
Saoda meremas perutnya itu dengan keras. Ia ingin berteriak dengan keras akan tetapi, ia malu untuk melakukannya di depan Puang Banga yang kini sedang menatapnya.
Harus apa ia sekarang.
"Kau kenapa, Nak?"
Saoda mendongak menatap Puang Banga yang kini sedang menatapnya. Puang Banga ingin mendekatinya, tapi ia sungkan untuk melakukannya sehingga ia hanya tetap berdiri di sana sembari terus menatap ke arah Saoda.
Saoda hanya menggeleng. Ia tak ingin Puang Banga mengetahui masalah ini hingga tak berselang lama helaan nafas dari Puang Banga terdengar.
"Aku tahu apa masalah yang sedang kau hadapi, Nak, jadi jangan menyembuyikan nya dariku. Aku tahu semuanya."
Saoda mengusap pipinya yang basah itu lalu mendongak menatap Puang Banga yang sedang menatapnya.
"Kau tak perlu khawatir!"
Puang Banga menghentikan ujarnya dan kemudian memejamkan kedua matanya serta mengendus seakan berusaha untuk mencium bau sesuatu hingga tak berselang lama ia kembali membuka kedua matanya.
Saoda hanya namu terdiam menatap apa yang puang Banga lakukan.
"Kau tidak perlu khawatir! Aku telah menghirup aroma janin yang kau kandung itu adalah anak dari Tuo, bukan lah anak dari mereka semua, orang yang tidak kau inginkan."
Mendengar penjelasan tersebut membuat Saoda dengan cepat bangkit dari rerumputan. Memasang wajah yang begitu serius.
"Apa Puang serius?"
"Yah, Nak. Kau harus percaya kepada aku! Tebakan dan ramalan aku tidak akan pernah salah."
"Lalu bagaimana sekarang, Puang?"
"Nak, kau harus dengar ini! Menjadi Parakang bukanlah hal yang mudah, tapi ini adalah sesuatu ritual yang cukup pajang dan bukan merupakan sebuah bahan permainan."
"Jika kau benar-benar serius ingin menjadi Parakang maka kau harus mematuhi peraturan yang ada, tapi kau telah melanggar peraturan itu sebelum waktu aku memberitahu peraturan itu kepada kau."
Saoda menatap kebingungan. Saoda tak mengerti dengan apa yang Puang Banga katakan.
"Apa yang telah aku lakukan puang? Apa yang telah aku langgar? Aku tidak melakukan apa pun."
"Kau sedang mengandung. Di dalam ritual ini pantang hukumnya jika orang tersebut sedang mengandung."
"Walau pun kau telah melakukannya dengan baik maka tetap saja ritual itu tidak akan sah dan itu hanya menjadi sebuah hal yang sia-sia. Kau tak akan menjadi Parakang."
__ADS_1
"Lalu jika ritual itu tidak sah lalu aku tidak bisa menjadi Parakang?"
"Ya, Nak," jawab Puang Banga sambil mengangguk.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, puang?"
"Kau boleh saja mengubah ritual yang akan kau jalani nantinya menjadi sah hanya saja kau hanya perlu melakukan satu hal dab setelah kau melakukan ritual ini maka kau akan sah menjadi Parakang."
Mendengar hal itu membuat Saoda langsung melangkah mendekati Puang Banga.
"Lalu apa yang harus aku lakukan puang?"
"Hanya ada satu cara."
"Apa itu?"
"Kau harus menggugurkan janin yang kau kandung itu."
Kedua mata Saoda langsung membulat kaget seakan ia tak menyangka jika cara yang harus ia lakukan adalah mengugurkan kandungannya.
Apa ini baik? Ia tak mungkin mengugurkan anak dari Tuo hanya demi membalaskan dendamnya itu kepada musuh-musuhnya.
Saoda ingin membalaskan dendamnya, tapi bukan berarti dia harus tega melakukan tindakan keji ini.
Saoda menoleh menatap Puang Banga yang kini kembali menatapnya.
"Apa keputusan yang kau ambil?"
Saoda diam. Ia tak punya jawaban untuk pertanyaan ini.
"Kau boleh memikirkannya, Nak! Semua keputusan kini telah aku serahkan kepada kau. Sisa kau yang hanya perlu memberitahukannya kepada aku."
"Aku tidak akan menjadikannya sebagai masalah jika hal itu telah menjadi keputusan bagi kau."
Cukup lama Saoda diam kini ia mulai membuka bibirnya untuk mulai bicara.
"Puang mungkin aku minta maaf."
"Jujur saja aku ingin membalaskan denganku itu kepada mereka semua, tapi sepertinya dengan cara mengugurkan kandungan ini bukanlah hal yang mudah."
"Ini adalah calon anak yang nantinya akan membuat Tuo merasa bahagia."
__ADS_1
"Anak ini nantinya akan menjadi harapan dan kebahagiaan untuk Tuo. Aku tak mungkin merusak kebahagiaan itu dengan cara mengugurkan kandungan ini."
"Lalu apa keputusan yang kau ambil?"
Saoda diam sejenak.
"Aku ingin melahirkan janin yang berada di dalam kandunganku."
"Aku ingin kalau anak ini juga hidup. Aku ingin jika anak ini akan menjadi hadiah yang indah untuk Tuo," jelasnya membuat Puang Banga yang kini mengangguk.
"Baiklah, Nak jika itu keputusan kau. Aku menerima keputusan yang telah kau ambil. Aku tidak matahari karena keputusan kau ini, tapi kau harus ingat, jika kau ingin menjadi Parakang maka jangan takut untuk datang kembali ke hutan belantara ini."
"Kau hanya perlu mencari pohon ini kembali dan menyebut nama ku sebanyak tiga kali maka jalanan ini akan kembali muncul."
"Jika kau telah menemukan jalanan ini maka ikuti lah jalan lurus ini dan dan kau akan menemukan rumahku."
Saoda hanya mengangguk.
"Baiklah, Puang. Kalau aku telah melahirkan anak ini maka aku akan kembali untuk memenuhi balas dendamku."
Puang Banga tersenyum.
"Pergi lah! Kembali ke rumah kau sebelum suami kau terbangun dari tidurnya."
Saoda mengangguk. Baru saja ia ingin berbalik badan puang Banga telah melangkah mundur dengan langkah yang penuh hati-hati dan menjauh memasuki area jalanan panjang yang begitu gelap seakan menenggelamkan tubuhnya di dalam hutan itu.
Saoda hanya bisa diam menatap kepergian Puang Banga hingga tak berselang lama kedua mata Saoda terbelalak kaget setelah suara gemuruh dan getaran itu terdengar dari tanah yang Saoda pinjak..
Saoda sempat menunduk menatap tanah yang Saoda pinjak hingga ia kembali menatap menatap pepohonan yang kembali bergeser dan menutupi jalanan.
Saoda menoleh ke segala arah mencari sosok Puang Banga yang tak kunjung ia lihat.
Saida menghela nafas panjang. Tiba-tiba
saja suasana kini menjadi sunyi seperti apa yang telah terjadi kepadanya sebelum ia bertemu dengan puang Banga.
Suara sayap-sayap burung yang mengepak terdengar membuat Saoda mendongak menatap langit. Sepertinya burung-burung yang telah berterbangan itu telah kembali pada sayangnya masing-masing.
Suara jengkrik dan beberapa hewan lainnya juga kembali terdengar. Saoda baru sadar jika sejak tadi disaat sosok puang Banga ada di sini maka tidak ada suara hewan yang terdengar.
Saoda berbalik badan. Sudah cukup ia banyak berpikir tentang perubahan suasana alam itu.
__ADS_1
Saoda segera melangkah kan kakinya untuk pulang. Kali ini Saoda harus cepat pulang sebelum Tuo bangun dari tempat tidurnya dan telah mendapati dirinya yang sudah tidak ada di tempat tidur.