih tertidur pulas.


"Aku minta maaf, Tuo. Aku minta maaf karena telah mengambil keputusan seperti ini."


"Jujur aku tidak ingin jika kau membenci aku, tapi aku juga tidak mau jika mereka semua orang yang aku benci hidup bahagia."


"Aku terima semua hal yang akan terjadi setelah aku mengambil keputusan untuk menjadi Parakang."

__ADS_1


"Aku sangat mencintai kau, tapi aku tidak bisa melupakan janjiku kepada kedua orang tuaku."


"Aku telah berjanji untuk menghancurkan mereka semua dan aku tidak bisa mengabaikan janji aku itu."


"Sekali lagi aku minta maaf."


Saoda berpaling dan melangkah pergi meninggalkan area kamar. Saoda melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Ini belum aman untuknya. Detak jantung Saoda kini meningkat seiring suara papan yang berbunyi kecil disetiap kaki Saoda melangkah.


Sesekali Saoda menoleh berusaha untuk memastikan jika Tuo dan Puang Dodi tidak terbangun dan melihatnya seperti ini.


Ia meneguk salivanya yang terasa tertahan pada tenggorokannya yang terasa telah mengering.


Saoda menggerakkan paku yang telah menjadi penahan agar pintu tidak terbuka. Saoda memutarnya dengan tangan yang gemetar. Saoda mengigit bibirnya dengan kuat berusaha untuk mengumpulkan semua kekuatannya. Sesekali ia mengusap tangannya yang terasa basah dan tak mampu untuk membuka pintu.


Saoda meneguk sekali lagi salivanya dan menoleh menatap ke segala arah berusaha untuk membuka pintu.


Gluak!!


Pintu terbuka diiringi suara yang tidak terlalu keras itu tercipta membuat kedua mata Saoda terpejam dengan erat.


Saoda menoleh berusaha untuk memastikan jika mereka belum bangun.


Saoda membuka pintu rumah dengan pelan dan melangkah keluar dari rumah dan kembali menutupnya dengan rapat.


Saoda dibuat diam setelah melihat pemandangan depan rumah yang terlihat begitu gelap dan menyeramkan. Ada banyak burung hantu dan kalelawar yang bertentangan di langit.


Saoda tak pernah menyangka jika pemandangan rumahnya yang selalu terlihat indah itu bisa berpenampakan semenakutkan ini.


Saoda menarik nafas panjang dan menahannya disaat ia berusaha untuk melangkah turun menuruni anakan tangga yang berdecit setiap kali diinjak olehnya.


Setelah ia tiba di atas permukaan tanah Saoda kembali menoleh menatap ke arah pintu rumah dan menoleh ke arah halaman rumah yang terlihat begitu gelap.


Saoda mengusap kedua lengan tangannya yang terasa mendingin ditambah lagi ia terasa merinding seiring kesejukan angin malam datang membelai tubuhnya.


Saoda berlari dengan langkah yang cepat melewati kegelapan malam yang ia pun tak peduli apakah ada tanaman berdiri yang mungkin saja akan melukainya.

__ADS_1


Yang Saoda pikirkan adalah ia harus cepat menjauh dari rumah dan semoga saja tidak ada orang yang melihatnya di sini.


__ADS_2