
"Lihat juga pak Karim!!!"
Tunjuk puang Tuo ke arah pria yang berdiri paling ujung.
"Apakah anaknya seorang petani?!!"
"Tidak, kan? Bahkan anaknya seorang guru di kota. Dia tidak menjadi petani seperti Bapaknya."
"Anda tahu apa maksud dari semua contoh ini?"
"Apa anda semua tahu?" tanya puang Tuo sekali lagi membuat semua warga kini saling berbisik.
"Itu berarti adalah apa yang terjadi pada kita belum tentu akan terjadi pada anak atau keturunan kita."
"Semua memiliki takdir dan cerita sendiri."
"Tak ada yang sama kisah kita pada orang lain."
"Saoda mungkin saja merupakan sosok jadi-jadian tapi itu belum tentu juga turun kepada Raina!!!"
"Tapi di sini kita hanya berusaha untuk mencegah!!!" potong puang Edi yang belum mengalah juga.
"Lalu apa yang ingin engkau lakukan puang kepada Raina? Hah? Menyiramnya dengan minyak tanah lalu membakarnya secara hidup-hidup?!!"
"Apakah tidak ada perbuatan keji selain itu?"
"Dia juga mahluk hidup, dia juga bisa merasakan rasa sakit."
"Kalian sudah melukai hati dan kehidupannya tapi anda juga ingin melukai tubuhnya dengan cara membakarnya?!!"
"Apa kalian semua tidak memikirkan apa yang akan dia rasakan?!!"
"Apakah kalian sudah gila atau pikiran kalian sudah tidak mampu lagi berfungsi dengan baik?"
"Terbuat dari apa hati kalian? Apa hati kalian terbuat dari batu hingga tak memiliki rasa belas kasihan?"
"Atau hati kalian semua telah membeku dengan sindirnya?"
"Jangan pikirkan tentang diri kalian sendiri tapi pikirkan juga perasaan orang lain."
"Sekarang kalian ambil api dan letakkan jari telunjuk kalian di atas api kecil itu selama semenit. Apa yang kalian rasakan?!!"
"Apa kalian semua tidak merasakan kesakitan, lalu bagaimana jika kalian membakarnya?!!"
"Dimana hati nurani kalian?"
"Dimana?!!" teriak puang Tuo.
Puang Tuo kini menghela nafas panjang. Tenggorokannya seakan telah mengering setelah berteriak panjang lebar.
"Kalian boleh saja membakarnya tapi coba banyangkan jika Raina, gadis yang ingin kalian bakar adalah salah satu anggota keluarga kalian!"
__ADS_1
"Bayangkan jika Raina adalah anak kita, bayangkan!!! Bagaimana perasaan kalian semua jika anak kalian dibakar hidup-hidup sampai ia menjemput ajalnya sendiri!!!"
"Apakah kalian tidak kasihan?!!"
Suara teriakan dari puang Tuo berhasil membuat semua orang kini mebdadak bungkam seribu bahasa. Tak ada lagi yang bicara setelah suara puang Tuo mendominasi.
Sementara di tempat yang sama kini puang Edi yang awalnya banyak bicara kini hanya mampu terdiam seakan penjelasan puang Tuo itu telah merasuk pikirannya.
Apa yang telah disampaikan oleh puang Tuo semuanya benar dan tak ada kalimat bantahan lagi.
"Sekarang apa yang kalian tunggu?!! Pulang lah saudara-saudara, pulan!!"
"Pulang!!!" teriak puang Tuo membuat semua para warga kini saling berbisik dan bertatapan seakan sedang saling bertanya.
"Apa yang kalian tunggu?!!"
"Cepat pergi dan lupakan apa yang telah terjadi malam ini!!!" teriak puang Tuo yang kesekian kalinya membuat satu persatu dari mereka melangkah pergi meninggalkan puang Tuo yang kini terlihat ngos-ngosan setelah berteriak cukup keras.
Puang Tuo kini menoleh menatap Erni yang kini terlihat ikut menangis menatap sosok Raina yang masih memangku kepala Saoda yang terlihat bersimpah darah walaupun telah diguyur oleh derasnya hujan.
Puang Tuo melangkah mendekati Erni, menyentuh bahunya dengan pelan membuat Erni menoleh.
"Tidak apa-apa."
"Apa, kah Indo Saoda akan mati?"
Puang Tuo tertunduk sejenak lalu ia menghela nafas panjang.
"Setiap Parakang yang telah mendapat satu pukulan dari sapu lidi tidak akan bisa hidup lagi."
"Tidak, Nak. Tuhan yang maha agung telah menetapkan takdir seseorang. Kematian hanya Tuhan yang mengetahuinya dan koya hanya bisa menanti kapan kematian itu akan datang."
"Semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian hanya saja kita hanya tinggal menuggu waktu. Bagaimana dan kapan kita mati sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu," jelasnya.
"Tapi apakah kejadian ini akan membuat Raina marah kepada Erni karena Erni yang tak bisa membantunya dan malah menghalanginya."
"Nak, yang telah kalau lakukan sudah tepat. Raina juga tidak boleh lupa jika Saoda yang berubah menjadi sosok Parakang itu nyaris menjadikan kau sebagai mangsa terakhirnya."
"Raina tidak boleh lupa jika kau hampir mati karena Parakang itu. Parakang itu mengincar kau, Nak."
"Kau juga tidak boleh hanya memikirkan seseorang dan lupa pada diri kau sendiri."
"Kau terlalu memikirkan perasaan Raina sampai lupa dengan diri kau sendiri."
"Kau mengerti, kan, Nak?" tanya puang Tuo membuat Erni kini mengangguk.
Raina mengusap wajah berdarah itu menggunakan tangan kananya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
"Rain-Raina."
Suara itu terdengar samar-samar di indra pendengarannya namun masih bisa ia dengar. Itu adalah suara Saoda.
__ADS_1
"Indo!!!" teriak Raina.
"Raina!" panggil Saoda lagi dengan nada suara yang terputus-putus.
Puang Tuo dan Erni yang melihat hal tersebut langsung saling bertatapan dan berlari menghampiri Raina dan Saoda.
"Raina!"
"Iya, Indo. Raina ada di sini," ujar Raina cepat sambil mengusap pipi Saoda yang penuh darah. Darah itu tak kunjung berhenti, mengalir seperti aliran air.
Saoda menggerakkan tangannya yang penuh darah itu ke atas dengan susah payah membuat Raina dengan cepat meraihnya dan menggenggamnya dengan erat.
"Raina," rintihnya.
"Iya, Indo."
"Ma-maafkan kesalahan, I-i-indo."
Raina mengangguk dengan bibirnya yang ia gigit berusaha untuk menahan tangisannya.
"Indo, te-te-telah berbuat banyak kesa-lahan yang ba-ba-nyak."
"Ka-ka-karena keegoisan Indo. Indo me-rusak semuanya, ta-tapi ini semua perlu ka-kau tahu, Nak."
"Di balik ini se-semua ada alasan mengapa a-aku seperti ini. Indo ti-tidak akan seperti ini jika ti-tidak ada yang menyebabkannya."
Raina mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan apa yang Saoda katakan.
"Apa maksud Indo?"
"Se-sebelum aku memutuskan menjadi Pa-pa-parakang ada hal yang menjadi alasan."
"A-a-alasan mengapa aku memutuskan untuk menjadi mahluk jadi-jadian, Nak."
"Sejujurnya ini bukanlah kemauan Indo, tapi ra-rasa amarah yang membawa Indo sampai melakukannya."
"Apa itu, Indo?"
"Bukan hanya Indo yang mengetahui kisah ini, ta-tapi Pu-pu-puang Tuo juga tahu mengenai kisah di masa lalu itu."
"Masa lalu?"
"Ya, Nak," sahut puang Tuo membuat Raina dan Erni menoleh.
"Kisah masa lalu yang pernah terjadi dimana kekejaman terjadi di desa ini yang berhasil terjadi."
"Kekejaman apa yang terjadi, puang?"
"Kisahnya cukup panjang, Nak. Aku tak tahu harus menceritakannya dari mana."
"Ceritakan kisahnya, puang. Aku siap mendengarnya."
__ADS_1
Puang Tuo kini menghela nafas panjang. Ia terdiam sejenak lalu menatap sosok Saoda yang kedua matanya terpejam, tapi puang Tuo yakin jika Saoda masih hidup.
"Kisah ini di mulai 70 tahun yang lalu...."